MTI dan Peradaban Nusantara

MTI DAN PERADABAN NUSANTARA

Tarbiyah Islamiyah memang sebuah kesadaran. Yang telah, tengah dan (mudah-mudahan) tetap hidup di dalam benak sebagian masyarakat Nusantara. Setidaknya di luar pulau Jawa. Terutama di Sumatera. Wabil khusus di wilayah Minangkabau. Tentu juga di sekitarnya.

Kenapa kesadaran, karena ia telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan. Baik secara personal maupun sosial. Tarbiyah Islamiyah tidak cuma sebentuk papan nama. Tidak hanya urusan gedung bangunan. Tidak sekadar persoalan surau, madrasah, sekolah atau pesantren. Akan tetapi Tarbiyah Islamiyah telah mewujud sebagai bagian dari peradaban Nusantara.

Ya, Tarbiyah Islamiyah adalah peradaban Nusantara. Peradaban dimana adat Nusantara bertautan secara begitu erat dengan syarak Islam. Diktum dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung kemudian menjadi begitu relevan. Sebuah petuah yang diajarkan oleh para leluhur Nusantara. Sejak dulu kala!

Peradaban Dinamis Berbasis Adat dan Syarak

Bukit Marapalam, sebuah lokasi di wilayah Provinsi Sumatera Barat, adalah saksinya. Dimana amanat leluhur Nusantara itu dicetuskan oleh Beliau Inyiak Canduang, Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli. Dalam sebuah perjanjian yang melibatkan komunitas elite Minangkabau. Yang terdiri dari tokoh adat dan tokoh agama. Setelah usainya prahara Paderi. “Adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato, adaik mamakai”. Demikian ringkas kalimat yang ditegaskan oleh Maulana Syekh.

Peradaban dimana adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah. Peradaban dimana syarak yang mengarahkan dan adat yang melaksanakan. Ya, itulah sejatinya peradaban Nusantara. Dikokohkan oleh Tarbiyah Islamiyah melalui sosok Maulana Syekh, Beliau Inyiak Canduang. Melalui Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang, madrasah yang didirikannya, peradaban itu konsisten dibangun.

Memang, Tarbiyah Islamiyah sebagai gerakan nasional, sebagaimana umumnya gerakan sosial, tentu mengalami dialektika sejarahnya. Ada pasang naik juga ada pasang surutnya. Pun ada pasang naik kembali, hingga seterusnya. Dinamika Tarbiyah Islamiyah ini tentu seiring pula dengan dinamika kebangsaan. Namun, meskipun mengalami pasang surut yang begitu rupa, Tarbiyah Islamiyah telah menjadi sebuah kesadaran kultural. Ia telah menjadi bagian dari peradaban Nusantara. Yang, walau bagaimanapun, susah untuk dihapus dari dalam benak masyarakat Nusantara.

Betul, memang tidak hanya Tarbiyah Islamiyah yang membangun peradaban Nusantara. Yang dengan mempererat ikatan adat dan agama itu. Akan tetapi, Tarbiyah Islamiyah faktual adalah yang menarasikan secara lugas dan tegas model peradaban Nusantara. Dengan identitas yang khas berupa harmonis dan dinamisnya relasi adat dan agama. Inilah pula yang kemudian menjadi karakteristik utama yang telah, tengah dan tetap dididik di MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah).

Karakteristik utama ini memang bukan mutlak milik MTI. Ia hanyalah berperan menegaskannya lewat ketokohan Inyiak Canduangnya. Di dalam narasi dialektika sejarah perjuangan masyarakat Nusantara. Persis seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), elite pesantren dengan basis sufistik Sunni Syafi’i khas Jawa. Ketika menyuratkan relasi adat (organisasi hukum teritorial dalam masyarakat tradisional) dan agama bahkan relasi negara (organisasi hukum territorial dalam masyarakat modern) dan agama sebagai bagian pokok dari pribumisasi Islam di Nusantara.

