Ota-ota Urang Siak di MTI Tarusan Bersama Da Inyiak dan Da Nuzul

Ota-ota Urang Siak di MTI Tarusan Bersama Da Inyiak dan Da Nuzul


Saya mulai dengan salah satu ungkapan Da Inyiak “ marantau tu ado duo, yaitu marantau lahia dan marantau batin, meski lahia di kampuang nan batin haruslah marantau”. Inilah pengantar untuk mengawali cerita ini.

“Pertama bertemu Da Inyiak” sangat spesial memang, karena bukan saya yang pergi menemui tetapi malah Da Inyiak yang mengunjungi. Ditengah kesibukannya, beliau ternyata telah mengagendakan untuk berkunjung ke Tarusan Kamang. Alhamdulillah, kedatangan Da Inyiak menambah deretan kunjungan buya-buya, umi-umi dan anak siak Tarbiyah Islamiyah ke Tarusan Kamang.

Disambut dengan guyuran rahmat tuhan, Da Inyiak sampai di MTI Tarusan Kamang, beliau juga ditemani oleh da Nuzul Iskandar. Adapun hal yang terasa ketika beliau datang, adalah seperti menyambut kepulangan seorang uda dari rantau. Tidaklah terasa seperti kedatangan tamu dari suatu tempat yang jauh, tetapi terasa menunggu kepulangan sanak saudara dari rantau nan jauh. Mungkin itulah kesan pertama bertemu langsung dengan Da Inyiak.

Ota pun kami mulai, nampaknya langsung meng-gas ke Tarbiyah Islamiyah. Seperti biasa Da Inyiak dengan kar-ra-kah mamatiak rokok menyampaikan bahwa sudah menjadi keinginan dari jauh hari untuk berkunjung ka Tarbiyah Tarusan, karena ingin bertemu dan “bacarito’ dengan anak-anak siak di Tarbiyah Islamiyah Tarusan Kamang. Kunjungan ke Tarusan ini, mendahului kunjungan beliau ke almamater MTI Canduang. Kito ko ma ota sambia mangaji, dan mangaji sambia ma ota.

Setelah 20 tahun baputa-puta di Jawa, beliau telah meresap ke berbagai kalangan di Jawa, beliau menyebutnya dengan Mamadek-madek i labuah. Tapi saya berasumsi, bahwa dengan “labuah” itulah kita sampai ke tujuan. Kalau “labuah” itu buruak mangko kito akan lamo sampai di tujuan, tapi kalau labuah tu rancak kito akan lancar sampai ka tujuan. Itulah Da Inyiak nan tukang padek i labuah sahinggo umat manusia berjalan lancar di labuah tu.

Da Inyiak memulai ota dengan membahas literasi. Beliau meyakinkan bahwa menulis adalah salah satu wadah untuk mengembangkan diri. Banyak yang dapat kita tulis, disekitar kita banyak hal mesti kita abadikan dalam bentuk tulisan. Manfaatnya adalah kita dapat melihat suatu masalah secara jernih dan nyata. Kemudian juga agar terhindar dari kesalah pahaman baik dalam memahami kaji, adat budaya dan sebagainya. Untuk saat kini, ibarat membuat sebuah meja, mulai dari kayu surian atau kaju jati yang disinso, kemudian diarik, dikatam, dibantuak sampai mampernis manjadi meja itu dapek kito lakukan basamo-samo. Jan ragu-ragu untuak menulis, karano kito ndak ka ma angok kalua badan lai. Banyak uda-uda nan bersedia untuak tampek batanyo, dan mengarahkan tulisan kito. Mulailah menulis tentang sesuatu yang ada di sekitar kita, banyak yang sebenarnya dapat kita tulis, lebih-lebih persoalan agama, adat dan budaya.

