Menulis Jernih, Menulis Kreatif

Menulis Jernih, Menulis Kreatif
Ilustrasi @cbyoung /Dok. https://unsplash.com/photos/QdRnZlzYJPA

Menulis Jernih Menulis Kreatif

“Emang kamu suka nulis?”

Saya akan menjawab tidak pada saat saya seusia kalian, remaja 17 tahun yang sehari-harinya berkutat dengan sekolah, mengaji, dan membantu orang tua di rumah (kadang-kadang). Mengapa tidak? Karena di hari-hari itu saya tidak pernah diingatkan oleh saran-saran semacam ini:

“Apa pun yang bisa dipikirkan bisa dipikirkan secara jernih. Apa pun yang bisa disampaikan bisa disampaikan secara jernih.” – Ludwig Wittgenstein

“Menulis adalah kegiatan intelektual. Ia dimulai dari pemikiran. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, penulis harus menawarkan isu-isu intelektual … Maka, kita selalu akan mendengar saran bacalah sebanyak mungkin, setiap penulis yang baik selalu bermula dari pembaca yang lahap.” – Jacques Barzun

“Menyempurnakan kecakapan adalah panggilan sepanjang hayat, dan kekeliruan adalah bagian dari permainan. Meskipun upaya untuk memperbaiki diri bisa didapatkan melalui pembelajaran dan diasah dengan latihan, tetapi pertama-tama ia harus dikobarkan oleh kegembiraan menikmati karya terbaik para master dan dorongan untuk mendekati keunggulan mereka.” – Steven Pinker

Di usia belasan tahun, saya sudah menjadi pembaca yang lahap; menyukai banyak bacaan, mulai dari Donal Bebek, Majalah Bobo, Wiro Sableng, Majalah Ria Film, Majalah Otomotif, komik Si Buta Dari Gua Hantu, buku-buku stensilan Kho Ping Ho, atau buku-buku Balai Pustaka yang kebetulan saya temui di sebuah lemari tua di rumah tempat kami sekeluarga menumpang tinggal bertahun-tahun lalu.

Dari petualangan dengan beragam baacaan itu saya tidak tergerak sama sekali untuk memproduksi teks, membuat tulisan, sebagaimana tulisan-tulisan yang saya baca itu. Di kemudian hari saya paham, bahwa aktivitas membaca tidak sama dengan kerja penulisan. Membaca merupakan sikap pasif dalam arti menerima informasi apapun melalui bacaan, sementara menulis adalah kerja penciptaan, sebuah invensi. Membaca adalah satu tahap dari aktivitas berpikir manusia, dan menulis adalah kreativitas tahap lanjut dari membaca.

Bila bahan bacaan yang didapat dari membaca adalah mata air, menulis adalah saluran ke mana mata air itu akan dialirkan.    

Apa Perlunya Menulis?

Menulis, dan itu berarti memproduksi teks dan mencipta, adalah perpanjangan tangan dari bicara. Dari tulisan kita bisa mendengar gema suara yang datang dari berpuluh abad yang lampau, dari negara, wilayah, dan latar belakang budaya dan keahlian-keahlian berbeda berbagai ragam manusia.

Dalam berbicara, anda berusaha sedemikian rupa untuk menggambarkan apa yang ada di dalam pikiran; kegelisahan, kegetiran, keriangan, maupun ide-ide yang tersimpan di dalam benak kepada lawan bicara anda. Dan untuk tujuan itu anda mencari cara paling menarik dan paling meyakinkan dan didukung oleh segala perangkat komunikasi yang anda miliki.

Untuk meyakinkan lawan bicara, anda memanfaatkan gestur, mimik, dan ekspresi. Tidak cukup sampai di situ, anda juga mencari tahu orang seperti apa yang anda hadapi; bagaimana karakternya, kepribadiannya, pengetahuannya, dan lain sebagainya.

