Mengenal Kitab Minhaj al-Thalibin Imam Nawawi (Muqaddimah Kitab Minhaj al-Thalibin) III

Mengenal Kitab Minhaj al-Thalibin Imam Nawawi (Muqaddimah Kitab Minhaj al-Thalibin) III
Ilustrasi/dok. https://www.queens.cam.ac.uk/teaching-learning/library/old-library

Mengenal Kitab Minhaj al-Thalibin Imam Nawawi (Muqaddimah Kitab Minhaj al-Thalibin) III

Baca Sebelumnya: Mengenal Kitab Minhaj al-Thalibin Imam Nawawi (Muqaddimah Kitab Minhaj al-Thalibin) II

Kedudukan Minhaj al-Thalibin dalam Urutan Kitab Fikih Karangan Imam Nawawi

Kitab Minhaj al-Thalibin sendiri sedari dahulu telah dianggap sebagai salah satu referensi pokok untuk mengetahui pendapat-pendapat yang dianggap kuat dan mu’tamad dalam mazhab Syafi’i.  Sesuai namanya, kitab ini memang menjadi jalan yang jelas dan terang bagi para pelajar (Minhaj al-Thalibin), serta menjadi pegangan utama bagi para mufti (‘Umdah al-Muftin). Imam Nawawi sendiri mempunyai banyak kitab fikih yang ditulis dalam mazhab Syafi’i selain kitab Minhaj al-Thalibin. Selain itu, beberapa pendapat fikih beliau juga beredar dalam kitab-kitab beliau yang lain seperti kitab hadis beliau al-Minhaj Syarah Sahih Muslim ibn Hajjaj, dan lain-lain.

Adalah manusiawi apabila informasi-informasi yang beliau tulis dalam satu kitab fikih kontradiksi dengan kitab fikih beliau yang lain, mengingat tebalnya kitab-kitab yang beliau tulis. Namun, pertanyaan dari sekian banyak kitab fikih yang beliau tulis, manakah kitab yang akan didahulukan apabila terdapat kontradiksi terhadap suatu masalah?  

Menurut penelitian Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam muqaddimah kitabnya Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj menjelaskan bahwa:

وَمِنْ أَنَّ هَذَا الْكِتَابَ مُقَدَّمٌ عَلَى بَقِيَّةِ كُتُبِهِ لَيْسَ عَلَى إطْلَاقِهِ أَيْضًا بَلْ الْغَالِبُ تَقْدِيمُ مَا هُوَ مُتَتَبَّعٌ فِيهِ كَالتَّحْقِيقِ فَالْمَجْمُوعِ فَالتَّنْقِيحِ ثُمَّ مَا هُوَ مُخْتَصَرٌ فِيهِ كَالرَّوْضَةِ فَالْمِنْهَاجِ وَنَحْوِ فَتَاوَاهُ فَشَرْحِ مُسْلِمٍ فَتَصْحِيحِ التَّنْبِيهِ وَنُكَتِهِ مِنْ أَوَائِلِ تَأْلِيفِهِ فَهِيَ مُؤَخَّرَةٌ عَمَّا ذُكِرَ وَهَذَا تَقْرِيبٌ، وَإِلَّا فَالْوَاجِبُ فِي الْحَقِيقَةِ عِنْدَ تَعَارُضِ هَذِهِ الْكُتُبِ مُرَاجَعَةُ كَلَامِ مُعْتَمِدِي الْمُتَأَخِّرِينَ وَاتِّبَاعُ مَا رَجَّحُوهُ مِنْهَا

Walaupun begitu, mendahulukan kitab ini (Minhaj al-Thalibin) dari kitab-kitab Imam Nawawi yang lain bukanlah hal yang mutlak juga tetapi yang menjadi kebiasaan adalah mendahulukan karya yang telah diteliti mendalam tentangnya, yaitu seperti kitab al-Tahqiq, kemudian al-Majmu’, lalu al-Tanqih, lalu kitab-kitab yang berupa ringkasan seperti al-Raudhah, kemudian al-Minhaj, kemudian fatwa-fatwa Imam Nawawi, kemudian kitab beliau al-Minhaj syarah shahih Muslim, kemudian kitab tashih al-tanbih, dan kitab al-Nukatnya. Diurutkan dari karangannya yang paling terakhir. Inilah pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Kalau tidak seperti ini, maka yang pendapat yang didahulukan ketika terjadi kontradiksi antara kitab-kitab Imam Nawawi adalah dengan merujuk kepada hasil penelitian para muhaqqiq (peneliti serius) dari golongan mutaakhkhirin yang dapat dipegang, lalu mengikut kepada pendapat yang mereka kuatkan

Dari uraian Imam Ibn Hajar al-Haitami di atas, maka urutan kitab Imam Nawawi yang mesti didahulukan manakala terjadi kontradiksi antara informasi satu kitab dengan yang lainnya adalah sebagai berikut:

1. Al-Tahqiq
2.Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab
3. Al-Tanqih
4. Raudhah al-Thalibin wa Umdah al-Muftin
5. Minhaj al-Thalibin wa Umdah al-Muftin
6. Fatawi al-Nawawi
7. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Hajjaj
8. Tashih al-tanbih
9. Al-Nukat ‘ala al-Tanbih

