Mengunjungi Syekh Khatib Ilyas

Mengunjungi Syekh Khatib Ilyas
Ilustrasi/Dok. Apria Putra

Seminggu sudah libur dijalani. Beberapa agenda sudah dipenuhi, juga ada yang menunggu giliran.

Salah satu agenda libur, yang sampai bulan Februari itu, ialah ziarah, mengunjungi guru/ ulama-ulama tua. Kemarin, Ahad, saya penuhi itu dengan ziarah ke hadapan guru, al-‘Arif billah Syekh Khatib Ilyas Titian Dalam, ulama sepuh di pedalaman Luhak nan Bungsu.

Ziarah kali ini cukup istimewa bagi saya. Selain dipenuhi pembicaraan yang menarik hati, beliau –sebelum pertemuan ini- sering teringat dengan saya. Bermula dari ingatan terhadap syi’ir-syi’ir Abu Nuwas, Nazham Alfiyah, Kaidah Nahwu dan lain-lainnya. “Potang takona-kona juo Pak Guru” (kemaren teringat-ingat juga pak Guru), begitu beliau memulai percakapan siang itu. Beliau sering memanggil saya “Pak Guru”, untuk membesarkan hati saya, sebab saya adalah seorang pengajar (di kampus, juga di pesantren). Ibarat seorang ayah, sedang membesarkan hati anaknya. “Kini basuo kironyo”, begitu beliau melanjutkan.

Seperti pertemuan yang sudah-sudah, beliau tidak lupa menazhamkan kasidah atau Matan Alfiyah, sambil menerawang jauh; seolah-olah mengingat sesuatu, yang begitu berbekas, sangat indah. Kemudian beliau bercerita tentang masa-masa menjadi anaksiak di Canduang. Beliau baca nama-nama beberapa guru. “Ongku Abdullah, tu nan paling ‘alim.” Beliau berujar. Perlu kawan tahu, dulu, di Madrasah Canduang, guru-guru, selain Inyiak Canduang, dipanggil dengan sebutan “Ongku” (berasal dari kata tuangku/ tuanku). Tidak seperti sekarang, guru-guru dipanggil dengan ustadz.

Saya juga mendengar satu yang menarik dari beliau, mengenai tawadhu’ dan kuat kemauan belajar ulama-ulama dulu. Beliau mengungkapkan bahwa di Canduang dulu, salah satu yang berbekas ialah Ongku Izzuddin (yaitu Alm. Buya H. Izzuddin Marzuki, LAL., maestro Fiqih Lughah Sumatera Barat, lulusan Qismul ‘Arabiyah al-Azhar). Meskipun Ongku Izzuddin telah menjadi guru di Canduang, tapi beliau tidak segan-segan untuk terus belajar. Beliau mempunyai semangat belajar yang tinggi. Hal ini tidak memudar, meskipun sudah menjadi guru/ buya, dan mensurahkan (menerang) kitab besar-besar.

Beliau, Abuya Syekh Khatib Ilyas, bercerita dengan mata berbinar-binar, seolah-olah mengenang Canduang sebagai suatu yang luar biasa dalam hidupnya.

Siang semakin tinggi. Gerimis dan hembusan angin dari sela-sela bukit Sawah Panjang, agak menjadi-jadi. Tapi pembicaraan kami kian asyik, kian luas.

Kami kemudian beranjak mendiskusikan Kitab Abu Ma’syar al-Falaki (Kitab Bintang Dua Belas), membahas Ilmu al-Manaq Syekh Mudo Abdul Qadim, dan menguraikan keistimewaan Silek Kumango. Beliau, Abuya Syekh Khatib Ilyas, juga tidak lupa mengungkap kisah-kisah ketika belajar dan dididik oleh Syekh Mukhtar Ongku Tanjuang dan Syekh H. Abdul Malik Belubus, termasuk dalam hal silat.

Pembicaraan semakin meningkat, berbicara tentang pertemuan dengan para wali. Pembicaraan ini bersifat ruhani. Pertanyaan yang membuat saya tersentak dari beliau, “Sudahkah bertemu dengan Wali Silat?” (qaul bil ma’na).

