Masyayikh Tarekat (5): Abu Yazid al-Busthami (W. 264 H./877 M.)

Masyayikh Tarekat (5) Abu Yazid al-Busthami (w. 264 H.877 M.)

Abu Yazid al-Busthami Abu Yazid al-Busthami Abu Yazid al-Busthami Abu Yazid al-Busthami Abu Yazid al-Busthami

Baca: Pengantar Sejarah Ringkas Masyaikh Tarekat Naqsyabandi

Baca Juga Sebelumnya: Masyayikh Tarekat (4): Imam Ja’far ash-Shadiq (W. 148 H./765 M.)


Abu Yazid al-Busthami (w. 264 H./877 M.)

Beliau adalah salah satu penerus tarekat Imam Ja’far ash-Shadiq yang dipercayai dengan metode barzakhi, dari dua jalur tarekat: tarekat Sayyiduna Abu Bakar menjadi Naqsyabandiyah dan tarekat Imam Ali cabang sanad Syathariyah.

Al-Munawi dalam al-Kawakibud Durriyyah menyebut Abu Yazid sebagai “yang paling terkenal di antara yang disebut, yang paling ma’rifat di antara orang-orang yang berma’rifat, beliau adalah nadiratu zamanih, dalam hal ahwal, anfas, kewira’ian, ilmu, zuhud, takwa, dan keintiman kepada Allah. Nahik dengan mengutip al-Khawafi, menyebutnya sebagai Sulthanul `Arifin (Raja Orang-orang Arif), dan Ibnu `Arabi menamainya dengan Abu Yazid al-Akbar.”

Faridhudin al-Athar dalam Tadzkiratul Auliya’, menyebut namanya sebagai Abu Yazid Thaifur bin `Isa bin Surusyan al-Bisthami. Menurut versi Abdurrahman Jami dalam Nafahat al-Uns, beliau lahir di Bistham, tahun 188 H. (808 M.). Daerah Bistham, menurut Muhammad Ahmad Darniqah dalam ath-Thariqah an-Naqsyabandiyah wa A’lamuha, masuk wilayah Khurasan. Ayahnya seorang pedagang terpandang, dan kakeknya penganut Zoroastrian yang masuk Islam; tetapi dalam versi Abdurrahman Jami dalam Nafahat al-Uns, agama kakeknya disebut Yahudi dan kemudian masuk Islam. Abdurrahman Jami, menyebutkan, awalnya Abu Yazid adalah ahli jadal, sampai dia dianugerahi kewalian, dan iapun tidak mau menampakkan keahlian debat itu lagi.

Riwayat yang menceritakan kekeramatan Abu Yazid, disebut Fariduddin al-Athar di antaranya: ketika masih kecil, ibunya memasukkan makanan yang syubhat ke mulut Abu Yazid, dan sang bayi selalu meronta, menangis, tidak mau diam sampai makanan itu dikeluarkan. Sejak kecil oleh ibunya disuruh belajar di sekolah al-Qur’an. Beliau berkhidmah dan melayani keperluan ibunya, dan kemudian berkelana selama 30 tahun dari satu daerah ke daerah lain. Tidak kurang dari 113 pembimbing spiritual telah ditemuinya.

Cerita pertemuan antara Abu Yazid al-Bisthami dan gurunya yang bernama Ash-Shadiq dituturkan oleh Tadzkiratul Auliya’: Ash-Shadiq mengatakan kepada Abu Yazid yang sedang duduk: “Abu Yazid ambilkan buku dalam jendela.” Abu Yazid menyahut: “Jendela yang mana?” Imam Ja’far ash-Shadiq berkata: “Selama ini engkau selalu datang ke sini, dan engkau tidak pernah melihat jendela itu?” Abu Yazid berkata: “Tidak pernah guru. Apa urusanku dengan jendela, ketika aku ada di hadapanmu, aku menutup mataku dari hal-hal lain, aku datang kepadamu bukan untuk melihat-lihat.” Ash-Shadiq kemudian berkata: “Kalau begitu, pulanglah ke Bistham, karena usahamu telah sempurna.”

Dalam cerita itu ada pertemuan dialog antara Ash-Shadiq dan Imam Abu Yazid. Apakah ash-Shadiq di sini sebagai Imam Ja’far ash-Shadiq, tidak diberi keterangan oleh Fariduddin al-Athar. Akan tetapi semua biografi sufi tentang Abu Yazid tidak menceritakan angka lahirnya kecuali Jami yang menyebut angka tahun lahirnya 188 H. (808 M.), dan terjadi jarak yang tidak mungkin, karena Imam Ja’far ash-Shadiq telah wafat sekitar tahun 148 H. (765 M.).

