Mus Canduang dan Syekh Ahmad Taher Sosok Ulama Tasawuf Terkemuka di Canduang

Mus Canduang dan syekh Ahmad Taher Sosok Ulama Tasawuf Terkemuka di Canduang
Ilustrasi/dok.Istimewa

Di ujung Kabupaten Agam, Sumatera Barat tepatnya bagian terujung nagari Canduang Koto Laweh yang berbatasan dengan Kecamatan Baso ada sebuah pondok pesantren yang kurang terjamah oleh khalayak ramai, dimana santrinya (anaksiak) lebih didominasi oleh masyarakat sekitar sekolah itu didirikan. Jika masyarakat luar daerah itu sering menyebut Pondok Pesantren Madrasah Miftahul Ulumi Syar’iyyah maka masyarakat sekitar lazim menyebutnya dengan “Mus Canduang”.

Pondok ini merupakan salah satu sekolah salaf yang direncanakan berdirinya tahun 1937 namun baru bisa direalisasikan tahun 1941. Walaupun demikian sebenarnya proses belajar dan mengajar sudah berlangsung sejak tahun 1937 di sebuah surau bernama Surao Tuo atau yang lebih dikenal dengan nama Surao Limo Kampuang.

Pendiri MUS Canduang sendiri merupakan seorang ulama ahli tasawuf kelahiran Canduang yang bernama Syekh H. Ahmad Taher, beliau lebih masyhur dengan panggilan “Inyiak Ahmad”.

Inyiak Ahmad termasuk diantara salah satu ulama terkemuka di Canduang di mana dulunya nagari Canduang lebih masyhur dengan sebutan “Sarang Ulama (Negeri yang banyak melahirkan Ulama)”.

Inyiak Ahmad dilahirkan di daerah Limo Kampuang, Canduang Koto Laweh (1877) keturunan dari Buya Anwar Angku Bagindo Sutan seorang Penghulu di V Suku Canduang.

Baca Juga: Syekh Ahmad Taher dan M-MUS yang Didirikannya Bagian I

Dalam umur 14 tahun beliau bersama Syekh Sulaiman Arrasuli (Pendiri Tarbiyah Islamiyah) belajar ke nagari Sungayang Tanah Datar di Surau Syekh H.M Thaib Umar.

Setelah beberapa tahun belajar di Sungayang beliau pun melaksanakan rukun Islam yang ke lima serta menambah ilmu agamanya di Mekah Al-Mukarramah di antaranya dibawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Berselang beberapa lama beliau kembali ke kampung halaman dilanjutkan mengajar serta mengabdi untuk nagari. Dan kabarnya beliau juga ikut serta mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah bersama Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Abdul Wahid As-Sholihi.

Dalam bidang keagamaan beliau ahli dalam Tasawuf, Tauhid, Fikih, serta Qaidah-qaidah bahasa arab dll, di mana beliau sendiri lebih dominan dalam bidang tasawuf.

Pada Jum’at, 13 Juli 1962 beliau dipanggil untuk kembali ke pangkuan Sang Kuasa lalu di makamkan di halaman Surao Tuo Bingkudu.

Konon kabarnya beliau seorang Sufi yang tidak bisa difoto, hal ini dibuktikan dengan tidak ditemukannya foto-foto beliau sampai saat ini padahal beliau sosok yang sering diutus untuk berdiskusi dengan paham-paham yang tidak sehaluan dengan paham Tarbiyah Islamiyah yaitu ahlusunah wal jama’ah.

Baca Juga: Syekh Ahmad Taher dan M-MUS yang Didirikannya Bagian II

Untuk saat ini keberadaannya hanya bisa dibuktikan dengan sekolah yang beliau dirikan yaitu Pondok Pesantren Madrasah Miftahul Ulumi Syar’iyyah atau yang lazim disebut dengan “Mus Canduang”. Sebagai seorang ulama terkemuka tentunya beliau banyak memiliki murid yang sudah menyebar ke berbagai negeri sampai ke daerah Jambi, Palembang dan Bengkulu dan lain-lain. []

2 Komentar

  1. Al Fatihah selalu ku kirim utk kakek tercinta. Berlinang air mataku membaca artikel ini. Ingat kembali wajah beliau. Sangat penyayang pd ku cucu no 6 dari istri alm di Batu Balantai. Ingat wkt balita,ada sepupu yg beda satu tahun umurnya dgn ku. Jika menangis beliau ikat ke tonngak surau 5 kampuang itu dan di pukuli dgn sigi (bilah utk penghidup kan api ditungku jika beliau mau masak air minum. Sedangkan aku jika menangis dibujuk dgn kue bolu ser ajik lunak. Tak mau berhenti menangis dikasih uang. Entah kenapa beliau beda2kan sama2 cucu. Mungkinkah beliau (Inyiak Ayah} punya firasat cucu yg satu itu akan durhaka kelak?.Ya Allah rindunya aku pada kakek, hingga komen ini diketik air mataku mengalir deras.AL Fatihah……

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*