Masyayikh Tarekat (7): Abu `Ali al-Farmadzi ath-Thusi (W. 477 H. /1084 M.)

Masyayikh Tarekat (7) Abu `Ali al-Farmadzi ath-Thusi (W. 477 H. 1084 M.)

Abu `Ali al-Farmadzi ath-Thusi

Sebelumnya Baca: Pengantar Sejarah Ringkas Masyaikh Tarekat Naqsyabandi

Baca Juga: Masyayikh Tarekat (6): Abul Hasan al-Harqani (w. 425 H./1033)


Abu `Ali al-Farmadzi ath-Thusi (W. 477 H. /1084 M.)

Penurunan tarekat dari Abul Hasan al-Harqani kepada Syekh Abu `Ali al-Farmadzi dipercayai sebagai pertemuan langsung, secara fisik. Abu `Ali al-Farmadzi adalah mahaguru ke-7 dalam silsilah tarekat Sayyiduna Abu Bakar yang bertahan dalam periwayatan sanad tarekat Naqsyabandiyah di dunia Islam.

Biografi singkatnya disebut Tajudin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafiyah al-Kubra jilid V (hlm. 305-308), Yaqut al-Hamawi dalam Mu’jamul Buldan jilid IV (hlm. 304-306), dan as-Sam`ani dalam al-Ansab jilid IX (hlm. 218-219). Dalam tiga kitab ini semua isinya hampir sama, ketika membicarakan Abu Ali al-Farmadzi, tetapi dua kitab yang pertama mengutip as-Sam`ani, sehingga al-Ansab tampaknya yang dijadikan rujukan awal.

As-Sam`ani menyebutkan bahwa wilayah Farmadz itu salah satu di desa di Thus, dan yang termasyhur dinisbahkan dengan kota Farmadz adalah tokoh yang bernama Abu Ali al-Farmadzi. Abu Ali al-Farmadzi dilahirkan pada tahun 407 (1014 M.) dengan nama panjangnya adalah al-Fadhal bin Muhammad bin Ali asy-Syekh az-Zahid Abu `Ali al-Farmadzi. Angka tahun lahirnya Abu Ali al-Farmadzi ini, bila dibandingkan dengan tahun wafatnya sang guru, Syehk Abul Hasan al-Harqani pada tahun 425 H. (1033 M.), tampak semasa, terpaut sekitar 19 tahun. Karenanya bila catatan angka tahun lahir yang diberikan tiga kitab itu tentang tokoh ini memang benar, maka umurnya ketika sang guru wafat mencapai 19 tahun.

Tajuddin as-Subki, Yaqut, dan As-Sam`ani menyebutnya sebagai pembesar ilmuwan dari Thus dan pembesar madzhab Syafi’i. Beliau mendengar dan mengambil ilmu dari Abu Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Bakuwaih asy-Syirazi, Abu Manshur at-Tamimi, Abu Hamid al-Ghazali al-Kabir, Abu Abdurrahman an-Naili, Abu Utsman ash-Shabuni, dan selain mereka. Sementara murid-muridnya yang mengambil ilmu darinya di antaranya: `Abdul Ghafir al-Farisi, `Abdullah bin `Ali al-Harqusi, `Abdullah bin Muhamamd al-Kufi al-`Alawi, Abul Khair Jami`usy Syifa’, dan selain mereka.

Dengan mengutip `Abdul Ghafir beberapa kitab itu menceritakan bahwa Abu `Ali al-Farmadzi adalah Syekh pada masanya, seorang yang tekun menekuni tarikat dzikirnya, bagus adabnya, memiliki isyarat-isyarat yang lembut dan dalam, dan lafaz-lafaz perkataannya jelas, dan perkataan-perkataannya menyentuh hati. Beliau masuk kota Nisyabur dan belajar kepada Zainul Islam Abul Qasim al-Qusyairi, penyusun kitab Ar-Risalah dan belajar berbagai ilmu kepada Imam al-Qusyairi, sampai memperoleh cahaya-cahaya musyahadah. Setelah itu kembali ke Thus, dan menyambung silsilahnya kepada Abul Qasim al-Kurkani (dengan huruh Kaf) azzahid, duduk bersamanya, mengambil dzikir, sesuatu yang sebelumnya belum diambil.

Menurut versi beberapa kitab itu, Abu Ali al-Farmadzi bersambung dalam bidang tarekat, dengan syekh yang bernama Abul Qasim al-Kurkani az-Zahid (dengan kaf). Sementara dalam berbagai sanad tarekat namanya disebut Abul Hasan al-Harqani atau al-Horaqani (dengan Kha’). Mungkin ini hanya salah cetakan atau salah penishaban. Sementara penyebutan nama Abul Qasim al-Kurqani atau al-al-Harqani, bisa jadi karena anaknya Syekh al-Harqani itu juga ada yang bernama Qasim, sehingga dipanggil Abul Qasim. Hanya yang jelas, dalam silsilah tarekat Sayyiduna Abu Bakar beliau dipanggil dengan nama Abul Hasan al-Harqani.

Setelah memasuki tarekat Abul Hasan al-Harqani, Abu `Ali al-Farmadzi menjadi semakin masyuhur di zamannya, menjadi Syekh yang dikerumuni para murid. Beliau kemudian datang ke Nisyabur, membuat majelis ilmu, dan perkataan-perkataannya menyentuh hati. Mereka yang hadir dan berkhidmah kepadanya, banyak orang. Beliau menginfakan waktunya dan hartanya untuk kehidupan kaum sufi, baik yang datang dari jauh atau yang hendak berguru kepadanya. Dikenallah beliau dengan sebutan Lisanul Waqt, karena keajaiban-keajaiban dalam perkataannya yang menyentuh hati.

Tajuddin as-Subki dan Yaqut juga mengutip as-Sam`ani dalam al-Ansab, menyebutnya bahwa Abu `Ali al-Farmadzi adalah “lisannya orang-orang Khurasan dan menjadi syekhnya, dan orang yang memiliki thariqah yang baik, dalam mendidik murid dan para sahabat. Tajudin as-Subki sendiri menyebut beliau: “Beliau adalah sahabatnya Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali, dan sekumpulan para imam.”

Abu `Ali al-Farmadzi wafat tahun 477 H. (1084 M.) di desa Farmadz, pinggiran kota Thus, tidak jauh dari kota Mashad, di barat laut Iran. Setelah beliau wafat tarekat Abu `Ali al-Fadhal al-Farmadzi, yang diperoleh dari Syekh Abul Hasan al-Harqani, diteruskan oleh Khawaja Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani (w. 535 H./1140). Pada masa Syekh Abu `Ali al-Farmadzi, tarekat ini telah dikembangkan di Thus dan Nisyabur, tetapi beliau sendiri wafat tetap di Farmadh, pinggiran kota Thus. Setelah beliau tarekat ini, diteruskan oleh Abu Yaqub Yusuf al-Hamdani. [Nur Khalik Ridwan]


Selanjutnya Baca:

Nur Kholik Ridwan
Nur Kholik Ridwan 11 Articles
Intelektual muda pesantren kelahiran Banyuwangi. Pengarang Buku Sejarah Lengkap Wahhabi: Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliah, dan Pergulatannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*