Baca Juga: MTI dan Masjid Jamik Curup

Gerakan Literasi Fikih Sufistik

Jauh sebelum menjadi Presiden Republik Indonesia, Gus Dur memang telah menyiratkan adanya proses kultural yang berlangsung cukup lama pada dunia pendidikan di Nusantara. Dimana agama menjadi suluh bagi adat dalam mengatur peradaban masyarakatnya. Teristimewa Islam. Yang kemudian, melalui berbagai ruang dan peluang, muncul sebagai ekspresi dari berbagai daerah (lokal) di Nusantara yang begitu beragam.

Ekspresi lokal Nusantara yang begitu beragam inilah khazanah terbesar dunia. Yang dimiliki oleh Nusantara yang kini kawasan terbesarnya berupa republik tercinta ini, Indonesia. Yang sesungguhnya itu, lokalitas yang begitu beragam itu, hanyalah bagian luar dari peradaban Nusantara. Ada bagian tengah peradaban Nusantara yang sangat memungkinkan bagi munculnya khazanah peradaban global yang bangsa Indonesia. Apa itu? Ialah literasi fikih sufistik.

Sebagai istilah, literasi fikih sufistik ini adalah kembangan. Dari ungkapan Gus Dur dalam tulisannya sebagai literatur fikih sufistik. Yaitu daftar kitab yang dijadikan bahan belajar dan pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Yang kandungan pokoknya adalah ilmu hukum (yurisprudensi) dan tasawuf (mistisisme).

Kitab-kitab itu ditulis oleh para sarjana muslim (ulama). Dengan jarak yang bahkan jauh sekali tempat dan saat menulisnya. Dengan mereka yang belajar dan mengajarkan literatur tersebut di Nusantara. Terkait belajar dan pembelajaran literatur ini, cukup istimewa.

Betapa tidak. Pendekatan yang digunakan amat lokal meskipun teksnya sangat global. Bayangkan, teksnya dapat berasal dari saat dan tempat yang sangat jauh jaraknya dengan pembaca. Namun, pengajarannya ternyata dapat amat dekat pemahamannya dengan pembaca.

Bagaimana teks yang begitu Arab itu bisa lancar diajarkan secara begitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua serta lain pulau di Nusantara? Dengan bahasa masing-masing lokal di Nusantara yang amat beragam? Inilah literasi fikih sufistik itu! Dimana melalui MTI tumbuh dengan latar kultural masyarakat di luar pulau Jawa. Terutama di Sumatera dan teristimewa di Minangkabau.

Pendidikan Humanistik dan Kosmopolitan

Ya, memang, mungkin, akan lebih mudah melacak jejak peradaban Nusantara yang dibangun oleh MTI di Minangkabau. Apalagi dengan subjek alam Minangkabau yang darinya telah lahir begitu banyak tokoh nasional dan bahkan global. Tapi bahasan ini bukan bermaksud untuk meninggikan derajat komunitas Minang di atas warga bangsa ini atau warga dunia lainnya. Sama sekali tidak! Tulisan ini justru ingin mengurai apa dan bagaimana hal ihwal literasi fikih sufistik. Tentunya terkait kandungan utama yang diajarkannya. Istimewanya yang muncul dari MTI. Yang sejatinya merupakan bagian dalam (inti) dari peradaban Nusantara itu.

Ya, humanistik dan kosmopolitan adalah karakter dasar gerakan literasi fikih sufistik. Inilah inti peradaban Nusantara. Nilai ini ditumbuhkembangkan tidak hanya dalam kata (kognitif). Tidak juga hanya dalam karya (psikomotorik). Maupun hanya dalam karsa (afektif). Ia digerakkan secara terpadu dan menyeluruh. Dengan kesadaran yang bulat dan utuh. Serta dengan keyakinan yang dalam dan wawasan yang luas.

Itulah kenapa identitas MTI itu, sebagaimana karekteristik yang dapat ditemukan secara umum pada para tokoh pendirinya, adalah pribadi yang teguh dalam pendirian namun terbuka secara wawasan. Yang tegak lurus pada tradisi namun tidak alergi terhadap inovasi. Selama di antara keduanya berorientasi pada kehidupan sosial yang dinamis. Pada peradaban universal yang harmonis.

Inilah sesungguhnya karakteristik Islam yang diajarkan MTI. Yang identik dengan apa yang disebut sebagai ajaran sufistik Sunni Syafi’i. Dimana paham Sunni Syafi’i menjadi lebih diterima oleh masyarakat dengan sentuhan tasawuf khas tarekat. Yang di antaranya dibentuk melalui hubungan mursyid dan murid.

