Pangkal Perbedaan dalam Jumlah Rakaat Salat Tarawih

Pangkal Perbedaan dalam Jumlah Rakaat Salat Tarawih
Ilstrasi Dok https://unsplash.com/@leviclancy

Jumlah Rakaat Salat Tarawih Jumlah Rakaat Salat Tarawih

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pada bulan Ramadhan, kaum muslimin menjalankan salat tarawih. Ada yang menjalankan 8 raka’at, ada yang 20 raka’at atau 36 raka’at. Sedang salat Witir yang diletakkan di akhir biasanya 3 rakaat. Salat Tarawih hukumnya sangat disunnahkan (sunnah muakkadah), lebih utama berjama’ah. Demikian pendapat masyhur yang disampaikann oleh para sahabat dan ulama, namun begitu boleh dilaksanakan sendiri.

Ada beberapa pendapat tentang jumlah rakaat salat Tarawih; ada pendapat yang mengatakan bahwa yaitu boleh dikerjakan dengan 8, 20 atau 36 raka’at. Pangkal perbedaan awal dalam masalah jumlah raka’at salat Tarawih adalah pada sebuah pertanyaan mendasar. Yaitu apakah salat Tarawih itu “sama” dengan salat malam atau keduanya adalah jenis salat sendiri-sendiri?

Mereka yang menganggap keduanya adalah “sama”, biasanya-akan mengatakan bahwa jumlah bilangan salat Tawarih dan Witir itu 11 raka’at. Adapun mereka yang melakukan salat tarawih 8 rakaat dengan witir 3 rakaat, “bersandar” hadis yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah:

“Tiadalah Rasulullah menambah pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau salat empat rakaat dan jangan Anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya Kemudian beliau salat tiga rakaat. Kemudian aku (Aisyah) bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum salat witir?” Beliau bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur.” (Hr Bukhari).

Dalam kitab “Dalilul Falihin” menerangkan bahwa hadis di atas adalah hadis tentang “Salat Witir” karena salat witir itu paling banyak hanya sebelas rakaat, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan Aisyah bahwa Nabi saw. tidak menambah salat, baik pada bulan Ramadlan atau lainnya melebihi sebelas rakaat. Sedangkan salat tarawih atau “Qiyamu Ramadan” hanya ada pada bulan Ramadlan saja. Perhatikan: “Ucapan Aisyah “Beliau (Nabi) salat empat rakaat dan Anda jangan bertanya tentang kebagusan dan panjangnya”, tidaklah berarti bahwa beliau melakukan salat empat rakaat dengan satu kali salam. Sebab dalam hadis yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, Nabi bersabda:

صلاة الليل مثنى مثنى ، فإذا خفت الصبح فاوتر بواحدة

“Salat malam itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat, dan jika kamu khawatir akan subuh, salatlah witir satu rakaat”.

Dalam hadis lain yang juga disepakati kesahihannya, Ibnu Umar juga berkata: “Adalah Nabi saw. melakukan salat dari waktu malam dua rakaat dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat”. (متفق عليه)

Pada masa Rasulullah dan masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, salat tarawih dilaksanakan pada waktu tengah malam, dan namanya bukan salat taraweh, melainkan “Qiyamu Ramadlan” (salat pada malam bulan Ramadlan).

Nama “tarawih” diambil dari arti “istirahat” yang dilakukan setelah melakukan salat empat rakaat. Disamping itu perlu diketahui, bahwa pelaksanaan salat tarawih di Masjidil Haram, Makkah pada “masa itu” adalah 20 rakaat dengan dua rakaat satu salam.

Baca Juga: Bilangan Rakaat Tarawih Menurut Kajian Hadis Kiai Ali Mustafa Yaqub

Lalu Khalifah Umar bin ‘Abdul Aziz ber- ijtihad menambah jumlah rakaat salat Tarawih menjadi 36 raka’at bagi orang di luar kota Makkah agar “menyamai pahala Tarawihahli makkah”.

Atau salat Tarawih 20 raka’at dan Witir 3 raka’at menjadi 23 raka’at. Sebab 11 rakaat itu adalah jumlah bilangan rakaat salat malamnya (witir) Rasulullah bersama sahabat dan setelah itu Beliau menyempurnakan salat malam (Qiyamul Ramadhan / Terawih) di rumahnya.

Sebagaimana Hadits Nabi: “Rasulullah keluar untuk salat malam di bulan Ramadan sebanyak 3 tahap, malam ke 3, ke 5 dan ke 27 untuk salat bersama umat di masjid, Rasulullah salat 8 raka’at dan kemudian mereka menyempurnakan sisa salatnya di rumah masing-masing. (Hr Bukhari, Muslim).