Angku Syekh Jamaluddin dan Surau Parak Pisang

Tidak terasa dua jam kami bertalaqqi. Beliau menghamparkan lautan, saya menyauk. Sesuai dengan adat keramah-tamahan Luak Limo Puluah, sebelum pulang, juadah diketengahkan. Agama mengajarkan bahwa makan minum di rumah orang saleh, lagi ‘alim, lagi mursyid, suatu yang dituntut. Hidangan kami nikmati, dengan harapan turun keberkahan, dapat jua hendaknya menyauk lautan ilmu dan hikmah yang tiada bertepi, yang dipertaruhkan (dititipkan) Allah pada jiwa beliau.

Keramah-tamahan beliau suatu yang luar biasa bagi saya. Betapa tidak. Seseorang ulama sepuh, yang gerak-gerik hati kita-pun dapat beliau baca dengan seksama, menyambut setiap yang datang layaknya seorang anak. Setiap kalimat diperhatikannya, kemudian dijawab dengan kata-kata yang lembut dihiasi senyuman. Beliau duduk berdua dengan istri beliau menghadapi kami yang hadir, dengan segala adab kesopanan yang begitu berbekas. Wahai kawan, bagaimana akan mungkin buya-buya seperti beliau akan tega kita katakan sebagai ahli bid’ah? Sedangkan semua tindak tanduk, adab laku kesopanan, adalah yang tersurat dalam kitab semuanya?

Matahari sudah begitu meninggi. Kami yang hadir pamit kepada beliau untuk pulang. Kalimat beliau ketika pulang amat sangat menyentakkan saya, lebih menyentakkan dibandingkan dengan pertanyaan “Wali Silat” tadi. Apa kata beliau, “Pak Guru bao juo-lah baliak (bawa juga-lah kembali) Kitab Alfiyah ka siko (ke sini), nan agak joleh dibaco (yang agak jelas untuk dibaca), nan dapek juo diulang-ulang (yang bisa juga diulang-ulang).” Saya berfikir, min jumlatil auliya’, dalam usia yang demikian sepuh, lebih dari 95 tahun, beliau masih ingin mengulang-ulang pelajaran Alfiyah. Begitu berbekaskah Canduang bagi beliau? Sosok beliau yang menjadi salah satu sufi besar dan tertua di kampung kami, dalam pikiran saya beliau hanya akan sibuk dengan hal-hal ruhani. Ternyata saya salah. Minat belajar begitu tinggi, tidak ada istilah kaji tinggi kaji rendah, begitulah sufi sejati memandang.

Saya teringat sebagian orang, ketika pakaian sufi dipakaikan padanya. Lupa ia pada Nahwu. Remeh ia pada Sharaf. Dipandang itu hanya ilmu kulit. Sebab apa, sebab kaji sudah tinggi, sudah dipandang “tuanku syekh”, “saliah bertuah”, dan lain-lain. Bagaimana mungkin ada istilah “kulit” dan “isi”, kaji rendah kaji tinggi, bukankah semuanya hak, dan hak kembali kepada yang punya hak, yaitu Allah. Sesuatu yang berada di sisi Allah, bagaimana akan dinilai “rendah” dan “tinggi”?

Dari sosok Abuya Syekh Khatib Ilyas saya belajar banyak, terutama bagaimana duduk pada lapik sufiyah. Meskipun pelajaran ini tidak berbunyi, hanya i’tibar-i’tibar dari lisanul hal.

“Insyaallah, Tuak”, jawab saya. Beliau-pun tampak senang, rasa-rasanya lepas hasrat hatinya. Saya bergumam dalam hati, begitu luas pembahasan siang ini, mulai dari astrologi, silek (silat), tasharruf auliya’, dan lain-lain, ujung penyampaian pulangnya ke Alfiyah juga. Allah.[]

Share :
Apria Putra
Apria Putra 44 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*