Masyayikh Tarekat (6): Abul Hasan al-Harqani (w. 425 H./1033)

Masyayikh Tarekat (6) Abul Hasan al-Harqani (w. 425 H.1033)

Abul Hasan al-Harqani

Baca: Pengantar Sejarah Ringkas Masyaikh Tarekat Naqsyabandi

Baca Juga Sebelumnya: Masyayikh Tarekat (5): Abu Yazid al-Busthami (W. 264 H./877 M.)


Abul Hasan al-Harqani (W. 425 H./1033)

Penyebaran tarekat Sayyiduna Abu Bakar, setelah dari Bistham-Khurasan menyebar ke Harqan. Nama murid yang menyebarkan adalah Abul Hasan al-Harqani, kadang ditulis dengan nama Ali bin Ja’far al-Harqani dan kadang ada yang menulis `Ali bin Ahmad bin Ja’far al-Harqani. Wilayah Harqani disebut N Hanif dalam Biographical Encyclopaedia of Sufis Central Asia & Middle East (2002: 234) begini: “The nisba refers to the village of Kharakan situated in the mountains to the north of Bistam on the road to Astarabad (modern Gurgan).”

Abul Hasan al-Harqani dilahirkan pada tahun 352 H. (963 M.) di Harqani. Angka tahun lahirnya ini terpaut agak jauh dengan tahun kewafatan mahaguru Abu Yazid al-Bisthami, pada tahun 264 H. (877 M.), sekitar 86 tahun. Karena itu, penurunan tarekat Abu Yazid kepada Abul Hasan al-Harqani, dipercayai melalui barzakhi, suatu yang biasa terjadi dilakukan sebagian guru besar sufi. Muhammad Ahmad Darniqah dalam ath-Thariqah an-Naqsyabandiyah wa A’lamuha menyebut namanya dengan Ali bin Ja’far al-Harqani, dan sebagian penulis sufi menukil keramat-keramatnya yang cukup banyak.

Abdurrahman Jami dalam Nafahat al-Uns, memasukkan Imam Abul Hasan al-Harqani, termasuk imam sufi melalui jalan Uwaisy pada awal memasuki tasawuf. Jami mengatakan: “Memang pada permulaan iradah mereka, kebanyakan para mahaguru sufi mengalami maqam ini (maqam dibimbing melalui jalan Uwaisyi (melalui pertemuan ruhani). Syeh Abul Qasim al-Jurjani ath-Thusi, semoga Allah mensucikan ruhnya, misalnya (mengalami maqam ini). Silsilah besar Abul Janab Syekh Najmudin (al-Kubra), terhubung tiga perantara dengan Abul Qasim ini. Begitu juga Syekh Abul Hasan al-Harqani, dan Syekh Abu Said bin Abil Khair. Pada permulaan keadaan mereka, keduanya semuanya menyebut: “Uwaisyuwaisy.”

Muhammad Ahmad Darniqah menyebutkan cerita kekeramatan Abul Hasan al-Harqani begini:

“Para guru Naqsyabandiyah menyebutkan bahwa Sultan Mahmud al-Ghazi Ibnu Sabaktakin mengunjungi Syekh suatu kali, dan bertanya pendapatnya tentang Abu Yazid al-Busthami?” Syekh Abul Hasan kemudian menjawab: “Sesungguhnya siapa yang mengikuti Abu Yazid, dia akan mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang bersambung dengannya, dia akan memperoleh kebahagiaan yang agung.”

“Sultan Mahmud kemudian berkata: “Bagaimana mungkin itu terjadi, padahal Abu Jahal telah melihat Nabi, dan dia tidak bersih dari syaqawah (bersedih)?” Syekh Abul Hasan al-Harqani menjawab: “Sesungguhnya Abu Jahal melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, tetapi dia hanya melihat Nabi Muhammad sebagai anaknya `Abdullah. Seandainya dia melihat (pada sisi) Rasullulah, sungguh akan keluar kesedihan menuju kebahagiaan, dan hal itu dibenarkan oleh ayat al-Qur’an (QS. Al-A’raf [7]: 198): “Jika kamu menyeru berhala-berhala itu untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya, dan kamu melihat berhala-berhala itu memandangimu padahal dia tidak bisa melihat.” Penglihatan dengan mata kepala tidak dapat mendatangkan sa`adah, sebaliknya kebahagiaan dapat diraih dengan mata hati dan sirr.”

Di antara beberapa perkataan dan nasihat Abul Hasan al-Harqani, yang dikutip Muhammad Ahmad Darniqah dalam ath-Thariqah an-Naqsyabandiyah wa A’lamuha, yaitu:

“Aku bukanlah rahib, aku bukan ahli kalam, aku bukan sufi. Wahai Robb, engkau Wahid, dan aku berada dalam ahadiyah-Mu yang Wahid.”

“Sesungguhnya Allah menyukai para bakka’un (orang yang suka menangis karena Allah).”

“Ulama dan para ahli ibadah di dunia ini banyak, tetapi tidak akan memberi faedah kepadamu, kecuali engkau pada waktu pagi sampai sore sibuk mencari rida Allah, dan dari sore sampai pagi engkau beramal untuk dapat menerima-Nya (menerima ketentuan-Nya).”

Selain disebut Muhammad Ahmad Darniqah dalam ath-Thariqah an-Naqsyabandiyah wa A’lamuha, biografinya juga ditulis N. Hanif dalam Biographical Encyclopaedia of Sufis Central Asia & Middle East (2002: 234); dan dalam bahasa urdu berjudul Tazkiratul Qutub-e-Alam Hazrat Khawajah Abul Hasan Kharqani (Muhammad Nashir Ranjha, 2005). Di antara karyanya dihimpun dalam Nurul Ulum min Kalami Syekh Abil Hasan al-Karaqani (dalam bahasa Persia).

Meski N. Hanif tidak menyebut angka tahun lahir tokoh ini, tetapi menyebut Abul Hasan al-Harqani wafat pada tahun 425 H. (1033) di Harqan pada umur 73. Sementara kalau memakai rujukan tahun lahirnya di atas, dan tahun wafat yang disebut N Hanif ini, umurnya kira-kira 70 tahun. Setelah Khawaja Abu Hasan al-Harqani wafat, tarekat Sayyiduna Abu Bakar melalui Abu Yazid al-Busthami dilanjutkan murid-muridnya, dan yang terkenal sampai bertahan pada silsilah Naqsyabandiyah adalah Khawaja Abu Ali al-Farmadzi (w. 477 M./1084 M.), seorang fakih dan salah seorang pembesar Syafi`iyah. [Nur Khalik Ridwan].


Baca Selanjutnya: Masyayikh Tarekat (7): Abu `Ali al-Farmadzi ath-Thusi (W. 477 H. /1084 M.)

Nur Kholik Ridwan
Nur Kholik Ridwan 10 Articles
Intelektual muda pesantren kelahiran Banyuwangi. Pengarang Buku Sejarah Lengkap Wahhabi: Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliah, dan Pergulatannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*