Nasib Madrasah Tarbiyah Islamiyah dalam Ingatan Sejarah; Catatan Pasca Halaqah Online Kaji Surau

Nasib Madrasah Tarbiyah Islamiyah dalam Ingatan Sejarah

Nasib Madrasah Tarbiyah Islamiyah dalam Ingatan Sejarah; Catatan Pasca Halaqah Online Kaji Surau

Berangkat dari rumusan masalah yang telah disepakati, Halaqah Online Kaji Surau Sesi II kemarin mulai dengan menyasar satu per satu masalah tersebut. Hadir Prof. Alaiddin Koto (Ketua Umum Tarbiyah-Perti Prov. Riau) dan Ustadz Hariadi, SS., MA (Alumni MTI Koto Panjang, Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatra Barat) sebagai Panyurah Kaji (pemateri). Diiringi dengan Kanti Mangaji (penanggap) yaitu Ustadz Hafidhuddin Z. Abtho (Alumni PPNI Seribadung, Palembang. Penggiat Literasi Ulama) dan Ustadz Pebrialdi, SHI., MH (Alumni PPTI Malalo, Peneliti Gerakan Aswaja Minangkabau). Halaqah online dibuka oleh Si Pangka atau moderator, M. Kamil Alhakimi (Anak Siak Tarbiyah Islamiyah Malalo).

Perbincangan via zoom dan dihadiri oleh 100-an orang participant itu diawali oleh Prof. Alaiddin Koto yang mengingatkan kembali tentang hari lahir Tarbiyah Islamiyah. Pada tahun 1926, Inyiak Canduang mengadakan pertemuan bersama murid beliau dengan mengubah pendidikan sistem halaqah menjadi kelas. Kemudian diikuti oleh buya dari daerah lain, seperti Jaho dan Padang Jopang. Maka di masa itu sekolah Tarbiyah Islamiyah berkembang pesat. Dengan perkembangan tersebut, pada 5 Mei 1928 para ulama berkumpul di Canduang untuk melahirkan organisasi. Mulanya diberi nama dengan Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PMTI). Bertugas mengembangkan dan menata madrasah yang ada di Minangkabau. Selanjutnya PMTI dikembangkan lagi perannya menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PTI).

Beberapa tahun berikutnya, tepatnya pada 1935 kembali diadakan rapat di Candung dengan ketua pertama, Buya Sulthani Dt. Rajo Dubalang dari Bayur Maninjau. Kemudian nama organisasi Tarbiyah Islamiyah diganti jadi PERTI. Inilah yang menjadi partai politik pada tahun 1945.

Baca Juga: MTI dan Peradaban Nusantara

Setelah puas menguliti sejarah, halaqah online/daring dilanjutkan dengan bahasan tentang keadaan madrasah Tarbiyah Islamiyah dari masa ke masa. Ustadz Hariadi, SS., MA. mengawalinya dengan menceritakan kondisi Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), khususnya di Kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota. Banyak madrasah yang luput dari sejarah dan hilang dari peredaran. Beberapa faktor yang dikemukakan antara lain wafatnya tokoh karismatik dan pendiri MTI, sistem pewarisan yang tidak cocok dan lambannya transformasi pembelajaran tradisional. 

Di sisi lain, pada dasarnya aset MTI sudah cukup banyak. Hal ini dikarenakan masyarakat mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) terhadap madrasah Tarbiyah Islamiyah. Ada yang menghibahkan atau mewakafkan tanahnya. Ada pula yang rajin memberi sedekah, dan sebagainya. Sehingga seharusnya keberadaan MTI benar-benar menjadi poros kebaikan dan keberkahan bagi orang di sekitarnya.

Sementara itu, beberapa MTI masih berkutat dengan cara lama yang bagus pada masanya. Sedangkan di masa milenial ini, beberapa program dan pembaruan mesti dihadapkan ke masyarakat. MTI sudah harus go public. Meningkatkan nilai dengan mengganti kemasan yang lebih baik dari sebelumnya.

Solusi yang dapat ditawarkan adalah peran utama dari pewaris harus baik. Maka harus serius melakukan pengkaderan pemimpin dari keluarga atau ahli waris. Orang-orang tersebut dipersiapkan untuk mengelola madrasah sehingga tidak terkesan apa adanya. Jika tidak ada dari orang terdekat, maka boleh saja membuka dari luar dengan memperhatikan unsur-unsur yang dibutuhkan. Dengan demikian, akan didapat pembaruan terhadap manajemen surau yang modern.

Suasana diskusi semakin hangat dan beranjak ke Kanti Mangaji dari Palembang, Ustadz Hafidhuddin Z. Abtho. Seperti halnya keberadaan Tarbiyah Islamiyah di Minangkabau, Palembang juga memiliki cerita istimewa dalam sejarahnya. Pada tahun 1938, PERTI berkembang hingga mencapai 100 madrasah. Ada argumen yang menyatakan bahwa masyarakat muslim Palembang cenderung memiliki kesadaran yang tinggi. Tak hanya itu, spirit untuk gerakan pembaharuan Islam juga terlihat besar dari sana. Sehingga kajian-kajian yang diterima jelas berbeda dengan pemberian keilmuan dari Belanda yang mengutamakan kepada duniawi semata.

Nasib Tarbiyah Islamiyah hari ini sudah berbeda, baik dari segi madrasah maupun dari segi organisasinya. Ustadz Pebrialdi, SHI., MH yang juga sebagai Kanti Mangaji selanjutnya menyatakan bahwa persoalan internal dari segi organisasi cukup beragam. Padahal, organisasi yang terlahir dari kondisi sosial di Minangkabau ini memiliki fondasi dasar adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Namun nyatanya, perang ideologis masih saja mencengkeram dan memporak-porandakan generasi ke generasi. Padahal kecerdasan dalam berorganisasi semestinya mampu menepis rasa persaingan antar sesama. Dengan adanya hal tersebut, madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah juga tidak memikirkan adanya persaingan pula antar lembaga.

Baca Juga: MTI dan Masjid Jamik Curup

Maka setelah memahami berbagai aspek, baik dari segi organisasi maupun tata kelola di madrasah, dapat disimpulkan bahwa Tarbiyah Islamiyah memang sedang menikmati fase gejala naik-turun. Beberapa madrasah berada dalam posisi yang menyulitkan untuk berkembang. Seperti minimnya kesejahteraan guru kitab, kondisi bangunan yang harus direnovasi, ataupun pembagian kurikulum yang kurang maksimal. Akan tetapi di beberapa madrasah lain adalah kebalikannya. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa ada harapan untuk menyamakan seluruh MTI di bawah naungan organisasi.

Kembali ke khittah Tarbiyah Islamiyah adalah kembali ke madrasah. Kembali ke madrasah adalah kembali ke surau. Dan kembali ke surau adalah kembali ke kaji yang mempererat pertalian adat dan syarak. Tarbiyah Islamiyah di mana pun berada harus kokoh pada hal-hal tersebut.[]

Wiza Novia Rahmi
Wiza Novia Rahmi 2 Articles
Wiza Novia Rahmi. Kanti Mangaji di Kaji Surau, Alumni MTI Canduang dan Alumni IAIN Bukittinggi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*