Mengapa Harus Belajar Banyak Kitab dan Kenapa Tidak Langsung Memahami dari al-Qur’an dan Hadis?

Mengapa Harus Belajar Banyak Kitab dan Kenapa Tidak Langsung Memahami dari al-Qur’an dan Hadis
Ilustasi Dok. https://www.flickr.com/photos/photohistorytimeline/15547750261/in/photostream/

Azaman dulu untuk menjadi ulama itu tidak mesti baca buku banyak, cukup bisa bahasa Arab fushah yang dipakai ketika zaman kenabian, lalu hafal al-Qur’an dan Hadis yang berkaitan dengan hukum, dan sejarah nabi dalam mempraktekan hukum: pertama di bawah bimbingan guru yang telah diakui itu sudah cukup, selanjutnya guru melatihmu bagaimana memahami dunia melalui ajaran Islam. Jadi tidak perlu baca matan, syarah dan hasyiah dan kitab mutaqaddimin atau mutaakhirin berjilid-jilid. Bahkan bila syarat-syarat di atas dipenuhi walau buta huruf sekalipun bisa jadi ulama. Banyak sahabat menjadi ulama dengan cara itu.

Masalahnya, cara seperti itu akan sangat sulit untuk keadaan sekarang. Sebagai contoh, jauhnya kita dari bahasa Arab fushah membuat kita harus belajar bahasa Arab dengan segala cabangnya agar memahami bahasa Arab. Makanya kita perlu mempelajari nahwu, sharaf, balaghah, matan lughah, arudh, dll. agar kita bisa memahami al-Qur’an dan hadis dengan dzauq bahasa ketika diturunkan ke bumi. Contoh lain, sahabat yang mendengar langsung hadis dari nabi. Mereka tidak perlu lagi meneliti sebuah hadis benar ini atau tidak. Lah, mereka mendengar langsung dari nabi sedangkan zaman kita butuh ilmu untuk mengetahui itu, benaran hadis nabi atau bukan, maka dipelajarilah ilmu hadis, mulai dari ilal, takhrij, dll. Kenapa harus berjenjang? Karena itu untuk melatih malakah atau kemampuan untuk memahami syariat.

Baca Juga: Untuk Saudaraku yang Baru ‘Hijrah’, Belajarlah Dulu!

Mulai dari paling kecil, pertama harus bisa baca, lalu memahami istilah secara singkat, lalu mulai memahami mendetil setiap kaidah ilmu dan belajar melihat contoh-contoh praktis. Lalu di level selanjutnya baru di level mengetahui argumen setiap kaidah ilmu yang ada. Di level selanjutnya thalib akan belajar mempraktikan ilmu untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada, sampai di level dia memiliki malakah dan kemampuan dimana jika Nabi Muhammad saw melihat cara dia berpedoman pada agama dalam menyelesaikan sebuah masalah. Maka Nabi kemungkinan akan berkata “benar seperti itulah ajaranku” sebagaimana beliau memuji murid-murid beliau pada Umar “Ali itu pintu ilmu”, Ibnu Masud itu “gunung ilmu”, yang paling tahu halal dan haram dari umatku itu Muaz, tangaku ini untuk Usman, orang yang paling tahu ilmu faraidh itu Zaid, pemegang rahasiaku Abu Huzaifah, dll. Mereka semua adalah orang yang sudah dapat rekomendasi bahwa jika mau tahu apa pendapatku pada sebuah masalah tanyalah pada orang-orang itu. Karena mereka mewarisi ilmu yang aku diutus untuk menyampaikannya.

Nah, seiring berkembangnya zaman dimana manusia makin jauh dari era kenabian, maka ulama menemukan metode yang tepat dan telah terbukti sukses selama ratusan tahun dalam mencetak ulama, ya metode tadaruj kitab madrasi yang muktamad, dari level mubtadi, mutawasith, dan muntahin, dan tentu saja level ulama. Metode yang jika ditinggalkan maka membuat seorang sangat jauh dari pemahaman ulama. Dan jika dipraktikan maka dia bisa memahami al-Qur’an dan Hadis sebagaimana sahabat memahaminya. Melewati level-level itu adalah alat untuk mencapai puncak pengetahuan, yaitu memahami al-Qur’an dan Hadis, sehingga makin banyak ilmu biasanya para ulama makin dekat dengan al-Qur’an dan Hadis. Pemahamannya makin dalam, dan biasanya mereka makin paham betapa tidak ada buku di dunia melebihi firman Allah, makanya di usia senja para ulama biasanya akan menyukai tafsir al-Qur’an.

Hanya saja, tanpa alat-alat tadi maka biasanya pemahaman al-Qur’an jadi berantakan, sehingga walau memakai al-Qur’an dan hadis waktu mereka ngomong, tapi kita akan merasa; “masak iya Islam mengajarkan seperti itu?” Maka itu pendidikan berjenjang untuk mencetak ulama yang mampu memahami al-Qur’an dan hadis perlu dilakukan, mulai tahap dasar sampai tahap tinggi, sehingga seorang bisa dikatakan rujukan, jadi tidak asal tafsir asal bisa ngutip aja, apalagi modal ngomong doank. Makanya kita menemukan orang yang belajarnya tidak melalui metode berjenjang (matan, syarah dan hasyiah) yang terbukti ratusan tahun ini maka ada aja yang syadz dari pendapatnya, tak jarang kita melihat pemahamannya pada satu ilmu bertentangan dengan yang lain.

Baca Juga: Manhaj

Maka dari itu kenapa yang motode belajar kitab kuninglah yang paling produktif melahirkan ulama? Karena mereka tidak pernah meninggalkan metode hasil percobaan sukses ratusan tahun, begitu ada kelompok yang meninggalkan dalam 20-30 tahun, generasi selanjutnya langsung drop jumlah ulama. Begitu penting belajar mengikuti manhaj para ulama terdahulu. Jadi kenapa tidak langsung dari al-Qur’an dan hadis dan malah repot-repot harus baca banyak kitab kuning dan turats? Yaitu karena itu jalan yang telah terbukti selama ratusan tahun mencetak para ulama yang mampu memahami Islam sebagaimana Nabi saw memahaminya.[]

Fauzan Inzaghi
Mahasiswa Indonesia di Suriah