Menumbuhkan Kecintaan terhadap Ulama

Menumbuhkan Kecintaan terhadap Ulama
Foto Dok. http://febyoktora-archi.blogspot.com/

Kecintaan terhadap Ulama Kecintaan terhadap Ulama

Verkerk Pistorius dalam artikelnya tahun 1869 tentang pengaruh ulama di Padang Darat (TNI/1869/3/III) menulis bahwa ulama di Minangkabau merupakan golongan yang paling berpengaruh dan paling berpotensi mendatangkan ancaman bagi kekuasaan pemerintah kolonial. Penulis pemerhati kebudayaan Minangkabau tersebut mengatakan bahwa ulama “memberikan dorongan atas tiap gerakan, walau ke mana saja arah tujuannya. Mereka meninggikan penduduk dan mengarahkan mereka menuju hal-hal yang baik; tapi mereka juga bisa jadi sumber dari banyak malapetaka.” Pistorius merujuk pada zaman Paderi, pertikaian paham antara kelompok agama serta indikasi-indikasi perlawanan jangka pendek dan jangka panjang terhadap kekuasaan Belanda melalui penanaman semangat jihad.

            Bahwa ulama merupakan kaum yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Minangkabau selama berabad-abad tak dapat disangkal dengan merujuk kenyataan sejarah. Apabila pemimpin-pemimpin lokal biasa hanya bisa bertahan melawan Belanda dalam kurun beberapa tahun atau bahkan bulanan dan mingguan, kaum ulama kita zaman dulu sanggup menahan Belanda puluhan tahun melalui perjuangan senjata (Perang Paderi dari 1818-1837), sehingga tak heran mereka jadi kelompok yang disegani bahkan oleh penguasa kolonial sendiri. Karena keberadaan mereka pulalah, Belanda hati-hati supaya tidak terlalu zalim terhadap penduduk dan membangkitkan semangat jihad skala besar yang mudah terpicu sewaktu-waktu.

            Apabila orang-orang Belanda sendiri segan dan hormat terhadap ulama kita, tidakkah lebih layak bagi kita mencintai para ulama?

            Ada setidaknya tiga alasan mengapa kita layak mencintai ulama: pertama alasan historis (masa lalu), kedua alasan kontemporer (masa sekarang), dan ketiga sebutlah alasan perenial (tak kenal waktu dan tempat).

            Salah satu alasan historis adalah mengingat kaum ulama kaum yang telah memperkenalkan dan menanamkan ajaran Islam ke tengah masyarakat Minangkabau. Mereka mengorbankan diri lahir batin supaya masyarakatnya dapat mengenal jalan hidup yang paling mulia. Tidak sedikit ulama kita yang jauh-jauh ke Timur Tengah dan tak pulang-pulang, atau yang dibenci oleh masyarakat karena dakwahnya serta tak kurang pula yang dibunuh, baik oleh penjajah maupun masyarakatnya sendiri.

Baca Juga: Cinta dan Rindu Menjadi Azab saat Bencana Dipolitisasi

            Nikmat beragama Islam adalah salah satu hal yang tak ternilai, kecuali tentu bagi yang tak menganggapnya begitu. Dengan beragama Islam, kita menjadi satu dengan lebih dari satu miliar umat Islam di enam benua, berkiblat yang sama dan yang terpenting kita jadi tahu tujuan hidup manusia yang tertinggi ada pada tataran spiritual (penghambaan yang benar terhadap Tuhan). Tanpa ulama, barangkali kita akan lebih materialis atau bisa jadi lebih ateis daripada Barat, kalaulah tidak lebih animis daripada suku-suku terasing.

            Alasan kontemporer khususnya di Minangkabau adalah karena terjadinya kelangkaan ulama dan meningkatnya kekurang-acuhan terhadap para ulama. Sementara generasi tua yang masih mengenang ulama-ulama besar kita masa lalu satu per satu telah berpulang, generasi muda juga menunjukkan kekurangan minat yang serius terhadap sejarah para ulama.       

            Alasan perenial mencintai ulama disimpulkan dalam hadis Nabi SAW: akrimu al-‘ulama fainnahum waratsatul anbiya, faman akramahamum faqad akramallaha wa rasulahu (HR Khatib dari Jabir ra). Artinya,“ Muliakanlah ulama karena ulama pewaris para nabi, siapa yang memuliakan mereka berarti memuliakan Allah dan Rasul-Nya.“ Karena ulama adalah golongan yang paling mencintai dan mengenal Tuhan, dengan mencintai ulama, kita pun bisa lebih cinta dan kenal akan Tuhan. Dalam situasi apa pun, ulama selayaknya menjadi apa yang oleh Muhammad Qasim Zaman (2002) disebut custodians of change (pengawal perubahan).

