Najis Ma’fu Anhu (Najis yang Ditolerir)

Najis Ma’fu Anhu (Najis yang Ditolerir)

Najis Ma’fu Anhu


Oleh : Afriul Zikri

Pengertian najis dalam terminologi fikih Syafii secara sederhana adalah kotoran yang mencegah keabsahan salat atau ibadah lain yang mensyaratkan harus suci dari najis, begitu juga yang tidak bisa dimakan atau dijadikan pakaian, jika tidak ada rukhsoh.

Tidak semua hal yang dianggap kotor itu najis dan tidak semua najis dianggap kotor. Ada hal-hal yang dianggap kotor dan jijik oleh manusia normal namun syariat menganggapnya tidak najis, seperti air ludah, ingus dan air mani. Sebaliknya, ada hal-hal yang dianggap najis oleh syariat, sekalipun menurut manusia normal tidak dianggap kotor atau jijik, seperti khamr.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ». (سنن الدارقطني)

“Bersucilah kalian dari air kencing, sesungguhnya kebanyakan adzab kubur itu karena air kencing”.

Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk berhati-hati dari najis, agar tidak mengenai pakaian dan badan, sehingga menjadikan salat dan ibadah lainnya tidak sah. Didalam riwayat lain beliau menceritakan bahwa ada dua orang yang disiksa dikuburannya, disiksanya bukan karena dosa besar, salah seorangnya disiksa karena tidak berhati-hati dan menjaga diri ketika kencing.

Maka berhati-hati dari najis sangat diperintahkan oleh agama. Namun hal ini oleh sebagian orang sangat terlalu berlebihan dalam menjauhi najis, sehingga menjadikan hidup sangat sempit, dihantui oleh was-was yang berlebihan, ada yang istinja’ terlalu lama, berwudhu dengan air yang terlalu banyak, mengulangi niat berkali-kali dll. Disisi lain juga ada yang terlalu memudah-mudahkan urusan najis ini, tidak ada kehati-hatiannya dalam beribadah. Dan sebaik-baik perkara adalah yang berada ditengah-tengah.

Karenaya, syariat telah memberikan kelonggaran dalam beberapa najis, dia tetap najis tapi tetap sah dibawa salat, tetap boleh dimakan, ini yang kami maksud pada penggalan akhir defenisi najis diatas “jika tidak ada rukhsoh”. Artinya ada rukhsoh/keringanan dari syariat tentang beberapa najis yang tidak membatalkan salat, boleh dimakan, ini yang disebut oleh para ulama dengan najis ma’fu anhu (najis yang ditolerir).

Imam ibnu al-Imad al-Mishry asy-Syafii menuliskan mandzumah dalam 290 bait tentang najis ma’fu anhu, beliau menyebutkan 66 najis yang masuk kategori najis ma’fu anhu, bahkan sebagian ulama menyempurnakan menjadi 70. Namun dalam 66 atau 70 juga bercampur dengan pendapat dha’if dalam Madzhab Syafi’i, bahkan sebagian adalah pendapat mazhab lain. Syaikhuna al-Faqih Mushtafa Abdunnabi menyebutkan, bahwa yang mu’tamad dari semua itu hanya 51. Dibawah ini akan kami tuliskan satu persatu dengan matan sekaligus terjemahannya, agar bisa diketahui oleh khalayak ramai, baik pelajar agama maupun tidak, karena hal ini sudah semestinya diketahui oleh semua muslim :

هذه واحد وخمسون نجاسة معفو عنها عند الشافعية

51 Najis yang terkategori ma’fu anhu (yang ditolerir) dalam mazhab syafii :

1 – كلُّ دم يسيرٍ من آدميٍّ وغيرِه سوى الكلبِ والخِنزير.

Darah yang sedikit, baik darah manusia atau darah hewan lainnya selain darah anjing dan babi.