Musykilat ini, kadang dibaca dalam silsilah sanad tarekat Imam Ja’far kepada Imam Abu Yazid, oleh sebagian orang yang tidak memahami ilmu tarekat, sebagai yang tidak mungkin. Musykilat itu, bisa dikompromikan dengan dua cara: tahun-tahun yang menceritakan Abu Yazid ada yang perlu dikoreksi, tetapi untuk hal ini kecil bisa diterima, mengingat sejumlah biografi telah menyebutkan tahun wafat dan lahirnya, dan terpaut jarak yang agak jauh dengan Imam Ja’far ash-Shadiq; dan kedua, Abu Yazid dan Imam Ja’far bertemu secara uwaisy atau barzakhi, yang biasa terjadi dalam bimbingan sebagian para mahaguru sufi, dan hal ini yang bisa dipercayai. Hubungan barzakhi ini, dikemukakan juga oleh Martin van Bruinessen dalam buku Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia.

Abu Yazid juga diceritakan dalam Tadzkiratul Auliya’, pernah naik haji dalam perjalanan, memakan waktu sampai selama 12 tahun karena di setiap tempat rumah ibadah yang ditemui, dia selala membentangkan sajadahnya dan mendirikan salat  dua rakaat. Setelah sampai mengunjungi kota Madinah, ia mendapatkan perintah untuk ke Bistham, agar merawat ibunya, dan pada saat itu dia sudah diikuti oleh banyak murid.

Disiplin tasawufnya dipuji oleh banyak mahaguru. Pencapaian tasawuf Imam Abu Yazid al-Bisthami, diakui Imam Junaid al-Baghdadi, sebagaimana dituturkan al-Hujwiri dalam Kasyful Mahjub, begini: “Abu Yazid di antara kita berada pada tingkat yang sama seperti Jibril di antara para malaikat.” Selain keramat-keramatnya, kitab-kitab thobaqot sufi juga menceritakan mi’rajnya Abu Yazid, dan di antara kita yang membahas dan menceritakan mi’rajnya Abu Yazid adalah yang ditulis Abu Thalib al-Makki dalam Ilmul Qulub.

Perkataan-perkataan Imam Abu Yazid dikutip para ulama sufi dan dijadikan pegangan, yang saya kutip dari al-Munawi dalam al-Kawakibud Durriyyah dan Abdul Wahab asy-Sya’roni dalam ath-Thabaqatul Kubra, di antaranya:

“Selama seorang hamba menyangka tentang kaum muslimin bahwa mereka lebih jelek dari dirinya, maka dia seorang yang sombong.” Dia kemudian ditanya seseorang, kapan seseorang bisa menjadi khudhu’?” Abu Yazid menjawab: “Apabila dia tidak melihat dirinya memiliki maqam dan hal, dan tidak melihat dalam ciptaan (Allah) lebih jelek dari dirinya.”

“Di antara yang paling dahsyat menyebabkan para mahjubun dari Allah, ada tiga: seorang zahid dengan kezuhudannya, seorang Abid dengan ibadahnya, dan seorang Alim dengan ilmunya. Seorang zahid itu walaupun mengetahui dunia seluruhnya, Allah menanamkannya kecil apa yang dilakukan dengan kezuhudan di dunia itu. Seorang alim itu miskin, walau mengetahui semua apa-apa yang diberikan dari ilmu semuanya, itu hanyalah sebagian dari syathar wahid dari Lauh Mahfuzh, apa-apa yang terlihat karena ilmunya itu.” Dan Abu Yazid berkata: “Berbahagialah, orang yang memiliki himmah yang tunggal, dan tidak sibuk hatinya dengan apa-apa yang terlihat oleh pandangannya, dan apa yang didengarkan oleh telinganya.”

“Suatu malam aku menjulurkan kakiku di mihrab tempat sajadahku. Ketika itu ada suara misterius yang mengatakan: “Orang yang bergaul dengan para raja, maka sebaiknya dia bergaul dengan etika yang baik.”

“Perselisihan para ulama adalah rahmat, kecuali dalam masalah permurnian tauhid. Aku telah bermujahadah selama 30 tahun dan selama kurun waktu itu aku tidak pernah menemukan hal yang lebih berat bagi seorang hamba melebihi ilmu dan mengamalkannya.”

“Allah telah melepaskan beberapa kenikmatan dari hambanya agar dengan kenikmatan-kenikmatan (yang dikurangi) itu mereka kembali kepada Allah. Tapi anehnya mereka menyibukkan diri dengan kenikmatan-kenikmatan itu tanpa peduli lagi dengan Allah.”

