Mengapa Dinamakan Bulan Syakban

Mengapa Dinamakan Bulan Syakban
Ilustrasi/Dok.www.shutterstock.com

Bulan Syakban (Sya’ban: tidak baku) diantara bulan yang dimuliakan dan mendapatkan posisi yang istimewa dalam agama Islam. Karena keberkahan dan kebaikan yang ada di dalamnya begitu melimpah. Berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya menunjukkan tentang kemuliaannya. Seperti pemindahan kiblat dan diangkatnya amalan seorang mukmin. Bulan yang dijadikan oleh Allah sebagai ajang latihan dan persiapan untuk menghadapi dan menyambut sang kekasih, yaitu Ramadan.

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, seorang muhaddist abad ke-21, di dalam kitab beliau yang berjudul Mâ Dzâ fi Sya’bân, mengutarakan asal-usul kata Syakban dan penyebab penamaannya dengan Syakban:

 وسمي شعبان لأنه يتشعب منه خير كثير، وقيل معناه : شاع بان، وقيل : مشتق من الشِعب بكسر الشين ؛ وهو طريق في الجبل، فهو طريق الخير، وقيل من الشَعب بفتحها ؛وهو الجبر، فيجبر الله فيه كسر القلوب، وقيل غير ذلك.

 [السيد محمد بن علوي المالكي الحسنى، ماذا في شعبان، ص ٧]

 “Bulan ini dinamai dengan sebutan Syakban karena dia memancarkan banyak kebaikan. Menurut sementara ulama, Syakban berasal dari kata syâ‘abân yang berarti terpancarnya keutamaan. Menurut ulama lainnya, Syakban berasal dari kata As-syi‘bu (dengan bacaan kasrah pada huruf syin), yaitu sebuah jalan di gunung maksudnya adalah jalan kebaikan. Sementara ulama lain juga menyebutkan, Syakban berasal dari kata As-sya‘bu (dengan bacaan fathah pada huruf syin), secara harfiah bermakna ‘menambal’ maksudnya ialah Allah menambal dan menutupi kegelisahan hati (hamba-Nya) di bulan Syakban. Ada juga ulama yang berpendapat selain yang telah disebutkan”.

Sementara Imam Hadis, Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan alasan lain dari penamaan bulan Syakban, dinamakan dengan Syakban karena pada saat bulan ini banyak orang Arab yang berpencar-pencar mencari air atau berpencar-pencar di gua setelah berakhirnya bulan Rajab.

 وَسُمِّيَ شَعْبَانَ لِتَشَعُّبِهِمْ فِي طَلَبِ الْمِيَاهِ أَوْ فِي الْغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَب الْحَرَامِ

[ابن حجر العسقلاني، فتح الباري لابن حجر، ٢١٣/٤]

“Dinamakan Syakban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab al-Haram”.

Baca Juga: Tadarus Iklan di Bulan Ramadan

Mengenai kenapa kita mengagungkan bulan ini, tentu karena berjuta kebaikan dan keberkahan yang menyelimuti bulan ini. Dan berbagai fenomena yang mulia terjadi di dalamnya. Maksudnya ialah kita memperingati bulan ini dengan berbagai corak amalan adalah karena kejadian yang ada di dalamnya yang menjadikannya mulia bukan karena waktunya. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani di dalam kitab yang sama, membawakan sebuah kaidah umum yang dipakai oleh para ulama:

 أن الزمان يشرف بما يقع فيه من الحوادث

“Kemuliaan waktu disebabkan oleh peristiwa yang terjadi di dalamnya”

Diantara fenomena mulia yang pernah dan atau akan selalu terjadi di dalam bulan Syakban ini adalah:

 – Perpindahan kiblat, yaitu dari Baitiul Maqdis ke Ka’bah. Sebagaimana keterangan Imam al-Qurtuby di dalam al-Jâmi’ beliau:

 وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ الْبُسْتِيُّ: صَلَّى الْمُسْلِمُونَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ سَوَاءً، وَذَلِكَ أَنَّ قُدُومَهُ الْمَدِينَةَ كَانَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ، وَأَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ باستقبال الكعبة الثُّلَاثَاءِ لِلنِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ.

[القرطبي، شمس الدين، تفسير القرطبي، ١٥٠/٢]

 “Kaum muslimin salat menghadap Baitiul Maqdis selama 17 bulan 13 hari, hal ini (perhitungan hari) dikarenakan bahwa kedatangan nabi Muhammad saw ke Madinah bertepatan dengan hari Senin, 12 Rabiul Awal dan Allah azza wa jalla memerintahkan untuk menghadap Ka’bah pada hari Selasa pada pertengahan bulan Sya’ban”.

 -Diangkatnya amal, maksudnya adalah diangkatnya secara meluas. Karena pengangkatan amal tidak khusus pada bulan Syakban, namun juga ada pada waktu-waktu yang lain. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

 عَن أُسَامَة بن زيد رَضِي الله عَنْهُمَا قَالَ : قلت : يَا رَسُول الله؛ لم أرك تَصُوم من شهر من الشُّهُور مَا تَصُوم من شَعْبَانَ، قَالَ : ذَاك شهر يغْفل النَّاس عَنهُ بَين رَجَب ورمضان، وَهُوَ شهر ترفع فِيهِ الْأَعْمَال إِلَى رب الْعَالمين، وَأحب أَن يرفع عَمَلي وَأَنا صَائِمٌ. رَوَاهُ النَّسَائِيّ

[عبد العظيم المنذري، الترغيب والترهيب للمنذري، ٧١/٢]

“Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ya Rasulullah! Saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan dibanding bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan Syakban?” Beliau menjawab, “Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dia adalah bulan amalan-amalan, diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya suka jika amalanku diangkat dalam keadaan saya sedang berpuasa”.

Baca Juga: Awal Ramadan Perspektif Tarbiyah Islamiyah

Adapun amalan yang dapat kita perbanyak pada bulan ini diantaranya adalah berpuasa, salat malam, memperbanyak taubat, istighfar, dzikir, selawat kepada Rasulullah saw.

Imam Syihabuddin al-Qasthalani di dalam al-Mawâhib al-Laduniyyah (3/322) menukil suatu perkataan dari sebagian ulama:

 أن شهر شعبان شهر الصلاة عليه صلى الله عليه وسلم

Bulan Syakban adalah bulan untuk berselawat kepada baginda Rasulullah saw karena ayat tentang perintah berselawat (Al-Ahzab : 33) diturunkan pada bulan ini.

Semoga Allah menjadikan kita hambanya yang taat dan memberkahi setiap tingkah laku kita pada bulan Syakban ini dan menyampaikan kita kepada bulan yang mulia Ramadan.[]

Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Afriul Zikri
Afriul Zikri 8 Articles
Mahasiswa S1 Universitas Al-Azhar, Kairo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*