Mengenang Almarhum Tuanku Mudo Baliau Rasyid Zaini (1916-2008)

Mengenang 100 tahun guruku almarhum Tuanku Mudo Baliau Rasyid Zaini, Limbabuang, Mungo, Kec. Luak, Kab. Limapuluh Kota, Sumbar (1916-2016) saya menulis tentang pribadi beliau dalam “Tarajim Ulama Luhak Lima Puluh” sebagai berikut:

“……Di samping beliau-beliau itu, di masa belia, aku mencoba mengarungi lautan hikmah dengan mengaji secara khusus kepada guru-guru besarku lainnya, namun kaji-ku kali ini tidak memakai kitab sebagai yang sudah-sudah. Kepada mereka, aku menyauk ilmu yang secara modern disebut ilmu esoteris. Di tahun 2003, aku mulai berkhitmat kepada ulama tua yang pernah menemani nenekku, Inyiak Alam Kamang, ketika sakit sebelum wafatnya. Beliaulah Tuanku Mudo Baliau Rasyid Zaini, ulama yang dituakan di kampung halamanku: seorang ahli hikmah yang saat itu telah berusia uzur namun masih nampak sehat.

Adalah beliau ini seorang yang hidupnya dikaruniai Allah, hidup sejak zaman Belanda dan Jepang, namun tidak pernah merasa susah. Beliau pernah belajar di Madrasah Tarbiyah Limbukan, namun telah diberi ijazah di kelas IV, padahal lazimnya hanya murid kelas VII yang di-ijazahi. Beberapa orang tua menyebutkan bahwa pribadi guruku ini seorang yang zhahir khariqul lil adah, ke-luar biasaan sebagai karunia Allah atas hamba-hambanya yang shaleh. kalau tidaklah karena takut akan orang-orang ingkar terhadap hal tersebut, niscaya akanku sebutkan dalam cacatanku ini akan pribadi beliau itu. Aku mengambil dari beliau wirid Hizib Imam Syazili, yaitu Hizib Pasukan Lautan yang masyhur dikalangan orang-orang tua dengan “Do’a Sunu Bahar”. Menurut penyelidikanku di kemudian hari, hizib ini merupakan pegangan ulama-ulama silam di ranah Minang ini.

Adalah hizib ini diterima guruku dari seorang ulama tua di Limbukan. Konon kabarnya, ulama tua itu memiliki ratusan murid, namun tak satupun antara mereka yang di-ijazah-kan hizib ini. kepada gurukulah kemudian hizib ini diajarkan.

Terharu aku mengingat beliau, belumlah terisi gelasku yang kosong ini, beliau pun wafat di saat jalanku masih hampa, pada 2008. istri beliau mengkhabarkan, ada dua orang murid yang telah mendapat maqam seperti beliau.”

Baca Juga: al-Marhum Syekh H. Ruslan Limbukan

al-Fatihah

Apria Putra
About Apria Putra 144 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan