Memahami Paderi dalam Buku “Ayahku”

Akhirnya, saya terpaksa membuka buku “Ayahku” karangan Prof. Hamka, buku yang hampir tidak pernah saya buka dan baca semenjak saya menyelesaikan tesis pada 2014 silam (tesis saya tentang Haji Rasul yang tidak lain adalah ayah Prof. Hamka, ulama Kaum Muda, pionir Pembaharuan Islam di Indonesia). Kenapa saya kembali membuka buku ini? Karena kawan-kawan sebelah telah mengklaim Kaum Paderi sebagai penganut paham Wahhabi. Dan buku ini salah satu sumber utama klaim ini. Buku Ayahku telah beberapa kali saya khatam rentang waktu 2009-2014, bersama buku-buku Prof. Hamka lainnya, seperti “Dari Pembendaharaan Lama”, “Islam dan Adat Minangkabau”, “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao”, dan bahkan sebuah buku pembelaan beliau terhadap Kaum Muda dan kritikan terhadap Mufti Johor berjudul “Teguran Suci dan Jujur” yang masih ditulis dalam aksara Arab.

Setelah saya baca, terutama tentang riwayat Paderi dalam pengantar buku itu, saya menemukan beberapa kata kunci yang patut dicatat. Sebab Prof. Hamka, dalam hemat saya, tidak menyebutkan terus terang soal pemahaman Kaum Paderi. Ia hanya memberi isyarat-isyarat, yang terlihat agak “abu-abu”. Tapi kalau kita baca secara seksama, runut dan lengkap, kita akan mendapatkan kesimpulan terhadap apa yang beliau sampaikan. Kita sebenarnya akan bertanya, kenapa beliau terlihat seperti itu? Bisa jadi, sebab beliau menulis naskah asal buku ini tahun 1950, ketika masih kondisi muda.

Kalimat-kalimat kunci tersebut berada pada hal. 14-15 (buku saya terbitan Umminda – Jakarta, 1982). Pada halaman 14, Prof. Hamka menulis tentang perubahan politik di Mekkah pada akhir abad 18 yang disebabkan serangan kaum Wahhabi (kata “serangan” ini dapat pula jadi perenungan kita). Kemudian kaum Wahhabi dapat ditaklukkan oleh Muhammad Ali, Raja Mesir (Ayahku: hal. 14).

Pada hal. 15, disini kata-kata, yang patut dicermati. Ditulis bahwa tiga Haji (Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang) yang pulang awal abad 19 tersebut “Mereka pulang membawa semangat baru” dan “Mereka pulang hendak membawa faham baru itu dan hendak menanamkan Islam yang sejati” (paragraf pertama, hal. 15). Dari dua kalimat kunci ini, tidak ada ada penyataan “sharih” dari Prof. Hamka bahwa ketiga Haji itu pulang membawa faham Wahhabi. Kalimat pertama, Prof. Hamka, menunjukkan bahwa tiga haji tadi hanya membawa semangat [beragama]. Cuma kalimat kedua terdapat kata-kata “faham baru”, namun diiringi dengan kata tunjuk “itu”, yang juga tidak sharih (jelas). Pembaca hanya akan mengira-ngira bahwa kata “itu” akan kembali pada kaum/faham Wahhabi, tapi ini tertolak oleh fakta-fakta yang diuraikan Prof. Hamka sendiri, setelahnya:

(1) Masih pada halaman 15, Prof. Hamka melanjutkan, bahwa Harimau nan Salapan meminta sokongan dari Tuanku nan Tuo di Ampek Angkek. Tuanku nan Tuo ini ialah ulama besar yang berpengaruh luas di Darek, ia merupakan sufi besar dalam Thariqat Syattariyah. Beliau sangat dihormati (sumber ketokohan Tuanku nan Tuo, diperoleh dari manuskrip peninggalan Syaikh Jalaluddin Faqih Shaghir). Di sini logika mesti berjalan. Jika betul faham ulama Paderi ialah Wahhabi, yang sudah maklum anti-pati dengan tasawuf dan amal thariqat, tentu mereka tidak akan meminta sokongan pada Tuanku nan Tuo yang tidak lain ialah sufi besar di Padang Darat.

Baca Juga: Syekh Haji Karim Amrullah: Ulama, Ayah Buya Hamka dan Pendiri Sumatera Thawalib

(2) halaman 16, Prof. Hamka, menyebutkan, setelah Paderi tidak mendapat sokongan dari Tuanku nan Tuo, mereka kemudian meminta sokongan kepada Tuangku Mansiangan nan Mudo, anak dari Tuanku Mansiangan dan Tuo. Tuanku Mansiangan nan Tuo ialah guru Tuanku nan Tuo dalam Thariqat Syattariyah. Anak beliau ini, nan Mudo, diangkat meneruskan maqam/ kedudukan ayahnya, sufi besar Thariqat Syattariyah tersebut.

(3) Prof. Hamka, menjelaskan metode dakwah antara Tuanku nan Renceh dengan gurunya (terutama halaman 15), yang berbeda. Tuanku yang renceh dengan cara ektrem, sedangkan gurunya, Tuanku nan Tuo, dengan moderat. Artinya, yang sebut “”faham” pada kata-kata Prof. Hamka itu, tidak lain, ialah cara dakwah, bukan pemahaman agama yang anti sufi, anti Asy’ariyyah, anti mazhab Fiqih, sebagai mana pemahaman Wahhabi yang kita saksikan hari ini.

Halaman 24, Prof. Hamka, menyebutkan “Faqih Shaghir….juga berfaham Wahhabi”. Menggelikan sebenarnya apabila Prof. Hamka menulis kalimat ini, sebab Syaikh Jalaluddin Faqih Shaghir Tuanku Sami’ itu ialah ulama Thariqat Naqsyabandiyah, murid Syaikh Isma’il al-Khalidi al-Naqsyabandi Simabur, ulama besar Minang di Tanah Suci abad 19. Prof. Hamka tentu tahu itu. Namun, kalimat ini dapat difahami, jika merujuk poin 3 di atas (mengenai Syaikh Jalaluddin lihat buku Martin van Bruinessen).

Walhasil, dalam buku Ayahku Prof. Hamka tidak tafshil menjelaskan faham keagamaan Paderi. Belasan tahun setelah buku Ayahku ditulis, baru Prof. Hamka menulis tentang Paderi lebih detail dengan sumber-sumber referensi ketika membantah buku Tuanku Rao, yaitu dengan judul “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao”. Di buku ini baru jelas bahwa Paderi mendapat “pengaruh” Wahhabi bukan pada faham/mazhab agama tapi ialah pada semangat dan cara dakwah. Baca buku itu. Pinjam, jika tidak beli.

Baca Juga: Buya Hamka: Saya Kembali ke Rukyah

********

Salah seorang oknum Wahhabi membantah seseorang ketika menjelaskan bahwa tuanku-tuanku Paderi bukan berfaham Wahhabi. Kata oknum ini: “Ini hanya asumsi, tidak ada sumber referensi yang disebut.” Saya katakan: “Buku Prof. Hamka, Ayahku, ketika pembahasan Paderi juga tidak ada sumber referensinya!”

*********

Kalau boleh saya bertanya, Seberapa besar pengaruh Haji Miskin (selain dua haji lainnya) dalam Paderi? Kenapa namanya kemudian hilang dalam lembaran sejarah Paderi, setelah Tuanku nan Renceh menjadi pemimpin Harimau Salapan?

Mungka, Limapuluh Kota, 24 Oktober 2021
Apria Putra “Tuanku Mudo Khalis”

Apria Putra
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota