Nisbah “al-Khalidi”: dan Keterasingan Tarekat dari Pesantren?

Nisbah “al-Khalidi” dan Terasingnya Tarekat dari Pesantren
Sketsa Syekh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi dan Kitab karang Beliau, Aqwalu Mardiyah

Sekitar dua bulan yang lalu, saya terlibat diskusi ringan via media sosial dengan seorang alumni salah satu pesantren tertua di kampung saya. Ia dengan nada mengkritik bertanya kepada saya sejak kapan ada nisbah “al-Khalidi” di belakang nama Inyiak Canduang. Kritikan dan pertanyaan itu seiring dengan penulisan nisbah “al-Khalidi” yang saya bubuhkan hampir disetiap saya menulis nama Maulana Syaikh Sulaiman Arrasuli Canduang tersebut.

Ia menyela, bahwa selama ia nyantri di pesantren itu tidak pernah, dalam pengakuannya, ia mendengar nisbah al-Khalidi di belakang nama ulama tersebut. Saya jelaskan padanya bahwa “al-Khalidi” itu nisbah tarekat yang diamalkan dan diajarkan oleh ulama tersebut. Lengkapnya Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Lazimnya, bila seorang ulama telah memperoleh ijazah irsyad dalam tarekat ini dan kemudian ia mempunyai kiprah dalam menyebarkan tarekat ini, nisbah “al-Khalidi” disematkan dibelakang namanya, atau ulama tersebut betul ingin menunjukkan bahwa ini adalah tarekat yang ia pegang dan yang diamalkannya.

Penulisan “al-Khalidi” sama dengan penyebutan “al-Syafi’i” sebagai nisbah mazhab fiqih (Mazhab Syafi’i) dan “al-Asy’ari” sebagai nisbah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu al-Asy’ariyyah. Mengenai Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah ialah amal tasawuf yang secara umum diamalkan oleh ulama-ulama di Pedalaman Minangkabau, terkhusus ulama-ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Mengenai pengakuan si penanya tadi bahwa ia tidak pernah mendengar nisbah itu di belakang nama Inyiak Canduang, saya jawab: tidak pernah bukan berarti tidak ada. Tidak mendengar bisa jadi bermakna belum mendengar. Memang si penanya tidak pernah bertemu Inyiak Canduang. Ia nyantri jauh setelah Inyiak Canduang wafat pada 1970.

Baca Juga: Kitab Tarekat Naqsabandiah-Ahmadiah Karangan Syekh Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî yang Ditulis di Kesultanan Riau (1300 H/ 1883 M)

Dari diskusi ringan itu, ada beberapa poin yang saya tanggap:

(1) ilmu tasawuf, terutama tarekat, memang mengalami degradasi di pesantren-pesantren, di kampung saya. Jelas, bahkan sementara santri merasa asing dengan yang namanya tarekat, atau bahkan pendiri pesantrennya seorang tarekat. Lokus-lokus tarekat tersebut bukan lagi pesantren sebagai sedia kala, namun hanya sebatas di surau saja.

(2) Keterasingan mereka terhadap tarekat, bisa jadi karena guru-guru mereka di pesantren tidak lagi mementingkan aspek spritual ini. Tepatnya lebih fokus pada ilmu sutur belaka.

(3) Keterasingan bisa menumbuhkan sikap anti tarekat, meskipun Kitab Hikam telah dikhatamnya di kelas. Sebab tarekat ialah amal, bukan sekadar yang tertulis dalam kertas yang kemudian masuk ke otak.

Baca Juga: Bertarekat, Perlukah?

Kitab karangan Syekh Sulaiman Arrasuli, Aqwalu Mardiyah, yang bertuliskan nisbah al-Khalidi di belakang nama beliau

Dengan pikiran itu, maka saya merasa sudah tepat menuliskan kembali nisbah “al-Khalidi” di belakang nama ulama-ulama Minangkabau yang ahli Naqsyabandi tersebut, seperti Syaikh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi. Memperkenalkan nama, sesuatu yang sebenarnya sudah ada, ialah sangat penting sebelum memperkenalkan isi.[]

Apria Putra
Apria Putra 91 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*