Demikian pula halnya dengan menulis. Anda membutuhkan seperangkat kecakapan untuk menyampaikan gagasan, kegelisahan, kemurungan, kemarahan dan harapan-harapan anda kepada pembaca, sehingga pengalaman personal anda bisa anda bagi dan, pada tingkat tertentu, bisa dirasakan dan seakan dialami sendiri oleh pembaca anda.

Pembicaraan yang baik meninggalkan kesan mendalam bagi pendengarnya untuk waktu yang lama, tulisan yang bagus, yang dibangun dengan teknik dan dan kecakapan memadai, akan bertahan lebih lama di benak pembaca dan mungkin abadi. 

Tanpa memalui tulisan anda tidak mungkin akan menjumpai Socrates dan ungkapannya yang terkenal: “Bagaimanapun, menikahlah. Jika istrimu baik, kau akan bahagia. Jika istrimu buruk, kau akan jadi filsuf.” Kalimat Socrates ini datang dari beribu tahun lampau dan sampai hari ini masih berlalu-lalang di timeline medsos kita dalam bentuk quote dan insta story.

Tanpa pewarisan tertulis anda juga tidak akan mungkin bertemu dengan ungkapan yang, konon, keluar dari mulut Imam ‘Ali ibn Abi Thalib yang menggetarkan yang, lebih kurang, maksudnya begini: “Semua manusia tertidur. Saat mati, mereka akan terbangun.” Kalimat yang diukir di nisan Profesor Annemarie Schimmel ini telah menembuh ribuan kilometer jarak dari jazirah Arab untuk sampai ke kota Konn, di Jerman sana, menempuh belasan abad untuk kemudian terpatri dalam kaligrafi arab yang indah di nisan orientalis termasyhur itu.

Bila tanpa perantara teks-teks klasik masa lampau yang kita pelajari hari ini di madrasah-madrasah, alangkah mustahil menyelami dalamnya samudera kearifan para wali, kecemerlangan buah pemikiran para fuqaha, semesta rahasia al-Qur’an dan Hadis, dan ilmu-ilmu pendukung lainnya yang hidup, tumbuh dan terus berkembangan di dalam diri kita. 

Singkatnya, seluruh pengetahuan yang diwarisi manusia dari masa lalu dan generasi-generasi lampau mustahil ada tanpa perantara tulisan. 

Mari Menulis Jernih

Menulis, sebagaimana aktivitas berpikir berpikir lainnya, adalah pekerjaan mudah bila kita mengetahui caranya, memperoleh teknik dan kecakapannya. Sebaliknya, menulis adalah pekerjaan jahanam bagi orang yang malas mendayagunakan pikirannya. Kita kerap dihadapkan pada manusia jenis ini, yaitu manusia yang serba setengah-setengah; setengah pintar, setengah matang, setengah terampil, setengah terlatih, setengah serius, dan setengah setengah lainnya.

Satu dasawarsa terakhir, dunia kita dikepung oleh tulisan, sebagian besar hidup kita nyaris dikuasai oleh teks, semenjak dari teks-teks percakapan sehari-hari yang bisa kita jumpai di aplikasi perpesanan instan seperti WhatsApp, Telegram, atau Signal, hingga tulisan-tulisan sampah, setengah serius, serius, penting ataupun receh yang bisa kita jumpai di Facebook, Instagram, dan aplikasi-aplikasi sosial media sejenis. Internet memudahkan jalan; telepon pintar dan jaringan seluler memadai telah menjangakau hampir seluruh orang. Dan di tengah semua kepungan teks itu, tidak dapat tidak, kita tumbuh dan menjadi dewasa.

Orang yang tumbuh dan didewasakan oleh teks-teks sampah dan tulisan-tulisan buruk tentu akan menjadi pribadi yang sama sekali tidak menarik. Sementara itu, orang-orang yang dibesarkan oleh teks-teks yang bagus dan tulisan-tulisan yang memikat dan membangkitkan kesadaran akan dewasa dengan kecakapan berpikir yang tidak setengah-setengah.