2 – دمُ وقيحُ الجروحِ ولو كان كثيرًا، شريطةَ أن يكونَ من الإنسان نفسِه، ولم تكن بفعله، ولم تُجاوز محِلَّها، فإن كانت بفعله أو تجاوَزَت محِلَّها فلا يُعفى عنها، بل عن القليل فقط.

Darah dan nanah luka, sekalipun banyak. Dengan syarat darah dan nanah itu memang berasal dari dirinya sendiri, bukan karena perbuatannya dan tidak melewati tempat luka tersebut. Maka kalau luka itu disebabkan oleh dirinya atau melewati batas luka maka tidak masuk kategori ma’fu anhu, tapi kalau hanya sedikit maka dikategorikan ma’fu anhu.

3 – ماءُ القروحِ والنفاطات والجدري.

Darah bisul atau cacar

4 – القليلُ من دم القملِ والبراغيث والبَقِّ والبعوض، ولا يُعفى عن حمل جِلدها.

Sedikit darah kutu dan nyamuk. Tidak dengan kulitnya, maka tidak boleh membawanya.

5 – موضعُ الفصد والحجامة.

Tempat bekas bekam.

6 – رشاشُ البولِ الذي لا يُدركه الطرفُ المعتدلُ إذا أصاب الثوبَ أو البدن.

Percikan kencing yang tidak tampak oleh mata normal yang mengenai pakaian atau badan .

7 – وَنِيمُ الذُّباب والزنبورِ والنحل والنمل والفَرَاش والجراد وبولِ الخُفَّاش.

Kotoran lalat, tawon, lebah, semut, kupu-kupu, belalang dan kencing kelelawar.

8 – بيضُ القمل والصئْبان وبزر القَزِّ.

Telur kutu dan kepompong (sarang ulat sutera)

9 – بولُ الدوابِّ ورَوثها الذي يصيبُ الحبوبَ أثناء دوسها.

Kencing dan kotoran hewan yang mengenai biji bijian pasca mengiriknya.

10 – روثُ الأنعامِ وبولُها الذي يصيب اللبنَ أثناء الحلْب ما لم يكثرْ فيتغير اللبنُ، ونجاسةُ ثدي المحلوبة إذا وقع في اللبن حال حَلْبه.

Kotoran dan kencing hewan ternak yang mengenai susu ketika memerahnya dengan syarat tidak banyak sehingga menjadikan susu berubah. Dan dimaafkan kelenjar susu yang bernajis dari hewan yang diperah susunya jika jatuh ke susu ketika diperah.

Baca Juga: Hukum Donor Darah Plasma Konvalesen

11 – رَوثُ السَّمكِ إلا إذا تغيَّر الماءُ.

Kotoran ikan. Kecuali kalau air berubah.

12 – ذَرْقُ الطيور في الأماكن التي تترددُ عليها كالحرم المكيِّ والمدني والمساجد الجامعة؛ لعموم البلوى وعسر الاحتراز عنه.

Kotoran burung di tempat-tempat yang mana burung mondar-mandir disana, seperti Masjidil haram Makkah, Madinah dan masjid-masjid jami’ lainnya. Karena “umum bala” dan sulit menghindarinya.

13 – ما يصيب ثوبَ الجزَّار من دمٍ ما لم يكثر.

Darah yang mengenai pakaian tukang potong hewan dengan syarat tidak banyak.

14 – الدمُ الذي على اللحم.

Darah yang ada pada daging.

15 – الميتةُ التي لا نفسَ لها سائلة إذا وقعت في مائع؛ كالذُّباب والبعوض والنمل والعقرب والوَزَغ، شريطة أن تقعَ بنفسها، ولم تؤدِّ إلى تغيُّر المائع.

Bangkai dari hewan yang tidak berdarah apabila jatuh kedalam benda cair. Seperti lalat, nyamuk, semut, kalajengking dan cicak. Dengan dua syarat : pertama : dia jatuh sendiri (tidak dengan perbuatan manusia), kedua : tidak menyebabkan benda cair itu berubah.

