Mengunjungi Abuya Syekh Khatib Ilyas di Titian Dalam, Surau Suluk Irsyadul Ibad

Mengunjungi Abuya Syekh Khatib Ilyas ke Titian Dalam, Surau Suluk Irsyadul Ibad

Bersama dengan Heru Joni Putra, sastrawan muda Indonesia, dan kawan-kawan, sesuai dengan rencana, dapatlah kami ke Titian Dalam, tepatnya Surau Suluk Irsyadul Ibad. Siapa lagi yang akan dituju, kecuali Abuya Syekh Khatib Ilyas, ulama sepuh, yang meneruka dan berkhitmah di surau yang sudah dibangun sejak 1960-an itu.

Kita perlu mengulang maklumat tentang beliau, Abuya Syekh Khatib Ilyas. Beliau ialah salah seorang ulama sufi, pemegang Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Thariqat Sammaniyah Khalwatiyah yang tertua di Limapuluh Kota, selain Syekh Haji Ilyas Ongku Rahman Kasiak Rampuang (usia mendekati 100 tahun) dan Abuya Syekh H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno Batuhampar (95 tahun).

Jika Syekh Haji Ilyas Ongku Rahman mendapatkan ijazah irsyad dalam thariqat dari alm. Syekh Suyuti Ongku Dukun Sungai Naniang, dan Syekh Sya’rani Khalil Dt. Majoreno mendapatkan ijazah irsyad dari alm. Syekh Muhammad Surin Lokuang – Koto Tinggi, maka Syekh Khatib Ilyas menerima ijazah irsyad dari pada alm. Syekh Mukhtar Ongku Tanjuang Belubus.

Ketiga-tiga ulama sufi sepuh ini ialah dari jalur Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus. Kepada beliau-beliau ini, segala soal tentang thariqat dipulangkan. Setahu saya, memang mereka yang tertua.

Selain memperoleh ijazah irsyad, Syekh Khatib Ilyas Titian Dalam, juga merupakan murid dari Syekh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi Canduang (salah seorang pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Beliau juga sempat melanjutkan pada Kulliyyah Syar’iyah Canduang, namun karena masa bergolak akhir tahun 1950-an, beliau tidak sempat menyelesaikannya. Karena itu beliau masih ingat Alfiyah, Matan Sulam, serta syi’ir-syi’ir dalam Qatrun Nada.

Baca Juga: Surau Suluk Pengamal Tarekat

Meskipun berusia hampir satu abad, namun ingatan beliau masih segar apabila kita bertanya tentang masa-masa silam, terutama soal pengajian di surau. Apalagi bila disebut nama-nama guru/ulama yang telah wafat, yang pernah beliau jumpai, lama beliau tertegun karena himmah yang bangkit. Kadang-kadang air mata keluar, karena terkenang tunjuk ajar guru, yang telah wafat itu.

Menariknya, kawan-kawan, setiap bertemu beliau, selalu ada saja ilmu-pengetahuan baru yang beliau sampaikan. Dan tadi sore, beliau menyampaikan hal-hal, yang baru tersampaikan meski saya secara pribadi telah berulang datang ke hadapan beliau. Diantara ungkapan beliau, sore tadi:

(1) bahwa beliau ada berjumpa dengan Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (w. 1957), di tengah pasar. Beliau, Syekh Khatib Ilyas, melihat orang-orang bersedekah kepada Syekh Mudo Abdul Qadim, karena ta’zhim dan hormat kepada tuan syekh itu.

(2) Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus, apabila beliau makan dalam jamuan, beliau makan separuh lalu memberikan separuhnya kepada masyarakat yang ada disekililing beliau. Masyarakat banyak kemudian merebut pemberian Syekh Mudo Abdul Qadim itu. Begitu kuat kepercayaan orang dulu terhadap berkah dari seorang ulama, apalagi yang tergolong sufi.

(3) Untuk beristikharah, di antara ijazah Syekh Khatib Ilyas sore tadi, ialah membaca 4 ayat terakhir Surat al-Fajr sesudah salat Subuh, insyaallah dikuatkan hati kepada pilihan-pilihan terbaik dalam hidup.

Baca Juga: Mengunjungi Syekh Khatib Ilyas

Hal lain yang menarik, dan menunjukkan kekuatan jiwa beliau, bahwa Syekh Khatib Ilyas apabila merasa tidak mumpuni menjawab, beliau secara terus terang mengatakan “saya tidak mampu menjawab”, dan memberikan rekomendasi orang-orang yang dapat menjawab persoalan itu. Dalam masa hidup yang lama, pengetahuan yang telah diperoleh, serta pengalaman yang kaya, bisa saja beliau menjawab persoalan-persoalan tadi, namun dengan rendah hati beliau serahkan kepada ahlinya. Dalam kitab-kitab saya baca, sikap ini, merupakan salah satu ciri ulama yang sebenarnya.

Semoga Allah memanjangkan usia beliau, dan izin Allah dapat pula kita menyauk hikmah, berkah, dan madad dari jiwa beliau. Aaamiiin

Titian Dalam, Gunuang Omeh, 2 Februari 2021

Foto-foto, kredit: Opin

Apria Putra
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota