Saat ini situs judi slot online deposit dana adalah salah satu permainan yang sangat di minati di Indonesia.

Pertama sekali bila anda ingin merasakan mudahkan memperoleh uang dari nwmedicaltraininggroup tentus aja anda sangat di sarankan untuk bermain pada permainan kakek ya gengs.

Muktamar Muhammadiyah; Forum Berpikir yang Bermartabat

Oleh: Arpi Gusmadi

Muktamar Muhammadiyah yang ke_48 resmi dibuka Presiden Joko Widodo hari ini (Sabtu, 19 November) di gedung nan megah, Edutarium UMS, Solo. Seminggu ini, warga persyarikatan mulai terlihat bergembira, apalagi yang berkesempatan hadir di muktamar tersebut. Ada teman saya yang luar biasa, berangkat sendiri dari Lampung dengan sepeda motornya. Muktamar ini sekaligus melampiaskan hobinya touring dengan motor. Ada juga beberapa teman dari daerah lain yang sudah beberapa hari sebelum muktamar sudah tiba di Solo, sekalian jalan-jalan dan bersilahturahmi dengan keluarga maupun sahabat. Semakin terlihat dari muktamar ke muktamar, semakin meriah dan gembira.

Muhammadiyah telah menjelma menjadi organisasi yang sangat besar dan kaya. Saya mengetahuinya dari sebuah artikel berjudul “Mental Muhammadiyah”, ditulis oleh Abdul Kohar (Dewan Redaksi Media Group)pada 2017. Sebuah laporan dari Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Muhammadiyah menyebutkan, Persyarikatan mengelola hampir 21 juta meter persegi tanah wakaf. Istimewanya, tak sejengkal pun lahan itu atas nama pribadi-pribadi tertentu. Seluruhnya atas nama Persyarikatan. Di atas lahan 21 juta meter persegi itu berdiri sekurangnya 19.951 sekolah, 13.000 masjid dan musala, 765 bank perkreditan rakyat syariah, 635 panti asuhan, 457 rumah sakit dan klinik, 437 baitul mal, 176 universitas, dan 102 pondok pesantren (tahun 2022 ini tentu jumlahnya kian bertambah).

Seluruh aset Muhammadiyah itu ada yang mencoba menaksir nilainya mencapai Rp320 triliun. Belum lagi ditambah kekayaan kas yang dimiliki amal usaha yang tersimpan di bank, jumlah total kekayaannya bisa lebih dari Rp1.000 triliun. Manajemen organisasi pun dikerjakan secara rapi, terdokumentasi dengan baik, dikelola secara transparan, serta dengan visi yang progresif.

Wow, sebuah nilai yang fantastis dikelola oleh orang-orang yang fantastis pula, orang-orang yang bermental hebat, mentalnya Muhammadiyah. Masih menurut Abdul Kohar, “Pertanyaannya, bagaimana bisa organisasi yang ‘didesain’ secara sederhana, dengan tujuan yang ‘sederhana’, dengan langkah yang serba sederhana bisa menghasilkan aset ratusan triliun?

Jawabannya juga sederhana. Semua itu ada hubungannya dengan mentalitas Muhammadiyah hasil kerja panjang dan konsisten selama 108 tahun.

Mentalitas yang dibentuk ialah mental aghniya (mental orang kaya), mental memberi, serta spirit membebaskan sekaligus memberdayakan. Hulunya bermula dari doktrin Kiai Haji Ahmad Dahlan yang mengatakan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Praktiknya, elite pimpinan Persyarikatan itu didorong untuk menjadi pribadi-pribadi yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Alhasil, mereka bisa mengabdikan hidup untuk sebesar-besarnya kepentingan umat.

Banyak kisah di lingkungan Muhammadiyah tentang bagaimana doktrin KH Ahmad Dahlan itu merasuk hingga tulang sumsum dan memengaruhi gaya hidup para ulama dan pimpinan Muhammadiyah yang sangat kontras dengan kekayaan aset Muhammadiyah. Pak AR Fachruddin, misalnya, saat berdakwah di Yogyakarta dan sekitarnya, memilih naik motor tua atau naik becak. Ketua Muhammadiyah terlama (1968-1990) itu juga menjual bensin eceran di depan rumahnya demi menambah pemasukan rumah tangga.

Seorang teman mantan wartawan pernah bercerita, “Ketua-ketua Muhammadiyah dulu seperti ‘orang aneh’, enggak masuk di akal zaman sekarang. Pak AR jualan bensin eceran di ‘rumah dinas’-nya. Kulakan bensin di SPBU Terban, pakai kaus singlet sembari naik sepeda jengki membawa jeriken bensin di boncengan. Edan tenan.”

Ketum Muhammadiyah 1998-2000 serta 2000-2005, Buya Syafii Maarif, masih biasa jalan kaki ke masjid depan rumah, naik bus atau kereta api, dan antre saat berobat di RS Muhammadiyah. Seorang aktivis yang lumayan dekat dengan Buya Syafii pernah ‘mengingatkannya’ untuk mengganti mobil agar ‘sesuai’ dengan posisinya sebagai Ketum Muhammadiyah. Buya Syafii menjawab, “Ah, ini juga sudah cukup.”

Ketum Muhammadiyah saat ini, Haedar Nashir, biasa naik kereta api atau duduk di serambi masjid mendengar khotbah dari jemaah akar rumput tanpa rasa canggung.

Itu semua resep mengapa Muhammadiyah berkembang sangat pesat. Kombinasi antara taat doktrin, autentisitas sikap dan laku, serta konsistensi gerak itulah yang menjadi sumbangsih besar Muhammadiyah untuk bangsa ini.

Tulisan Abdul Kohar di atas sempat dikomentari Buya Ahmad Syafii Maariif ketika berkirim WA dengan saya waktu beliau masih hidup, “Gelombang besarnya mungkin memang demikian, tapi tidak mustahil ada pula riak-riak yang menganggu yang mesti diwaspadai.”

Terlepas dari hal di atas, Muhammadiyah tentulah memang mempunyai kekurangan. Hal ini sempat dikritisi oleh orang hebat pula, cendikiawan, sastrawan, budayawan dan negarawan, Kuntowijoyo.

Dalam sebuah tulisan berjudul, KUNTOWIJOYO (1943-2005) DAN KRITIKNYA TERHADAP MUHAMMADIYAH, Buya Ahmad Syafii menanggapi kritikan ini dengan serius, dan mengajak warga Muhammadiyah untuk berbenah; “Adalah Bung Kunto yang menulis: “… dari perspektif transformasi sosial, Muhammadiyah sesungguhnya belum memiliki konsep gerakan sosial yang jelas. Selama ini, kegiatan pembinaan warga Muhammadiyah lebih diorientasikan kepada kegiatan untuk mengelola pengelompokan-pengelompokan yang didasarkan pada diferensiasi jenis kelamin dan usia. … ada Nasyiatul Aisyiah dan Aisyiyah untuk kelompok remaja putri dan ibu-ibu; ada gerakan pemuda Muhammadiyah, IPM [sekarang IRM], dan IMM. Kategorisasi pengelompokan sosial semacam ini sesungguhnya justru bersifat antisosial, karena pengelompokan berdasarkan usia dan jenis kelamin cenderung mengabaikan adanya realitas stratifikasi dan diferensiasi sosial—sesuatu yang kini perlu mendapat lebih banyak perhatian dari Muhammadiyah.” (Lihat Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Intrepretasi untukAksi. Bandung: Mizan, 1991, hlm. 265).

Pendapat ini sekalipun dilontarkan Kunto pada 1988/1989 menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Jogjakarta tahun 1990, relevansinya masih dirasakan sampai sekarang. Mengapa? Kunto tidak main-main bila melontarkan pendapat, sebab data sosial pasti disertakannya untuk menunjang dasar pemikirannya. Bagi Kunto, dengankategorisasi seperti di atas, Muhammadiyah seperti mengabaikan kelompok-kelompok tani, buruh, pedagang kecil, TKW, dan kelompok-kelompok kepentingan lainnya semacam itu—bahkan di kalangan warga Muhammadiyah sendiri. (Ibid).

Sebenarnya Muktamar ke-43 di Aceh tahun 1995 dan Muktamar ke-44 di Jakarta tahun 2000 telah menyadari betapa pentingnya kelompok-kelompok yang disebutkan Kunto itu untuk diperhatikan. Itulah sebabnya kemudian dibentuk Lembaga Buruh, Tani, dan Nelayan, tetapi tidak berjalan mulus, karena perhatian utama tetap saja terpusat pada masalah pendidikan, kesehatan, da’wah, dan kegiatan sosial lainnya, sehingga tidak mampu menyentuh kelompok-kelompok rawan dan rentan di atas. Tampaknya di sinilah terletak relevansinya kritik Kunto di atas untuk dipertimbangkan oleh kalangan pemikir Muhammadiyah, sehingga pada saatnya kesan antisosial itu tidak lagi dilekatkan kepada gerakan Islam yang didirikan Ahmad Dahlan tahun 1912, hampir seabad yang lalu.

Sesungguhnya, citra sebagai antisosial itu tidaklah sepenuhnya benar, bila dikaitkan dengan santunan yang telah diberikan Muhamadiyah terhadap masyarakat luas selama sekian puluh tahun. Tetapi kelompok-kelompok rentan di atas memang kurang sekali mendapat perhatian, sehingga Persyarikatan ini terkesan sebagai tidak peka lagi terhadap jeritan sosial rakyat kecil yang digilas oleh roda konglomerasi dan kapitalisme semu yang berkembang di Indonesia pasca runtuhnya rejim Demokrasi Terpimpin pada 1960-an. Kekurangpekaan ini juga disebabkan oleh terkurasnya hampir seluruh energi Muhammadiyah untuk bidang pendidikan, da’wah, dan kesehatan dengan 1001 masalahnya, di samping karena kaburnya konsep gerakan sosial Muhammadiyah, seperti dibaca Bung Kunto.

Masih ada kritik lain, seperti terbenamnya Muhammadiyah dalam pembaruan kuantitatif, tetapi mengabaikan pembaruan kualitatif, sehingga cukup sulit bagi Muhammadiyah untuk tampil sebagai “gerakan Islam garda depan di Indonesia”. (Ibid.
hlm. 272).

Selamat bermuktammar yang ke_48 bagi Muhammadiyah, semoga bermartabat dalam berpikir untuk kemajuan umat. Forum berpikir yang menghasilkan keputusan-keputusan bermartabat pula. Muktamar yang menguatkan ghirah dan ukhuwah. Dan, memunculkan pemimpin yang bermental Muhammadiyah, pemimpin yang telah selesai dengan dirinya, semua demi kepentingan umat.

Selamat bergembira bagi warga persyarikatan yang dapat hadir dan kami yang tak sempat hadir menyambutnya dengan suka cita.

(Arpi Gusmadi, arsitek & kontraktor yang lama ikut berdiang di perapian Buya Syafii)

Arpi Gusmadi
Arsitek & kontraktor yang lama ikut berdiang di perapian Buya Syafii)