16 – الميتةُ التي كان منشؤُها الماء وماتت فيه، فلا ينجُس بها.

Bangkai dari hewan yang tempat muncul asalnya adalah di air lalu mati di air, maka air tidak ternajisi.

17 – اليسيرُ عُرفًا من شَعر نجس من غير نحو كلبٍ وخنزير، ويعفى عن كثير من مركوب.

Bulu najis yang sedikit menurut ‘urf selain anjing dan babi. Dan juga terkategori najis ma’fu anhu adalah bulu hewan yang ditunggangi sekalipun banyak.

18 – قليلُ دخان نجس، وغبار سرجين، ونحوه مما تحمله الريحُ كالذَّر.

Sedikit uap/asap najis, debu pupuk (pupuk dari kotoran hewan) dan seluruh najis yang diterbangkan oleh angin.

19 – الحيوانُ المتنجس المنفذ إذا وقع في المائع للمشقةِ في صونه، لا آدمي مستجمر.

Hewan yang mana lubang tempat kotorannya bernajis seandainya masuk ke dalam cairan, karena sulit menghindarinya, lain halnya dengan mustajmir (orang yang beristinjak dengan menggunakan batu dan sejenisnya selain air) maka tidak terkategori najis ma’fu anhu (seandainya masuk ke dalam cairan / air, maka cairan tersebut hukumnya najis).

20 – فم الحيوانِ الطاهر كالهِرَّة لو تنجس ثم غاب وأمكن ورودُه على ماء كثيرٍ ثم ولغ في طاهرٍ لم ينجسه.

Mulut hewan yang suci seperti kucing yang apabila mulutnya bernajis, kemudian dia menghilang dan pasca masa menghilangnya ada kemungkinan dia telah mendatangi air yang banyak. Kemudian dia menjilati sesuatu yang suci maka jilatannya itu tidak menajisi sesuatu yang suci tersebut.

21 – وكمسألة الهِرَّة: المجنون إذا أكل نجاسةً ثم غاب بحيث يمكنُ ورودُه على ماء كثير.

Serupa dengan kasus kucing diatas yaitu orang gila. Apabila dia memakan najis lalu menghilang dan pasca masa menghilangnya ada kemungkinan dia telah mendatangi air yang banyak.

22 – النجاسةُ في يد الإنسانِ إذا غاب ثم أتى واحتمل غسله في ماء كثير.

Najis yang ada ditangan seseorang. Dengan catatan dia menghilang lalu kembali. Dan pasca masa menghilangnya ada kemungkinan telah dia basuh pada air banyak.

23 – لبن الشاةِ إذا أكلت نجاسةً، لكنه مكروهٌ حال تغيُّره، وبَيضُ الدَّجاجة التي أكلت النجاسةَ، وكذلك مُجاج النَّحلة التي تغذَّتْ على عسلٍ نجس.

Susu dari kambing yang memakan najis. Tetapi hukumnya makruh seandainya bentuk susunya berubah. Dan telur dari ayam yang memakan najis. Begitu juga madu dari lebah yang mana suplai makanannya dari sesuatu yang najis.

24 – فمُ الطفل المتنجس بالقيء إذا أخذ ثديَ أمِّه.

Mulut bayi yang terkena najis dengan sebab muntah, apabila dia menghisap puting susu ibunya (maka ma’fu anhu).

25 – لعابُ النائمِ الخارج من المعدةِ في حقِّ المبتلى به.

Air liur orang yang tidur (ngiler) yang bersumber dari dalam perut, khusus bagi orang yang sering mengalaminya. (karena pada dasarnya air liur yang berasal dari perut hukumnya najis).

26 – أثر محِلِّ الاستجمارِ في حقِّ الشخص نفسِه لا غيره.

