Mati Syahid karena Rindu Asmara

Mati Syahid karena Rindu Asmara
Ilustrasi/Dok.https://iranalyoum.com/

Mati Syahid karena Rindu Asmara

Para ulama menyebutkan bahwa mati syahid ada tiga: pertama, syahid dunia akhirat. Yaitu seorang yang gugur di medan perang atas nama agama, peperangan untuk tujuan menjunjung tinggi kalimat Allah yang mulia.

Kedua, syahid dunia. Yaitu seorang yang gugur di medan perang, secara zahiriah tujuannya adalah untuk menjalankan perintah agama demi menjunjung tinggi kalimat Allah yang mulia, namun niat hatinya adalah demi mendapatkan jarahan perang atau ghanimah.  Kedua syahid diatas tidak dimandikan dan tidak disalatkan, kewajiban kita terhadap mereka hanya mengafani dan menguburkan.

Syahid ketiga, syahid akhirat. Yaitu selain dua diatas. Artinya tidak gugur di medan perang, melainkan mati karena penderitaan di dunia. Sehingga orang ini diperlakukan seperti orang yang tidak syahid, artinya tetap wajib dimandikan, dikafani, disalatkan dan dikuburkan. Namun di akhirat akan mendapat pahala seperti pahala syahid.

Orang yang tergolong dalam syahid ketiga ini banyak sekali. Di antara sahid ini adalah: perempuan yang mati karena melahirkan, bahkan sekalipun hamil karena perzinaan, mati tenggelam, mati karena runtuhan bangunan, mati karena kebakaran, mati dalam masa menuntut ilmu, sekalipun matinya ketika diatas kasur dan juga yang tergolong syahid ini adalah mati karena rindu asmara.

Baca Juga: Kenangan Sangat Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli Bagian-1

Orang  yang mati karena rindu asmara, yaitu seorang yang terpikat dan tertarik hatinya kepada lawan jenis dan cinta yang bersangatan namun disembunyikannya di dalam hati tanpa diumbar, saking kuatnya ia tidak mampu menahan beban asmara ini sehingga meninggal dunia. Al-‘Isyq (العشق) adalah cinta yang menggebu dan berlebihan.

Imam Abu Hamid al-Ghazali ra. menyebutkan di dalam Ihya’nya:

والمحبة إذا تأكدت سميت عشقاً فلا معنى للعشق إلا محبة مؤكدة مفرطة

Jika cinta itu terlalu kuat maka itulah yang disebut dengan rindu asmara (العشق). Maka maknanya tiada lain adalah cinta yang begitu berlebihan. (Ihya’, 2/280)

Pada bab yang menjelaskan tentang hakikat faqir, Imam al-Ghazali juga menyebutkan:

ولو استغرقه العشق لغفل عن غير المعشوق ولم يلتفت إليه

“Di kala seseorang tenggelam dalam rindu, maka ia akan lupa segalanya. Tidak ada yang ingin ditatapnya selain kekasih yang Ia rindukan (Ihya’, 4/191)

Namun ada dua syarat, sehingga mati karena menahan rindu yang sangat menggebu dianggap syahid akhirat:

Pertamaal-‘Iffah; yaitu dia mampu menahan diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah. Maksudnya seandainya seseorang tersebut memilki kesempatan berduaan dengan kekasih yang didambakan dan dirindukan tersebut ia tidak akan melakukan tindakan yang dilarang Allah, meski hanya sebatas memandang.

Kedua, al-Kitman; yakni tidak mengumbar rasa cinta dan rindunya kepada orang lain, bahkan meski kepada kekasih yang sangat didambakan dan dirindukannya tersebut.

Rasulullah Saw bersabda:

من عشق فعفّ وكتم فمات مات شهيدا

“Siapa yang jatuh cinta asmara lalu menahan diri dan menyembunyikan perasaannya sehingga mati, maka dia mati dalam keadaan syahid”

Memang ada sebagian ulama yang menganggap daif hadis ini, seperti Syekh Ibnu al-Qoyyim- rahimahullahu – namun hal ini pendapat lemah. Bahkan Sayyid Ahmad bin Shidiq al-Ghumary – rahimahullahu- mengarang kitab khusus membantah pendapat Syekh Ibnu al-Qoyyim tersebut yang beliau namakan dengan “Dar’u adh-Dah’fi ‘An Hadisti Man ‘Asyiqa Fa’affa”, 20 fasal hanya berisi bantahan untuk Syekh Ibnu al-Qoyyim dan menguatkan tentang kevalidan kualitas hadis tersebut.

Orang yang mati karena menahan asmara dan rindu tersebut digolongkan kedalam syahid akhirat dikarenakan begitu beratnya dia menanggung beban rindu, terlebih-lebih karena dia menyembunyikan hal tersebut. Dan juga karena dia berusaha menjaga kesucian cintanya dengan tidak bermaksiat dan mengumbarnya kepadanya orang yang dicintainya. Beban batin yang ditanggungnya begitu berat, sehingga pantas dia mendapatkan balasan pahala syahid di akhirat.

Baca Juga: Buluh Perindu Surau Tanjung

Syekh Bakry bin Muhammad Syaththa dalam Hasyiah I’anah ath-Thalibin mengutip untaian syair:

كفى المحبين في الدنيا عذابهم * * تالله لا عذبتهم بعدها سقر
بل جنة الخلد مأواهم مزخرفة * * ينعمون بها حقا بما صبروا
فكيف لا، وهم حبوا وقد كتموا * * مع العفاف؟ بهذا يشهد الخبر
يأووا قصورا، وما وفوا منازلهم * * حتى يروا الله، في ذا جاءنا الأثر

“Sudah cukup di dunia siksaan bagi para pecinta (yang tak sampai). Demi Allah kelak di akhirat mereka tidak disiksa oleh panasnya api neraka.
Surga keabadian akan menjadi tempat bagi mereka, mereka akan dibalasi perhiasan, disuguhi kenikmatan oleh Allah sebagai balasan atas kesabaran mereka.
Bagaimana tidak, mereka cinta, namun merahasiakannya sembari menahan diri dari larangan-larangan Allah.
Mereka akan menetap di istana-istana surga, kebahagiaannya menjadi sempurna dengan bertemu Allah (Sang Kekasih Abadi).”
(I’anah ath-Thalibin, 2/212)

Maka siapa yang mencintai dan menahan cinta karena Allah, maka akan dikasihi oleh Allah. Dan sebaliknya, siapa yang mengumbar cinta dan menjadikan nafsu sebagai ikutannya, maka Allah tidak meridhainya.

Semoga Allah menjadikan kita para perindu karena Allah. Terlebih perindu Allah sendiri dan perindu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selamat merindu!

Wallahu A’lam


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Afriul Zikri
Afriul Zikri 9 Articles
Mahasiswa S1 Universitas Al-Azhar, Kairo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*