Mencintai Kampung dengan Mengingatnya, Mengingatkannya

Mencintai Kampung dengan Mengingatnya, Mengingatkannya
Ilustasi/dok.kompasiana.com

Buku “Soerabaia in The Olden Days” karya Dukut Imam Widodo (dalam bahasa Inggris) ini adalah cindera mata dari Bu Risma, Walikota Surabaya, saat saya mengikuti International Poetry Festival “What’s Poetry?” (2012). Setelah membacanya, terbit pula impian kelak kampung saya punya buku yang bercerita tentang dirinya dan jadi buah tangan bagi tamu yang datang. Buku yang ditulis oleh anak kampungnya, siapa pun itu.

kampung

Kabupaten Sijunjung juga punya “The Olden Days”, bagian penting peradaban Minangkabau ketika peradaban sungai berjaya. Sebab daerahnya dilalui sungai besar, seperti Batang Ombilin, Sinamar, dan Batang Kuantan yang bermuara di pantai timur Sumatra. Bahkan, dulu Silukah di Nagari Durian Gadang merupakan pelabuhan internasional, hingga hari ini penduduk di sana menyebutnya sebagai Malako Kaciak (Malaka Kecil), merujuk pada bandar besar Malaka.

Lewat peradaban sungai ini, perdagangan emas dan kain membentuk peradaban baru, membawa Islam ke “Darek” Sijunjung. Mangganti dan Silantai misalnya, jadi kawasan perdagangan–tapi kini jadi daerah pedalaman.

Baca Juga: Pengembangan NU di Luar Jawa

Kejayaan peradaban sungai di Kabupaten Sijunjung itu bisa dibaca di buku “Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847” karya Christine Dobbin.

Sungai yang melintasi Kabupaten Sijunjung membawa berkah. Inilah bagian Swarna Dwipa. Tapi beda dengan zaman saisuak, penambangan emas sejak awal tahun 2000-an membawa kekacauan sosio-kultural. Mamak dan kemenakan bertengkar. Sawah ladang dibongkar. Sabu-sabu (Narkoba) semudah beli pulsa. Aparat main aman dan terima jatah. Pemerintah daerah “alah di dalam” pula. Tak ada peradaban baru yang muncul yang patut dibanggakan.

Ada lelucon yang tragis, “Kalau datang penambang emas dari Sijunjung ke tempat Dugem (hiburan malam) di Kota Padang, Ladies Court akan menyambutnya dengan manja, bahkan tamu yang sedang dilayani ditinggalkan. Sebab penambang emas dari Sijunjung murah hati, sawerannya banyak. Tangan di atas, Sanak. Masuak barang tu!”

Mengenai booming emas di Sijunjung sejak awal tahun 2000-an ini, nantilah saya tulis lebih dalam di lain kesempatan. Saya perlu joging jari-jemari dulu, melancarkan peredaran darah, memindahkan otak kiri ke kanan, otak kanan ke kiri.

Lanjut ke zaman saisuak. Kabupaten Sijunjung juga punya sejarah besar yang lain. Misalnya Pamalayu II, pertempuran pasukan Gajah Tongga Koto Piliang dengan pasukan Majapahit di Padang Sibusuk. Kekalahan invasi Majapahit ke Pagaruyung pada awal abad ke 15. Di Padang Sibusuk petarung Minangkabau itu berkumpul. Hingga kini, watak orang Padang Sibusuk itu keras.

Dalam buku kontroversial “Tuanku Rao” karya Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar, pertempuran di Padang Sibusuk ini diakuinya, bahwa Minangkabau tidak pernah memenangkan pertempuran besar dengan pihak luar kecuali pertempuran di Padang Sibusuk.

Kabupaten Sijunjung juga punya kerajaan yang perlu digali dan dicatet kembali, seperti Kerajaan Pagaruyung (?) di Koto Kumanis, Kerajaan Ibadat di Sumpur Kudus, dan Kerajaan Jambu Lipo di Lubuk Tarok.

Pun Tarekat Sattariyah di Nagari Sijunjung, sebagai salah satu aliran Islam di Minangkabau yang melahirkan konsep surau dan seni musik Salawat Dulang.

kampung

Dalam merintis Kemerdekaan Indonesia, Kabupaten Sijunjung juga punya andil. Perlawanan Sarekat Rakyat 1926/1927 selama ini terkenal adalah Silungkang, padahal Padang Sibusuk, Tanjung Ampalu, Muaro Bodi, Pamuatan, dan Palangki turut serta. Bahkan, pertempuran 1 Januari 1927 yang menewaskan Komandan Kompi Tentara Belanda Letnan Simon terjadi di Sililie (perbatasan Nagari Padang Sibusuk dengan Nagari Pamuatan).

Begitu pula dengan gerilya PDRI yang melintasi Sumpur Kudus.

Salah satu buku yang mencatat jejak langkah perjuangan masyarakat Kabupaten Sijunjung untuk adanya Indonesia bisa dibaca dalam “Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998” karya Audrey Kahin.

Tentu banyak yang lainnya bisa digali dari Kabupaten Sijunjung, diingat, dicatat dan dapat tempat. Sehingga bila bertemu dengan orang di luar Sijunjung tak lagi menimbulkan tanya, “Sijunjung itu di mana, ya?”

Atau gurauan kawan-kawan di Padang, “Thendra baliak ka Sijunjung naiak oto Tampalo apalah artinya.”

Yeah… Kabupaten Sijunjung butuh buku yang bercerita tentang dirinya yang ditulis oleh masyarakatnya sendiri, dibaca oleh orang di luarnya, bukan lagi sekadar upacara di setiap Hari Jadi-nya.[]

*Catatan Y. Thendra BP, Jurnalis dan Sastrawan Nasional

** Tulisan ini pernah dimuat di halaman Facebook penulis

kampung

Share :
Y. Thendra BP
Y. Thendra BP 2 Articles
Sastrawan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*