Bekas tempat istijmar (istinjak menggunakan benda padat selain air, seperti batu dll) (yaitu kepala zakar dan lingkaran lubang pantat) pada hak orang itu sendiri bukan orang lain.

27 – ماءُ الميزابِ الذي تُظنُّ نجاستُه.

Saluran / talang air yang diduga najis.

28 – القليلُ من طين الشوارعِ النجِس؛ لصعوبةِ الاحترازِ.

Sedikit lumpur jalanan yang najis (najis dengan yakin) karena sulit dihindari.

29 – السَّخْلَة إذا رضعت من كلبةٍ أو خنزيرة.

Anak kambing yang menyusu kepada anjing atau babi.

30 – ما في بطنِ مأكولِ اللحم أو منفذه من رَوثٍ إذا ذاب واختلط بالماء ولم يُغَيِّرْ.

Kotoran yang ada didalam perut hewan yang halal dimakan (seperti sapi) atau pada saluran keluarnya kotorannya, apabila melebur dan bercampur dengan air namun tidak merubah air tersebut.

31 – المائعُ الذي سقطت فيه ميتةُ آدميٍّ لا ينجُس؛ لتكريم الله تعالى بني آدم.

Cairan yang dimasuki oleh bangkai manusia, maka cairan itu tidak najis. Sebagai bentuk Allah memuliakan Bani adam.

32 – البطيخُ الذي سُقي بالبولِ والنَّجاسة.

Semangka yang disirami dengan air seni dan najis.

33 – الجبنُ المعمولُ بالإِنْفَحَّةِ المتنجسة.

Keju yang dibuat dengan abomasum yang terkena najis. (karena sulit berhati-hati darinya dan masuk kedalam kaidah sesuatu yang umum bala ; ma yaummu bihi al-balwa).

34 – الزيتونُ التي نُقعت في ماء نجس، فيكفي غسلُ ظاهرِها.

Buah zaitun yang dicelupkan atau direndam pada air najis, maka cukup mencuci bagian luarnya saja.

35 – البيضة إذا طُبخت في مائعٍ نجِس.

Telur yang dimasak dengan menggunakan cairan najis.

36 – جبرُ العَظْم بنجِس عند فقد طاهرٍ للضرورة.

Menambal tulang yang patah dengan benda najis ketika tidak ada penambal yang suci, karena darurat.

37 – علاجُ الجُرح بدواء نجِس أو خيطٍ نجِس للضرورة.

Mengobati luka dengan obat atau benang najis, karena darurat.

38 – الوشمُ في الجسم إن فُعِل به وهو صغيرٌ، أو كان مُكرهًا، أو جاهلًا التحريمَ، فلا تلزمُه إزالتُه، إلا إن كان باختياره ولم يخشَ ضررًا فيجبُ إزالتُه، فإن خشي ضررًا فلا.

Tato di tubuh jika dilakukan ketika dia masih kecil, atau dia dipaksa, atau tidak tahu tentang larangannya, maka dia tidak harus menghapusnya, kecuali dia bertato atas kehendaknya sendiri (ketika mukallaf) dan dia tidak takut akan bahaya seandainya dihilangkan, maka wajib dihilangkan. Namun jika dia takut akan memberi mudarat, maka tidak ada kewajiban untuk menghilangkannya.

39 – السكينُ لو سُقيت بعد إحمائها بالنجِس، فيكفي غسلُها.

Pisau yang di siram dengan najis setelah dihangatkan dengan api, maka untuk mensucikannya cukup dicuci.

40 – اللحمُ المغلي بالماء النجِس يكفي غسلُه.

Daging yang direbus dengan air najis, maka untuk mensucikannya cukup dengan dibasuh.

41 – أثرُ النجاسةِ أو لونُها إذا بقيا في الثوب بعد غسلِه.

Bekas dari najis atau warnanya jika tetap ada di pakaian setelah dicuci.