Penelitian Imam Ibn Hajar al-Haitami sangat berharga kita. Namun, yang jadi catatan adalah urutan ini hanya berlaku dalam kondisi ditemukannya kontradiksi. Dalam keadaan normal seluruh kitab tersebut adalah referensi yang mesti dipegang untuk mengetahui pendapat mu’tamad dalam mazhab Syafi’i. Selain itu, urutan ini bukan bersifat mutlak, melainkan hanya salah satu bentuk pendekatan untuk menyelesaikan kontradiksi. Dalam kasus-kasus tertentu, penentuan pendapat mu’tamad yang lebih akurat tentu menuntut kajian yang jauh lebih mendalam terhadap tahqiq para ulama mazhab Syafi’i mutaakhkhirin. Itulah kenapa setelah era Imam Nawawi masih muncul muhaqqiq mazhab Syafi’i seperti Imam al-Mahalli, Imam Ibn Hajar al-Haitami, Imam al-Ramli, dan lain-lain.

Baca Juga: Mengenal Kitab Minhaj al-Thalibin Imam Nawawi Muqaddimah Kitab Minhaj al-Thalibin I

Kitab Minhaj al-Thalibin adalah Kitab yang Berkah

Tiada yang dapat menampik bahwa begitu besar perhatian para ulama lintas zaman terhadap kitab Minhaj al-Thalibin. Ibn al-‘Atthar, murid Imam Nawawi menceritakan bahwa saking berkahnya kitab ini, umat Islam banyak menghafalnya setelah Imam Nawawi wafat. Para penghafal kitab Minhaj al-Thalibin akan digelari dengan al-Minhaji saking besarnya keagungan kitab ini di kalangan umat Islam, khususnya mazhab Syafi’i. Imam al-Sakhawi dalam kitabnya al-Manhal al-‘Adzb al-Rawwy fi Tarjamati Quthb al-Awliya’ al-Nawawi menceritakan:

ومن فور جلالته وجلالة مؤلفه انتساب جماعة ممن حفظه إليه، فيقال له: المنهاجي، وهذه خصوصية لا أعلمها الآن لغيره من الكتب

Di antara derasnya keagungan kitab Minhaj al-Tholibin dan keagungan pengarangnya adalah munculnya penisbahan (penggelaran) sejumlah ulama yang menghafalnya kepada kitab tersebut. Orang yang menghafalnya disebut Al-Minhaji. Ini adalah keistimewaan yang sekarang saya tidak mengetahuinya dimiliki kitab-kitab yang lain

Dalam internal mazhab Syafi’i, siapa yang tidak hafal kitab ini akan diragukan kualitas kemampuan dan pemahamannya terhadap mazhab Syafi’i itu sendiri, sehingga para ulama pun berlomba-lomba menghafalnya. Bahkan, dikatakan bahwa siapa yang menghafal matan ini, sungguh ia telah menghafal mazhab Syafi’i.

Imam al-Sakhawi dalam kitabnya al-Manhal al-‘Adzb al-Rawwy fi Tarjamati Quthb al-Awliya’ al-Nawawi menceritakan kisah yang menarik berkaitan dengan kitab ini. Di zaman Taqiyyuddin Abu Bakar al-Hishni (sekitar abad 800-900 hijriyah), ada seorang ulama mazhab Hanafi bernama Syamsuddin Muhammad al-Maqdisi. Saat masih kecil, beliau sempat terkena demam panas yang parah sehingga membuat lidahnya jadi kaku dan menjadi bisu. Beliau bisu sampai berumur enam tahun. Suatu hari, ayahnya membawanya menghadap Abdullah al-‘Ajluni – yang waktu itu merupakan murid al-Hishni – dengan tujuan mengharap keberkahan al-Hishni serta agar anaknya yang bisu itu dapat didoakan agar diberikan kesembuhan. Al-Hishni pun mendoakannya. Kemudian al-Hishni memberikan kabar gembira dengan kesembuhan Syamsuddin al-Maqdisi tersebut dan memintanya agar menganut mazhab Syafi’i serta menghafalkan kitab Minhaj al-Thalibin dengan niat mengharapkan berkah pengarangnya (Imam Nawawi). Saran al-Hishni pun diikuti oleh al-Maqdisi. Ia pun diberikan kesembuhan. Al-Maqdisi kemudian menghafal Alqur’an dan kitab Minhaj al-Thalibin dalam waktu empat tahun. Hal ini unik karena keluarga dan nenek moyang al-Maqdisi adalah penganut kuat mazhab Hanafi.

Imam al-Sakhawi mengisahkan:

وحكى لي صاحبنا الزين عبد الرحمن بن أحمد الهمامي، الدمشقي، الحنفي: إن أخاه الشمس محمد المقدسي حصل له توعك في صغره أدى إلى خرسه، حتى بلغ السنة السادسة، وإن والدهما توجه به إلى الشيخ عبد الله العجلوني، أحد جماعة التقي الحصني، وأمام جامع ابن منجك بالقبيبات، ملتمساً بركته ودعائه، فدعا له وبشره بالعافية، وألزمه بأن يجعله شافعياً، ويقرئه ” المنهاج ” بقصد بركة مؤلفه، مع كون سلفه وإخوته كلهم حنفية، فامتثل ذلك فعوفي عن قرب، فحفظ القرآن و ” المنهاج ” في أربع سنين، وهو الآن عين الدماشقة في كتابة المصاحف.

