Masyayikh Tarekat (8) Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani (W. 535 H./1141 M)

Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani (W. 535 H.1141 M)

Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani

Sebelumnya Baca: Pengantar Sejarah Ringkas Masyaikh Tarekat Naqsyabandi


Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani

Guru yang meneruskan tarekat Sayyiduna Abu Bakar, setelah Syekh Abu Ali al-Farmadzi adalah Syekh Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani. Beliau lahir di Iran Barat, yang menurut kitab ath-Thariqah an-Naqsyabandiyah wa A’lamuha , dilahirkan pada tahun 440 H. (1048 M.), di Hamadan. Al-Munawi dalam Thobaqat al-Munawi al-Kubra menyebut nama lengkapnya adalah Yusuf bin Ayyub bin Yusuf bin al-Husain al-Hamdani Abu Ya’qub, dan disebut sebagai salah satu wali besar, dan ahli dalam fikih Imam Syafi`i. Sejak masa Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani (w. 535/1140), para guru dalam tarekat Sayyiduna Abu Bakar ini, disebut Athar Abbas Rizvi dalam A History of Sufism in India dengan sebutan The Silsilah of Khawajagan.

Pada masa remaja, sekitar umur 18 tahun pergi ke Baghdad dan belajar fikih mazhab Syafii , belajar kepada Syekh Ibrahim bin Ali bin Fairuzabadi , ikut majelisnya Ibnu Ishaq asy-Syirazai , sampai memahami secara mendalam ilmu fikih dan ilmu-ilmu yang lain. Beliau mengambil ilmu pula dari orang-orang terpercaya di Baghdad, Ishfahan, Bukhara, Khawarizm, dan daerah-daerah di ma waro’a an-nahr. Wilayah ma waro’a an-nahr ini, adalah sebutan untuk Transoxiana , daerah di sekitar Oxus, nama kuno untuk sungai Amu Darya, juga berarti wilayah Asia Tengah di antara sungai Amu Darya dan Syir Darya, yang sekarang adalah Uzbekistan, sebagian Kazkhstan, Tajikistan, dan Turkemenistan .

Abu Yusuf al-Hamdani kemudian melakukan riyadhah, zuhud, dan banyak tirakat, menjadi murid dari Syekh Abu Ali al-Farmadzi di Baghdad, sampai memahami dan menjadi ahli hakikat, mengerti tentang irfan, dan ilmu batin. Setelah itu, Syekh Yusuf pergi ke Merwa.

Al-Munawi dalam Thobaqat al-Munawi al-Kubra menyebutnya memiliki banyak keramat, demikian pula Yusuf bin Ismail an- Nabhani dalam Jami Karamatil Auliya. Al-Munawi sangat ta’jub dengan guru ini , sampai dia mengatakan: “Kami memohon kepada Allah ditetapkan dalam iman dan Islam, berkat minah dan kemuliaan Syekh Yusuf bin Ayyub Hamdani. Amin.”

Di antara keramat Syekh Yusuf bin Ayyub Hamdani, disebutkan beberapa kitab itu, begini: tatkala Syekh Yusuf Hamdani berbicara di hadapan manusia, tiba-tiba berkata kepadanya dua orang ahli fikih di dalam majelisnya itu: “Diamlah , karena engkau seorang yang mengada-ada kan dalam agama ini (mubtadi ’).” Maka Syekh Yusuf berkata kepada kedua orang itu: “Diamlah engkau berdua,  tidak ada harapan, maka kedua orang itu wafat di tempatnya (saat itu).”

Di antara muridnya yang banyak, ada dua yang terkenal dan meneruskan dalam bidang tarekat, yaitu Syekh `Abdul Khaliq al-Ghuzdawani, yang menjadi mahaguru ke-9 dalam silsilah tarekat Naqsyabandiyah; dan Ahmad Yusuf Yasavi (Yasawi), yang menjadi silsilah Tarekat Yeseviah. Murid kedua ini , menurut Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Moderen (EODIM, I: 282 ), disebutkan: “ Berdasarkan riwayat, dia (Haji Bekhtas Veli, pemimpin agama dari Khurasan , pemimpi tarekat Bektasi /Bekatasiyah ) diutus oleh Ahmed Yesevi, seorang sufi termasyhur dari Turkistan barat, ke Anatolia.”

Ahmad Yasevi , dilahirkan di Turkistan, di Kota Sairam (EODIM, I: 200) pada tahun 1093 M dan wafat 1166 M di Turkestan. Selain seorang sufi , Yesevi juga seorang penyair , yang puisi -puisinya terkumpul dalam Divan-i- Hikmat ditulis dalam bahasa Turki Asia Tengah, sangat masyhur di kalangan masyarakat Uzbekistan dan Kazakhstan.

Syekh Yusuf Hamdani wafat pada tahun 535 H. (1141 M.) di Herat, tetapi dikebumikan di Merwa, dan silsilahnya banyak diambil pula oleh guru yang terkenal di Mesir. Pada masa Syekh Yusuf Hamdani, tarekat Sayyiduna Abu Bakar ini, telah berkembang sampai ke Herat (Afghanistan sekarang ), yang sebelumnya berada di pusatnya di Harqan, Bistham, dan sekitarnya di Iran-Persia. Di antara karya Syekh Yusuf al-Hamdani adalah Manazilus Salikin fith Tashawwuf.

Di antara beberapa muridnya, yang meneruskan tarekatnya, dan kemudian menjadi silsilah Naqsyabandiyah adalah Syekh `Abdul Khaliq al- Ghuzdawani. (Nur Khalik Ridwan)


Selanjutnya Baca:

Nur Kholik Ridwan
Nur Kholik Ridwan 10 Articles
Intelektual muda pesantren kelahiran Banyuwangi. Pengarang Buku Sejarah Lengkap Wahhabi: Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliah, dan Pergulatannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*