Baca Juga: MTI Tarusan Kamang Melaksanakan Peresmian Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas Kementrian Tenaga Kerja Republik Indonesia

Da Inyiak juga bercerita panjang tentang bagaimana agama dan budaya itu menyatu. Setiap daerah di Indonesia yang memiliki ke-khas an dalam beragama. Khas ini maksudnya bukanlah agama dikhaskan, tetapi pola menyampaikan dakwah yang bervariasi di setiap daerah. Inilah perjuangan para buya-buya dahulu, yaitu bagaimana membuat agama itu masuk ke dalam masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi adat dan budaya. Kita bisa melihat Minangkabau dengan tradisinya, bagaimana pergaulan di lapau, di surau, di sawah, bahkan di paburuan. Cobalah mengatakan bahwa orang nan parewa tu indak Islam, maka otomatis tangan parewa tu akan malakek ka kapalo. Begitu juga urang paburu, meski bagaluik jo anjiang, urang paburu tu dak ka namuah di kecek an dak Islam, sebab agama itu sudah mendarah daging bagi masyarakat Minangkabau. Bahkan untuak peraturan dan baradat, urang paburu sangat disiplin dalam bertatakrama di paburuan.

Sama halnya dengan perjuangan dakwah Wali Songo di Jawa. Ada daerah yang melaksanakan salat Ashar agak di perlambat pelaksanaannya, meskipun waktu sudah masuk, tetapi hanya diisi dengan lantunan selawat. Ternyata tujuannya adalah untuk menunggu para petani yang sedang bekerja di kebun, sehingga semua mayarakat dapat mengikuti salat berjamaah. Nah, apakah hal ini melalaikan salat, tentu tidak cuma tidak dapat pahala di awal waktu. Akan tetapi ini adalah sebuah dakwah bil hikmah, dengan sebab ditunggu itu membuat ke arifan bagi masyarakat bahwa salat ini hukumnya wajib dilaksananakan dan dalam kondisi apapun mari selalu berjamaah. Itu dakwah ulama dahulu, untuk sekarang kita tinggal melanjutkan agar berjamaah bisa dilakukan tetap waktu.

Bersama Da Nuzul : kami bercerita tentang Inyiak Jaho, Inyiak Canduang dan buya-buya Tarbiyah yang ada di Tanah Datar. Beliau bercerita ke aliman Inyiak Jaho dan Inyiak Canduang. Eratnya hubungan batin para buya-buya dahulu memang sangat luar biasa. Terkadang, kaji itu memang berbeda, sebabnya berbeda memahami atau belum menemukan paham yang tepat. Pasal seperti ini menjadi hal yang biasa bagi buya-buya sehingga antar satu sama lain saling meluruskan. Jika ada kaji nan tasangkuik yang tidak dapat diselesaikan oleh satu buya, maka buya itu tidak akan malu menyatakan “kito tanyo ka buya nan lain dulu”. Nah inilah kenikmatan mangaji, tidak semuanya dapat diselesaikan sendiri, tapi bersama menyelesaikan semua kaji.

Pesan da Inyiak “Sumbangan Untuk Peradaban”. Saya bercerita tentang para anak siak (santri) yang datang dari jauh untuk menuntut ilmu ke Tarusan. Saya merasakan bahwa anak siak yang datang ini tidak semuanya berasal dari kalangan mewah, tetapi ada yang berasal dari keluarga sederhana. Orang tuanya harus bekerja banting tulang untuk membiayai sekolah anaknya. Faktor alam juga mempengaruhi kondisi ekonomi mereka, kadang subur dan kadang gersang. Kemudian Da Inyiak bertanya : apakah anak siak tu memiliki kemampuan belajar? Saya jawab, iyo da. Nah itu kuncinya setiap manusia memiliki potensi dalam dirinya, kita memiliki kesempatan yang sama untuk sukses, tidak jarang orang yang sukses itu berasal dari mutiara yang terpendam. Mereka itulah yang dimaksud mutiara terpendam. Maka dari itu antarkanlah mereka sampai sukses, jadikan mereka sebagai kader-kader yang alim. Dan inilah yang disebut dengan sumbangan untuk peradaban, kalau diukur dengan uang, berapa uang yang bisa diberikan dan sejauh mana uang itu dapat merubah peradaban? Maka yang sebenarnya sumbangsih untuk peradaban adalah ilmu.

Baca Juga: MTI Tarusan Kamang Mengadakan Pelatihan Penyelenggaraan Jenazah

Itulah sedikit tentang Da Inyiak dan Tarbiyah Islamiyah. Terasa singkat, tapi sangat berkesan. Terimakasih untuak Da Inyiak dan Da Nuzul yang alah mambuek batin kami marantau ka tanah Jawa. Kami akhiri kebesamaan dengan berfoto bersama di depan gedung MTI Tarusan.[]

Mhd Al Afgani
Pengajar dan Alumni MTI Tarusan Kamang Tamatan 2014