Sahabat kami, Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad Al-Humami Ad-Dimasyqi Al-Hanafi menceritakan kepadaku bahwasanya saudaranya Syamsudin Muhammad Al-Maqdisi terkena demam di masa kecilnya yang membuat beliau menjadi bisu. Ia tetap bisu hingga mencapai usia 6 tahun. Ayah mereka (Abdurrahman dan Muhammad) pergi ke syekh Abdullah Al ‘Ajluni, salah seorang jamaah Taqiyuddin Al Hishni (pengarang Kifayatu Al-Akhyar) dan imam masjid Jami Ibnu Manjak di Qubaibat dengan maksud untuk memperoleh berkah beliau dan doanya. Maka beliau mendoakannya dan memberinya kabar gembira dengan kesehatan dan memintanya supaya menjadikan anak tersebut bermazhab Asy Syafi’i dan membacakannya kitab Minhaju Ath-Tholibin dengan maksud memperoleh berkah pengarangnya. Padahal, nenek moyangnya dan saudara-saudaranya semuanya bermazhab Hanafi. Maka sang ayah menuruti saran tersebut sehingga saudaranya itu menjadi sembuh dalam waktu cepat. Dia pun menghafal Al-Qur’an dan kitab Minhaju Ath-Tholibin dalam waktu 4 tahun dan sekarang adalah tokoh ulama Damaskus dalam hal penulisan mushaf.

Kitab Minhaj al-Thalibin mungkin merupakan karangan Imam Nawawi yang paling popular. Sangat banyak ulama yang konsen terhadapnya. Para ahli lintas ilmu mengkajinya secara serius, mendiskusikannya, bahkan menuliskan beberapa buku yang menjadi bukti keberkahannya. Ada yang menulis penjelasan terhadapnya (syarh), membuat ringkasan (mukhtashar), meringkas dalam bentuk nazham (manzhumah), membuat catatan pinggir (hasyiyah), komentar (ta’qibat), menjelaskan kata-kata sulit di dalamnya, membuat glosarium istilah-istilah di dalamnya, membuat penjelasan terhadap hal-hal sukar, pelik, atau masalah yang perlu renungan pemikiran dan penelitian mendalam (nukat), membuat komentar singkat (ta’liqat), membuat kitab khusus menghimpun dalil yang digunakan di dalamnya, melakukan takhrij atas hadis-hadisnya, membahas gramatikal dan susunan kebahasaannya, menulis koreksi dan diskusi terhadap masalah-masalah di dalamnya, dan lain-lain. Semua ini menunjukkan betapa besar perhatian ulama terhadapnya.

Demikian besarnya perhatian ulama-ulama mazhab Syafi’i terhadap kitab Minhaj al-Thalibin sampai Abdullah al-Habsyi dalam kitabnya yang berjudul Jami’ al-Syuruh wa al-Hawasyi menyebut lebih dari 300 karya dibuat untuk menjelaskan, menguraikan, dan memberi catatan pinggir untuk kitab ini. Bahkan, Ahmad Al-Rifa’i mengklaim syarh terhadap kitab ini mencapai angka 1000 lebih! Bahkan, sampai saat ini masih banyak ulama yang kami dapatkan kabar masih menulis syarh atas kitab Minhaj al-Thalibin ini.

Pada pesantren, dayah, madrasah di Indonesia, kitab syarh (penjelasan) dari Minhaj al-Thalibin biasanya adalah kitab Kanzu al-Raghibin yang ditulis oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli yang digelari dengan khatimah al-muhaqqiqin (penutup para muhaqqiq). Di beberapa pesantren ada juga yang menggunakan syarh Mughni al-Muhtaj karya Khathib al-Syirbini. Di beberapa dayah ada juga yang mempelajari syarh Tuhfah al-Muhtaj karya Ibn Hajar al-Haitami. Ada juga yang mengkaji kitab Fathu Al-Wahhab karya Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari. Asalnya, Zakaria meringkas Minhaj al-Thalibin dalam kitab yang bernama Manhaj al-Thullab. Lalu beliau mengarang syarh untuk kitab ringkasannya sendiri dan diberi nama Fathu al-Wahhab. Hasyiyah dari kitab Fathu al-Wahhab ini adalah Hasyiyah al-Bujairimi yang juga sering dibaca di beberapa pesantren, dayah, dan madrasah di Indonesia. Semoga Allah merahmati imam Nawawi dan ilmu yang beliau sampaikan dapat memberikan kita manfaat di dunia dan akhirat. []

Selesai!

Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Zamzami Saleh
Zamzami Saleh 60 Articles
Calon Hakim Pengadilan Agama, Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah MTI Canduang. Alumni al-Azhar Mesir dan Pascasarjana di IAIN IB Padang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*