MTI Al-Jamiliyah: Pembaharu Pendidikan Islam di Pariaman

Logo MTI Al-Jamiliyah

Beberapa waktu ini saya dihadapkan pada pertanyaan tentang postingan facebook Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Al-Jamiliyah Kota Pariaman. Salah seorang kawan bertanya ‘ada MTI di Pariaman? Yang lain bertanya lagi ‘sudah berapa lama MTI Al-Jamiliyah berdiri? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang akan saya dan pihak-pihak pengelola madrasah, jelaskan seiring berjalannya proses pembaharuan pendidikan di MTI Al-Jamiliyah.

Semua pertanyaan itu wajar saja muncul, baik dari keluarga besar Tarbiyah Islamiyah maupun dari masyarakat Pariaman. Selama ini madrasah ini tetap berjalan dengan nama MTI tetapi tradisi dan identitas Tarbiyahnya belum nampak sehingga banyak yang tidak tahu.

Baca Juga: Pakiah Dulu Sekarang dan Masa yang Akan Datang

Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di Pariaman

Sesungguhnya kehadiran MTI Al-Jamiliyah di Pariaman bukanlah sesuatu yang baru, baik dari sisi masa berdirinya maupun jumlah MTI di Pariaman. Dalam beberapa catatan ditemukan bahwa MTI Al-Jamiliyah bertransformasi dari halakah surau menjadi madrasah pada tahun 1945 di bawah kepemimpinan Abuya Muhammad Yusuf Jamil bin Syekh Muhammad Jamil al-Khalidi sekembali dari belajar agama kepada Syekh Muhammad Jamil Jaho sebagai pendiri MTI Jaho dan organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Artinya MTI Al-Jamiliyah termasuk pada angkatan kedua perkembangan MTI di Minangkabau setelah berdirinya MTI Canduang di Agam, MTI Jaho di Padang Panjang dan MTI Tobek Gadang di Payakumbuh pada tahun 1928.

Sisi lain, MTI Al-Jamiliyah merupakan salah satu dari MTI yang pernah ada atau masih ada di Kabupaten dan Kota Pariaman. Pada tahun 1950-an Abuya Ahmad Khatib Datuak Tumangguang yang berpaham tarekat Syattariyah mendirikan MTI Tigo Nagari Kayu Tanam. MTI ini sekarang hanya melaksanakan pendidikan MDA Tarbiyah Islamiyah.

Pada tahun 1961 berdiri pula MTI Nurul Yaqin Ringan-Ringan di Pakandangan sekembali Abuya Ali Imran Hasan dari belajar agama Islam kepada Syekh Zakaria Labai Sati, pendiri MTI Malalo Tanah Datar. Namun nama MTI Nurul Yaqin hanya bertahan selama 5 tahun sebab adanya penolakan dari sebagian masyarakat dengan penamaan MTI, meskipun sudah pernah mengeluarkan ijazah tingkat Tsanawiyah pada tahun 1963. Sekarang Nurul Yaqin hanya menggunakan nama Pondok Pesantren dan sudah memiliki sembilan belas cabang, baik di Kabupaten Padang Pariaman, Agam dan lain-lain.

MTI Al-Jamiliyah: Varian Baru Pendidikan Islam

Kabupaten Padang Pariaman merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak lembaga pendidikan keagamaan Islam seperti halakah surau dan pesantren. Termasuk Kota Pariaman, meskipun sudah terpisah secara administratif dengan Padang Pariaman, tetapi tradisi pendidikannya masih tetap bertahan dengan tradisi pendidikan tuanku, baik pada halakah surau maupun pesantren.

Hasil penelitian disertasi saya tentang halakah surau di Padang Pariaman, ada lebih dari 30-an lembaga pendidikan keagamaan yang masih bertahan dengan pola halaah surau dengan model anak pakiah/santri duduk melingkar dan di Tuanku duduk di kursi atau tempat lain yang lebih tinggi. Hal yang sama juga ada di Kota Pariaman, model pendidikan halakah surau Tuanku, meskipun sudah ada pula pesantren modern yang memiliki sistem pendidikam tersendiri pula.