Baca Juga: Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho di Luhak Nan Tuo

Dari sinilah muncul kesadaran yang berupa rabithah. Hubungan murid dan mursyid. Dimana para murid pada saatnya nanti akan muncul sebagai khalifah dari para mursyid. Dimana para mursyid adalah khalifah dari para wali. Dimana para wali merupakan khalifah dari para nabi. Yang beliau Baginda Nabi Muhammad sebagai model paripurnanya.

Tak heran, jika kemudian MTI berperan membangun peradaban Nusantara. Sebab jika sudah kembali kepada Sang Penutup Para Nabi dan Sosok Terbaik Para Rasul itu, maka akan kembali kepada dasar praksis gerakan Islam yang dididik oleh Beliau. Yang bertujuan menjadi rahmat bagi global. Yang berusaha menyempurnakan kearifan budi pekerti yang tentu saja sangat lokal dan temporal.

Inilah pokok ajaran MTI yang diteruskannya dari surau-surau di Minangkabau. Yang sangat khas sufistik Sunni Syafi’i. Yang di mudiknya (ulunya) diampu oleh para mursyid tarekat. Yang di muaranya (ilirnya) ditiru langsung atau tidak langsung oleh para tokoh hebat.

Dalam konteks ajaran pokok MTI inilah, saya pribadi sering bertanya tentang seorang tokoh global. Tentunya pula dari Minangkabau. Sosok yang perannya secara nasional didaulat sebagai Bapak Republik Indonesia. Karena ia yang mencetuskan konsep menuju Republik Indonesia (Naar de Republiek Indonesia). Yang mahir adat Nusantara karena memang pemimpin adat (datuk) kaumnya di Minangkabau.

Beliau yang mahir teori dan gerakan revolusioner model gerilya. Karena memang Ir. Soekarno (Bung Karno) tegas dan lugas menyebutkan dirinya sebagai ahli revolusi Indonesia. Bahkan beliau mahir dalam mempertemukan komunisme dan pan islamisme dunia. Karena memang menyampaikan pentingnya kerja sama gerakan komunis dan pan islamis dalam menghadapi kolonialis dalam forum rapat partai komunis dunia sebagai wakil para pimpinannya di Asia. Tapi, bukan karena itu semua hamba penasaran.

Justru karena beliau seorang guru dengan Sekolah Rakyat yang dibangunnya hingga Presiden Soekarno menjadikannya model sekolah nasional. Serta, yang paling utama, karena justru beliau berasal dari Suliki. Sebuah tempat yang juga menjadi gudang madrasah milik Tarbiyah Islamiyah. Istimewanya lumbung pula bagi surau-surau tarekat.

Apa, siapa dan bagaimana Suliki mempengaruhi kepribadian tokoh dunia yang pernah disebut sebagai macan dari Asia ini? Jika tegak lurus jawabannya terkait dunia sufistik Sunni Syafi’i Minangkabau, maka generasi milenial MTI tentu akan mendapatkan tambahan asupan gizi perjuangan yang tiada ternilai. Semoga Tarbiyah Islamiyah kembali dapat bersinar di persada Nusantara. Wallahu waliyyut taufieq…[]

* Penulis adalah alumni Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyah Islamiyah Pasar Baru Curup. Melanjutkan studi ke PP. Arrahmah Air Meles Atas Bengkulu dan PP. Nurul Huda Sukaraja Sumatera Selatan. 2007 kembali mengabdi di PPNH Sukaraja. Sekum MUI OKU Timur (2009-2014). Kepala SDTI Curup (2015-2017). Sejak 2018, Ketum Ikatan Alumni PPNH Sukaraja (2015-2020) ini juga dipercaya sebagai Ketua PC Persatuan Tarbiyah Islamiyah Rejang Lebong.

** Tulisan ini merupakan refleksi dari Kaji Surau 2 (Halaqah Online) yang dilaksanakan oleh komunitas Kaji Surau dan situs tarbiyahislamiyah.id pada Sabtu (16/05/2020) malam. Bertema “Nasib Madrasah Tarbiyah Islamiyah dalam Ingatan Sejarah”.

Share :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*