42 – الأُذُنُ إن قُطعت حال الصلاةِ ولم تنفصل ثم لصقت بحرارة الدم، فتصحُّ الصلاةُ والإمامة.

Telinga, jika dipotong ketika sholat dan tidak terpisah, kemudian dia lengket kembali disebabkan darah yang panas, maka salatnya sah dan juga sah kalau dia sedang menjadi imam.

Baca Juga: Surat “Mengenai Tatacara Sujud Salat dalam Mazhab Syafi’i

43 – المصلِّي إذا أُصيبَ حال صلاتِه، وسقط دمُه على الأرض، فله إتمامُ صلاتِه.

Seseorang yang sedang salat, lalu ditimpa sesuatu sehingga berdarah dan darahnya jatuh ke tanah (tidak jatuh ke pakain atau badannya) . Maka ia dapat menyelesaikan salatnya.

44 – من سُرق عليه شيءٌ أثناء الصلاةِ، أو خَطِف لصٌّ نعلَيْه فتَبِعَه ووطِئ نجاسةً بغير عمْد، فيُعفى عن ذلك، ويُتمُّ الصلاةَ؛ كالخوف.

Seseorang yang dicuri hartanya ketika salat atau pencuri menjambret dua sandalnya, sehingga dia mengikuti si pencuri lalu dia menginjak najis tanpa disengaja. Maka hal ini didispensasi, sehingga dia boleh melanjutkan salatnya, sama halnya dengan salat dalam keadaan khauf.

45 – الدم يكون في سلاح المقاتِلِ ولو كثُر واحتاج إلى إمساكه حال الصلاةِ خوف الهلاكِ.

Darah yang ada pada senjata prajurit sekalipun banyak dan ia perlu memegangnya ketika salat karena khawatir mati (diserang musuh).

46 – الأوراقُ التي تُعمل وتُبسط وهي رطبة على الحيطانِ المعمولة برماد نجِس.

Daun yang dibuat dan direntangkan dalam keadaan basah di dinding yang terbuat dari abu najis.

47 – الخزف الذي يؤخذُ من الطين ويُضاف إليه السرجين.

Porselen yang dibuat dari tanah liat dan dalam proses pembuatannya menambahkan kotoran hewan.

48 – بيع الآجُر (الطوب) المعجون بالسرجين.

Menjual batu bata yang mana adonannya terbuat dari kotoran hewan.

49 – بناء المساجدِ بالطوب المعجون بالسرجين وفرش عرصتها به.

Membangun masjid dengan batu bata yang mana adonannya terbuat dari kotoran hewan dan ubinnya dihalaman masjid juga dipasangkan dengan batu batu tersebut.

50 – استعمالُ الأواني والجِرار المعجونة بالسرجين.

Menggunakan bejana dan wadah yang mana adonannya terbuat dari kotoran hewan.

51 – الاستحاضةُ والسَّلس بالنسبة إلى تلك الصلاةِ خاصة، إذا احتاط كلٌّ منهما بفعل ما يجبُ فعلُه، وأما بالنسبة للصلاة التي تليها، فيجبُ غسلُه وتجديدُ العصابة.

Darah istihadah dan air kencing orang yang berpenyakit salasul baul (disuria /anyang-anyangan(?)). Apabila keduanya telah ihtiyath (melakukan kehati-hatian) dengan melakukan apa yang wajib untuk dilakukan (seperti istinjak terlebih dahulu, memakai pembalut, berturut-turut antara wudhu dan salat/muwalat dll). Sedangkan untuk salat berikutnya maka wajib membasuhnya kembali dan mengganti pembalut.

Semoga bermanfaat dan bisa menjadi catatan pribadi kita bersama.

‫اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الكَذِبِ وَأَعْيُنَنَا مِنَ الخِيَانَةِ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ.‬

“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya’, lisan kami dari dusta, dan bersihkan mata kami dari khianat, sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.”

Afriul Zikri
Mahasiswa S1 Universitas Al-Azhar, Kairo