Menyilau Buya Zamzami dan Pulang ke Rumah “Ashabul Yamin”

Menyalami Buya Zamzami Yunus dan Pulang ke Rumah Ashabul Yamin

Buya Zamzami

Kamis, 13 Agustus 2020. Kali ini Kaji Surau TV dan web.tarbiyahislamiyah.id berkolaborasi dalam tim “Silau-Manyilau Anak Siak Tarbiyah Islamiyah”. Acara ini merupakan sebuah program Talk Show yang menghadirkan ulama-ulama tarbiyah islamiyah, dan menminta bercerita sedikit tentang pengalaman-pengalaman hidup dengan harapan sebagai ibrah bagi umat sekarang.

Sesuai dengan kesepakatan tim, tayangan perdana akan menghadirkan Buya Zamzami Yunus. Beliau adalah seorang tokoh ulama yang berpengaruh di Sumatera Barat. Beliau juga mendirikan Pondok Pesantren Ashabul Yamin, Lasi Tuo, Sumatera Barat pada tahun 1992. Beliau sendiri adalah murid langsung dari Syekh M. Zein Katimbuang, Syekh Marapi, Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Zakaria Labai Sati, dan Syekh Ruslan Nur Limbukan.

Untuk pertama kalinya tim “Silau-Manyilau” memilki anggota yang bertebaran. Ada di antaranya di Sumatera Barat dan di rantau. Dalam rapat tim dijelaskan, bahwa yang akan melancong untuk bersilaturahmi dengan Buya Zamzami adalah saya, Abdul Kamil, dan Ibrahim Mufid.

Apa alasan sehingga kami hanya bertiga? Pertama, karena hanya kami yang masih bujangan dan banyak memilki waktu luang. Serta, terbesit pula sedikit harap mudah-mudahan santriwati Ashabul Yamin bisa menjadi alasan kedua selain Buya Zamzami untuk kembali ke negeri dingin Lasi Tuo ini. Kedua, Alhamdulillah ini adalah sebuah kesempatan emas. Bisa menemui Buya Zamzami dan pulang ke Pondok Pesantren Ashabul Yamin adalah sebuah kemujuran dari diri saya sendiri termasuk juga teman-teman. Dalam keadaan pandemi Covid-19 yang lama kian berlanjut malah semakin tinggi semangat untuk Tarbiyah Islamiyah.

Baca Juga: Nasib Madrasah Tarbiyah Islamiyah dalam Ingatan Sejarah; Catatan Pasca Halaqah Online Kaji Surau

Talk Show Dimulai

Ibrahim Mufid sebagai host (pembawa acara). Pertanyaan-pertanyaan telah disiapkan. Dimulai dari pribadi seorang Buya Zamzami, membangun sekolah, hingga pendapat beliau tentang Tarbiyah Islamiyah. Berikut beberapa pertanyaannya.

Bagaimana pengalaman buya dalam menuntut ilmu agama? Perihal menuntut ilmu agama merupakan wasiat ayah beliau yang telah meninggal kepadanya. Wasiat itu adalah sebuah perintah agar anak (Buya Zamzami) belajar agama. Guru awal dari khazanah keilmuan Buya Zamzami adalah Syekh M. Zein Katimbuang dan Syekh Marapai.

Semasa Sekolah Dasar (dulu disebut ‘Sekolah Rakyat’) beliau sudah memulai belajar agama kepada 2 guru di atas. Sampai menyambung ke MTI Canduang Buya Zamzami langsung masuk kelas 4. Lantaran, ketika itu pada tahun 1960-an untuk masuk ke MTI Canduang sesuai dengan kapasitas ilmu calon murid. Jadi, berhubung Buya Zamzami telah belajar agama sedari kecil, maka langsung diterima di kelas 4.

Setelah tamat belajar di Canduang pada akhir tahun 1965 beliau melanjutkan belajar ke Malalo, Danau Singkarak. Belajar langsung kepada Syekh Zakaria Labai Sati dari tahun 1966-1971. Setelah tamat berlanjut pula menambah keilmuan ke Limbukan, Payakumbuh. Syekh Ruslan Nur Limbukan menjadi guru beliau selama 6 bulan.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa pondok pesantren buya dinamai dengan ‘Ashabul Yamin’? Perlu diketahui sebelum beliau mendirikan Pondok Pesantren Ashabul Yamin, beliau juga mendirikan sekolah yang dinamai “Darul Ulum” di daerah Larangan, Lasi Tuo. Darul Ulum sendiri bertahan selama 3 tahun dengan murid 70 orang. Darul Ulum dengan waktu yang singkat dikarenakan tempat yang jauh dan akses jalan yang belum memadai.

Baca Juga: Profil Ponpes Ashhabul Yamin

Nama ‘Ashabul Yamin’ menurut Buya Zamzami bermakna tafa’ul kepada ashabul yamin (golongan kanan) dalam Al-quran. Arti dari golongan kanan adalah sekelompok manusia di akhirat yang menerima seluruh catatan amal perbuatannya dari sebelah kanan, dan tempat tinggal mereka adalah surga. Begitu yang Buya harapkan dari mendirikan Pondok Pesantren ini.

Terakhir, sebagai penutup Talk Show. Buya Zamzami memberi nasihat dan pesan kepada anak siak generasi sekarang. Buya berpesan di mana pun ada Madrasah/Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah anggaplah sebagai rumah. Walau tempat belajar berbeda, namun jiwa kita tetap satu.[]

Ilham Arrasulian
Ilham Arrasulian 12 Articles
Mhd Ilham Armi adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tua. Berkuliah di UIN Imam Bonjol Padang, tamatan Ponpes MTI Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Belajar membaca dan menulis untuk menjadi sebaik-baik anak yang baik bagi orang tua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*