Baca Juga: Nurul Yaqin Ringan-Ringan antara Inyiak Canduang Syek Zakariya Labai Sati dan Syekh H Ali Imran Hasan

Merujuk pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2004 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan di Indonesia maka tipe pendidikan keagamaan Islam di Padang Pariaman dan Kota Pariaman dapat diklasifikasikan pada beberapa tipe yaitu:

Pertama, pengajian kitab kuning yaitu pengajian halakah surau Tuanku yang melaksanakan pengajian kitab tetapi belum terstruktur dan sistematis, baik waktu dan sistem pembelajaran maupun tingkatan kitab-kitab yang dipelajari. Jumlah halakah surau ini masih ada tetapi tidak banyak jumlahnya.

Kedua, pengajian kitab kuning dalam bentuk dirasah islamiyah dengan pola muallimin yaitu pendidikan yang sudah bertingkat dan berjenjang. Kitab yang digunakan sudah bervariasi, baik mata pelajaran maupun tingkat kesulitannya. Umumnya, halakah surau Tuanku di Padang Pariaman memakai pola seperti ini. Ada tingkat dasar dengan belajar kitab-kitab matan, seperti matan al-Ujrumiyah, matan al-Bina, matan al-Taqrib dan lain-lain. Ada pula tingkat menengah dengan kitab syarah yang sudah tidak berbaris dan juga tingkat tinggi sebagai persiapan untuk memperoleh gelar tuanku.

Ketiga, pengajian kitab kuning dan menyelenggarakan pendidikan salafiyah. Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan dan cabangnya masuk dalam tipe pendidikan ini. Kurikulum kitab kuning sebagai kurikulum utama sehingga lebih dominan dan diajarkan dari pagi sampai siang bahkan berlanjut malam. Aktivitas di asrama juga lebih dominan pada penguasaan kitab kuning. Sedangkan pendidikan salafiyah sebagai bentuk diselenggarakannya sistem pendidikan nasional di pesantren, maka diajarkan setelah salat zuhur sampai sore. Pembelajaran antara kitab kuning dan salafiyah dilaksanakan secara terpisah.

Berdasarkan data-data di atas, dapat disimpulkan bahwa belum ada Pondok Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan madrasah, baik tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah dengan sistem pendidikan yang memadukan antara pendidikan agama dan umum secara integral.

Tipe pendidikan yang melaksanakan kurikulum kitab kuning dan madrasah biasanya dilakukan di lembaga pendidikan MTI yang umumnya hari ini tersebar di banyak tempat di Sumatera Barat. Maka MTI Al-Jamiliyah sebagai bagian dari sistem pendidikan MTI memilih untuk menyelenggarakan pendidikan kitab kuning dan madrasah yang dilaksanakan secara integral. Artinya kitab kuning masih menjadi prioritas utama mata pelajaran tanpa mengabaikan pengetahuan umum dan diselenggarakan pada waktu yang tidak terpisah-pisah.

Itulah sebabnya, MTI Al-Jamiliyah hadir sebagai pamabangkik batang tarandam karena pernah jaya pada masa kepemimpinan Abuya Muhammad Yusuf Jamil, sekaligus sebagai varian baru pendidikan keagamaan Islam di Padang Pariaman dan Kota Pariaman yaitu pendidikan kitab kuning yang menyelenggarakan sistem pendidikan madrasah yang pada ujungnya lulusan MTI Al-Jamiliyah akan memiliki dua ijazah yaitu ijazah kitab kuning yang dikeluarkan oleh pimpinan pondok dan ijazah madrasah yang dikeluarkan oleh negara.[]

*Heri Surikno (Pimpinan MTI Al-Jamiliyah Kota Pariaman)

Heri Surikno
Heri Surikno 3 Articles
Pimpinan MTI Al-Jamiliyah Kota Pariaman, Alumni Tarbiyah Islamiyah Canduang,Pengajar pada STIT Syekh Burhanuddin Pariaman,dan Doktor dengan nama dan gelar;Dr.Heri Surikno,MA.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*