            Sekurang-kurangnya ada empat hal untuk menanamkan kembali kecintaan terhadap para ulama.

            Satu, mendokumentasikan riwayat hidup ulama-ulama yang ada di Sumatera Barat. Hal ini sudah banyak dilakukan, misalnya dalam skripsi serta tesis mahasiswa-mahasiswa berbagai perguruan tinggi. Namun hendaknya, bukan hanya ulama besar, tapi ulama-ulama lokal lain dalam lingkup nagari sampai jorong perlu juga dicatat sebelum generasi yang masih mengingat mereka tidak ada lagi. Alangkah bagusnya, warga nagari di mana ada ulama berinisiatif mencatat riwayat ulama daerahnya sendiri. Riwayat ini bisa dimasukkan dalam pelajaran muatan lokal atau yang sesuai, dengan tujuan utama memperkenalkan generasi muda dan menanamkan kecintaan mereka pada ulama.

            Kedua, “penyelamatan” surau-surau ulama. Perlu dilakukan lagi pembangkitan dan penyegaran terhadap surau-surau para ulama zaman dulu, baik dalam aspek fisik maupun non fisik. Non fisik misalnya menggiatkan lagi pendidikan agama berbasis surau, menghidupkan kembali warisan dan ajaran ulama termaksud, ziarah berkala, dan sebagainya disesuaikan dengan kebutuhan dan ciri khas lokal.

            Ketiga, mengurangi atau menahan sentimen kelompok, misalnya jika ada yang berpendapat tidak layak ulama-ulama tarekat dihormati dan dicintai, yang pantas itu hanyalah ulama-ulama reformis saja, atau sebaliknya. Hal ini bersumber dari pikiran sempit belaka, karena Hamka sendiri menghormati sebagian besar ulama tarekat, dan bahkan ayahnya sendiri, Haji Rasul, sudah sepakat dengan ulama-ulama tua pada tahun 1920-an untuk mengurangi konflik-konflik tak perlu serta lebih mengutamakan persatuan untuk memajukan umat Islam Minangkabau dengan tetap menghormati perbedaan-perbedaan dan “daerah kekuasaan” masing-masing (lebih lanjut baca dalam karangan-karangan Hamka, misalnya Ayahku).

            Keempat, tidak mempertentangkan kemajuan spiritualitas dan kemajuan duniawi. Mencintai ulama tentu bukan berarti beribadat saja terus menerus, tapi juga bekerja untuk lebih makmur. Jika kemajuan material diiringi kemajuan spiritual, maka masyarakat kita akan lebih kuat untuk menghadapi ancaman dan tantangan apa pun.

Baca Juga: Ulama-ulama Sufi Minangkabau

            Pada dasarnya, yang terpenting adalah bagaimana spirit ulama zaman dulu dapat dibangkitkan lagi. Spirit yang dimaksud tentunya bukan dalam pengertian menghidupkan hal-hal negatif seperti taklid buta dan fanatisme, tapi semangat untuk menggairahkan spiritualitas masyarakat, semangat untuk meredam pengaruh-pengaruh buruk Westernisasi dan globalisasi serta semangat untuk melakukan perubahan-perubahan dalam masyarakat jika perlu. Bila diringkas, kesemuanya tidak lain adalah semangat jihad yang tulus dan benar. Itulah kelebihan ulama Minangkabau zaman dulu. Itulah alasan mengapa kita layak mencintai mereka.[]

Novelia Musda

Novelia Musda
About Novelia Musda 5 Articles
Novelia Musda, SS, MA. Sekarang sebagai staf Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat. Lahir dan besar di Rengat, Riau, 8 November 1982 serta telah tinggal berpindah di Sicincin, Bukittinggi dan Padang. Asal suku Koto Piliang, Nagari Sumanik, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar. Penerjemah mengambil S1 Sastra Arab di IAIN (sekarang UIN) Imam Bonjol Padang (2000-2005) dengan skripsi syair zuhud Al-Ma’arry. S2 dilanjutkan di Universiteit Leiden, Belanda, jurusan Islamic Studies (2008-2010) dengan tesis tentang Tarekat Naqsyabandiyah di abad 19 Minangkabau.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*