Misteri Penyebutan Kata “Zain” dalam Kitab Ulama Nusantara

Misteri Penyebutan Kata "Zai"n dalam Kitab Ulama Nusantara
Ilustrasi/Dok.https://www.namearabic.com/en/product/dewani/zayn

Kata “Zain” (hiasan) dan beberapa kata lainnya seperti; Al-Syumus al-Lami’ah (kilatan cahaya matahari), Al-Shawa’iq al-Muhriqah (sambaran petir yang membakar) sering dipakai dalam pembuatan judul sebuah buku atau kitab ulama-ulama asal Nusantara. Kata-kata ini menarik, unik, bernazam dan tentu saja memiliki maksud tersendiri.

Tidak seperti sekarang, kitab karya ulama Nusantara silam yang berbahasa Arab maupun Jawi biasanya memiliki judul yang unik, menarik dan berirama atau yang dikenal dengan nazam. Pembuatan judul dalam bentuk tersebut mempunyai maksud tertentu oleh penulisnya agar judul karyanya mudah dihafal seperti halnya sebuah matan yang memang dibuat untuk tujuan tersebut.

Namun, ada yang menarik menurut saya bahwa ada beberapa kata yang tidak asing dan sering dipakai dalam pembuatan judul sebuah buku atau kitab, seperti Al-Syumus al-Lami’ah (kilatan cahaya matahari), Al-Shawa’iq al-Muhriqah (sambaran petir yang membakar) dan lainnya yang biasanya digunakan untuk membantah sebuah kitab lain atau pendapat tertentu.

Adalah kata “zain” (hiasan) di antara kata dalam bahasa Arab yang sering digunakan sebagai judul kitab. Tiga judul kitab ulama Nusantara berikut ini adalah yang menggunakan kata “zain”:

1. Nihayah al-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in (puncak hiasan dalam memberikan bimbingan bagi pemula) karya Syekh Muhammad Nawawi Banten. Karya yang cukup terkenal terutama di kalangan pesantren ini adalah kitab berbahasa Arab yang membahas fikih dalam mazhab Syafi’i yang ada dalam koleksi dan diterbitkan oleh Al-Mathba’ah al-Wahbiyah di Mesir pada tahun 1297 H. Barangkali ini merupakan cetakan pertama kitab ini yang sampai di Nusantara. Kitab tersebut adalah milik peninggalan Syekh Abbas al-Khalidi an-Naqsyabandi dan selanjutnya diwarisi kepada anak beliau Syekh Muhammad Zain Batubara atau yang dikenal dengan Syekh Matjen Tasak. Alhamdulillah kondisi kitab masih bagus dan dapat dibaca.

Baca Juga: Syair Nazham Tradisi Bersastra Ulama Minangkabau

2. Isbat az-Zain li Shulh al-Jama’atain bi Jawaz Ta’addud al-Jum’atain fi ar-Radd ‘ala al-Kitab al-Musamma Taftih al-Muqlatain (menetapkan hiasan bagi mendamaikan dua jamaah, dengan membolehkan dua Jumat, sebagai bantahan atas kitab Taftih al-Muqlatain) karya Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dalam bahasa Arab. Sebagaimana judulnya, kitab ini sengaja ditulis oleh mahaguru ulama Nusantara asal Minangkabau di Mekah ini sebagai bantahan atas karya Sayyid Usman Betawi yang berjudul Taftih al-Muqlatain fi ar-Radd ‘ala Shulh al-Jumatain (membuka kedua bola mata dalam membantah kitab Shul al-Jumatain) perihal keabsahan salat Jumat di masjid baru (masjid Lawang Kidul) di Palembang pada akhir abad 19 masehi yang memicu polemik yang cukup panjang dan menyita perhatian keduanya dan juga melibatkan ulama-ulama besar Mekah. Sebagaimana diketahui bahwa Syekh Ahmad Khatib Minangkabau sendiri membolehkan sementara di sisi yang berlawanan adalah fatwa Sayyid Usman. Disebutkan menyita karena untuk ini Sayyid Usman menulis 10 judul kitab sementara Syekh Ahmad Khatib 2 kitab.

3. Fawa’id az-Zain Ilm al-Aqa’id Usuluddin (beberapa manfaat perhiasan dalam ilmu akidah dan usuluddin) karya Syekh Muhammad Zain Batubara yang ditulis dalam tulisan Jawi (Arab Melayu). Kitab ini merupakan syarahan (penjelasan) atas kitab Umm al-Barahin karya Imam Sanusi yang cukup terkenal tentang sifat 20. Di antara keistimewaannya karena banyak menukil karya ulama Nusantara masa sebelumnya seperti kitab Bidayah al-Hidayah karya Syekh Muhammad Zain Aceh, Faridah al-Fara’id karya Syekh Ahmad Fathani dan lainnya. Kitab ini diterbitkan di Mesir oleh Mathba’ah at-Taqaddum al-Ilmiyah. Sebagai tambahan, beliau menulis 3 kitab dalam bidang tauhid. Terkait dengan kata “zain” nama beliau sebenarnya adalah Nuruddin yang setelah melaksanakan ibadah haji yang pertama tahun 1320 H/ 1902 M berubah nama menjadi Muhammad Zain agar mendapat berkah dari nama-nama ulama Nusantara sebelumnya seperti Syekh Muhammad Zain al-Asyi (Aceh).

Syekh Muhammad Zain berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, gurunya berguru kepada Syekh Nawawi Banten.

Namun yang belum dijawab apa dan bagaimana misteri dibalik nama “zain” dalam kitab mereka? Ada yang tahu?[]

Share :
Ahmad Fauzi Ilyas
Ahmad Fauzi Ilyas 13 Articles
Peneliti dan Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah, Medan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*