“Aku melihat Allah dalam mimpiku, aku lalu bertanya kepadanya: Ya Tuhan, bagaimana saya dapat bertemu dengan-Mu.” Allah menjawab pertanyaanku itu dan mengatakan: Berpisahlah dengan nafsumu dan kemarilah menemui-Ku.”

Sebelum wafat, Abu Yazid ketika ajal akan diambil, Abdurrahman Jami dalam Nafahat al-Uns mengutip pernyataan Abu Yazid begini: “Tuhanku aku tidak mengingat-Mu kecuali kelalaian, dan aku tidak berkhidmat melayanimu kecuali sejenak.” Jami juga menambahkan: “Guru Abu Yazid al-Bisthami itu beretnis Kurdi, dan Abu Yazid berpesan: “Kebumikan aku di kaki guruku, demi kehormatan sang guru.” Akan tetapi Jami tidak menyebutkan nama guru yang dimaksudkan itu.

Menurut Jami dalam Nafahat al-Uns, Abu Yazid wafat di Bistham, pada tahun 261 H. (874) atau 234 H., yang sekarang masuk wilayah Simnan-Iran. N. Hanif dalam Bhiografical Encyclopaedia of Sufis Central Asia & Middle East (2002), menyebut Abu Yazid wafat tahun 820 M; Abdul Wahab asy-Sya’roni dalam Ath-Thabaqatul Kubra menyebut wafatnya tahun 261 H. (874 M.); sementara Fariduddin Athar mencatat tahun 261 H. (874) atau 264 H. (M. 877).

Setelah beliau wafat tarekat Imam Abu Yazid dinisbahkan kepada murid-muridnya dalam dua cabang penting:

Pertama, cabang yang menurunkan tarekat Naqsyabandiyah melalui muridnya yang terkenal bernama Syekh Abul Hasan al-Kharaqani (w. 425 H./1034 M.), dan mengambil silsilah guru sanad tarekat Abu Yazid sampai kepada Sayyiduna Abu Bakar, yang juga dipercayai secara barzakhi.

Kedua, cabang murid yang nantinya menurunkan tarekat Syathariyah, melalui murid Abu Yazid yang bernama Muhammad al-Maghrabi, dan mengambil silsilah sanad guru tarekat Abu Yazid sampai kepada Imam Ali.

Setelah Abu Yazid wafat, Abdurrahman Jami mengutip kisah tentang munculnya Abu Yazid dalam mimpi seseorang, dan dia ditanya: “Apa yang Allah lakukan terhadap Anda? Abu Yazid berkisah menjawab: “Aku ditanya, hai syekh apa yang engkau bawa itu?” Akupun berkata: “Jika datang seorang fakir di pintu Sang Raja, Dia tidak akan mengatakan kepadanya: “Apa yang kamu bawa?” tetapi Dia berkata: “Apa yang engkau inginkan?”

Di kalangan sufi, beberapa pernyataan yang dinisbahkan kepada Abu Yazid setelah wafat, ada yang dhahir menimbulkan kerumitan, dan ditanggapi oleh beberapa sufi, paling tidak ada dua:

Pertama, dikemukakan Abdurrahman Jami dengan mengutip Syekhul Islam (Abu Ismail Abdullah bin Muhammad al-Anshari al-Harawi) bahwa pernyataannya itu dilihat sebagai “banyak orang berdusta menisbahkan hikayat dan aforisme sufi kepada Abu Yazid. Di antaranya (yang berdusta itu) adalah: “Aku pergi, lalu aku berdirikan kemah di kedekatan Arsy”;

Kedua, dikemukakan Syekh Abdul Wahab asy-Sya’rani dalam ath-Thabaqat al-Kubra dengan mengutip Abu Ali al-Juzajani, ketika ditanya tentang beberapa kalimat yang diriwayatkan dari Abu Yazid (yang menimbulkan kerumitan), Abu Ali al-Juzajani mengatakan: “Semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Yazid. Kita menyerahkan sepenuhnya apa yang dikatakannya itu kepada Abu Yazid sendiri. Mungkin saja dia mengatakan semacam itu ketika dalam keadaan sukur cinta kepada Allah, atau dalam kondisi tertekan. Siapa saja yang ingin meningkat ke maqam seperti maqam yang dicapai Abu Yazid, hendaknya ia melakukan mujahadah diri seperti yang dilakukan Abu Yazid. Saat itulah akan bisa dipahami apa yang dikatakan Abu Yazid.” [Nur Khalik Ridwan]


Baca Selanjutnya: Masyayikh Tarekat (#6):

Nur Kholik Ridwan
Nur Kholik Ridwan 6 Articles
Intelektual muda pesantren kelahiran Banyuwangi. Pengarang Buku Sejarah Lengkap Wahhabi: Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliah, dan Pergulatannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*