Jika kita disuruh memilih, antara mengungkapkan gagasan dengan cara yang cakap atau dengan cara serampangan, tentulah kita memilih yang pertama, terlepas dari apakah kita mengetahui caranya atau tidak.

Pada kesampatan ini, saya mengajak anda untuk menulis dengan baik, dengan jernih; dengan tulisan yang membangkitkan kesadaran pembacanya, tulisan yang mengalir sejernih kebenaran. Ini ajakan yang sungguh-sungguh. Anda bisa memulainya dari sekarang. 

Di Eropa dan Amerika pada abad ke-18 anak-anak lazim disuruh oleh orang tua atau guru mereka untuk menyalin karya-karya para maestro untuk mendapatkan keterampilan menulis yang benar.

“Jack London, Robert Louis Stevenson, dan Benjamin Franklin adalah tiga dari sekian nama yang mendapatkan keterampilan menulis dengan metode menyalin karya-karya orang lain,” tulis sastrawan AS Laksana dalam pengantar kelas menulis Menggambar Dengan Kalimat yang ia ampu.

Jika mau, anda bisa melakukan hal serupa. Sedikit demi sedikit kebiasaan baik ini akan menjadi langkah awal bagi anda untuk menuliskan apapun gagasan yang

mengendap di kepala dengan bagus, dengan jernih. Anda akan menjadi peka dengan kalimat. Anda akan otomatis tahu—atau setidaknya bisa merasakan—beres atau tidaknya sebuah kalimat melalui metode ini. 

Mari Menulis Kreatif

Kreativitas tidak jatuh dari langit; ia bukanlah sebangsa wangsit yang mendadak memasuki otak kita di tengah malam buta saat bersamadi. Kreativitas berawal dari iklim; dari lingkungan dan karya orang-orang yang mempengaruhi pola pikir dan cara anda memandang hidup.  

Menulis adalah kerja kreatif, sebuah invensi atau penciptaan. Anda tidak akan menemukan ide atau gagasan yang sama yang ditulis berulang-ulang oleh seorang penulis yang terampil. Kalaupun gagasan yang mendasari beberapa tulisannya berasal dari gagasan yang sama, ia akan menuliskannya dengan teknik, sudut pandang, dan gaya yang berbeda-beda.

Anda tidak akan mau menulis seperti ini: “Seberapa pentingkah sebuah pernikahan bagi kalian? Pertanyaan di samping mungkin memiliki jawaban berbeda-beda pada setiap individu. Menurut saya pernikahan merupakan sesuatu hal yang sangat sakral dan sebisa mungkin dilakukan satu kali seumur hidup. Pernikahan adalah salah satu Sunah Rasul yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan sehingga dengan menikah orang tersebut dapat menyempurnakan hidup, karena dapat saling memberi dan menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing di mana setiap pasangan tersebut dapat berpeluang untuk mengembangkan diri menjadi lebih dewasa dan matang”

Petilan tulisan di atas adalah truisme, kalimat yang mengandung kebenaran yang sudah jelas dan terang dan tidak perlu lagi diungkapkan. Siapa yang tidak tahu bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral? Orang yang pemahaman agamanya paling dangkal sekalipun tahu bahwa pernikahan adalah Sunnah Rasul, bukan? Pernikahan seperti apa yang di dalamnya tidak terdapat aktivitas memberi dan menerima di dalamnya kelebihan ataupun kekurangan masing-masing?

Socrates menyampaikan gagasannya mengenai pernikahan dalam tiga kalimat singkat yang telah saya kutipkan di bagian awal tulisan ini. Kalimat-kalimatnya sederhana, tapi siapapun tahu: tidak mudah membuat kalimat secerdas itu.

Dalam kalimat-kalimat yang jernih mengalir; memiliki semua detail yang diperlukan, punya daya pikat yang sukar ditolak atau diabaikan, dan memiliki segala kualitas yang patut dikenang selamanya itulah kreatifitas bekerja.[]