Para imam madzhab telah menetapkan kesunnahan salat tarawih berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad SAW. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadis sebagai berikut: “Nabi keluar pada waktu tengah malam pada bulan Ramadan, yaitu pada tiga malam yang terpisah: malam tanggal 23, 25, dan 27. Beliau salat di masjid dan orang-orang salat seperti salat beliau di masjid. Beliau salat dengan mereka delapan rakaat, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan salat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga salat tersebut sempurna 20 rakaat menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah”. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah salat Tarawih di bulan Ramadhan sendirian sebanyak 20 Rakaat ditambah Witir. (Hr Baihaqi,Thabrani).

Ahli hadis dan fiqih, Ibnu Hajar menyatakan bahwa Rasulullah salat bersama kaum muslimin sebanyak 20 rakaat di malam Ramadhan. Ketika tiba di malam ketiga, orang-orang berkumpul, namun Rasulullah tidak keluar. Kemudian paginya beliau bersabda:

خشيْت ان تفرض عليكم فلا تطيقونها

“Aku takut kalau-kalau tarawih diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakannya.”

Hadis ini disepakati kesahihannya dan tanpa mengesampingkan hadis lain yang diriwayatkan Aisyah yang “Tidak menyebutkan rakaatnya”.

Disebutkan dalam kitab Sahih Bukhari: “Dari Abdurrahman bin Abdul Qarai, beliau berkata: Saya keluar bersama Sayidina ‘Umar (Khalifah) pada suatu malam bulan Ramadhan pergi ke masjid (Medinah). Didapati dalam masjid orang-orang salat tarawih berpisah-pisah.

Ada orang yang sembahyang sendiri ­sendiri, ada orang yang salat dan ada beberapa orang di bela­kangnya, maka Sayidina Umar berkata: “Saya berpendapat akan memper­satukan orang-orang ini. Kalau disatukan dengan seorang Imam sesungguhnya lebih baik, lebih serupa dengan salat Rasulullah”

Maka dipersatukan orang-orang itu salat di belakang seorang Imam namanya Ubal bin Ka’ab. Kemudian pada satu malam kami datang lagi ke masjid, lantas kami melihat orang-orang shalat bersama-sama di belakang seorang Imam. Sayidina Umar berkata: “Ini adalah bid’ah yang baik” (Hr Bukhari).

Sebagai catatan: Abdurrahman bin Abdul Qarai yang meriwayatkan perbuatan Sayidina Umar ini adalah seorang Tabi’in yang lahir ketika Nabi masih hidup. Beliau adalah murid Sayidina Umar bin Khathab, (wafat 81 H).

Nampak dalam hadis ini bahwa Khalifah yang kedua Umar bin Khathab memerintahkan agar salat tarawih dikerjakan dengan berjamaah, tidak scorang-seorang saja. Dan beliau berpendapat bahwa hal itu adalah “bid’ah yang baik”.

Dalam al Muwatha’, karya Imam Malik (beliau bertemu dan melihat langsung tata cara ibadah anak cucu sahabat ra) meriwayatkan begini : Dari Malik dari Yazid bin Ruman, ia berkata: “Adalah manusia mendirikan salat pada zaman Umar bin Khathab sebanyak 23 raka’at.” (Hr Imam Malik)

Jelaslah bahwa sahabat-sahabat Nabi ketika itu diperintah oleh Sayidina Umar untuk mengerjakan salat sebanyak 23 rakaat, yaitu 20 raka’at salat tarawih dan 3 raka’at salat witir sesudah salat tarawih.

Disebutkan Imam Baihaqi: “Bahwasanya mereka (sahabat-sahabat) Nabi, mendirikan salat (tarawih) dalam bulan Ramadhan pada zaman Umar bin Khathab dengan 20 raka’at. Nampaklah dalam keterangan ini bahwá para sahabati telah (sepakat) mendirikan salat tarawih pada masa Umar sebanyak 20 raka’at.

Ijma’ (kesepatan) sahabat-sahabat Nabi saw menurut ushul fiqih adalah hujah yakni dalil syariat. Inilah pokok pangkal hitungan raka’at salat tarawih. Inilah “Ijtihad” Sayidina Umar yang memerintahkan 20 raka’at untuk salat sunnah tarawih, ini berarti bahwa beliau mengetahui bahwa banyaknya salat tarawih Nabi, baik di msjid atau di rumah sebanyak 20 raka’at. Kalau tidak tentu Sayyidina Umar tidak akan memerintahkan begitu.  Ini namanya riwayat hadits dengan perbuatan.

Kita umat Islam disuruh oleh Nabi mengikuti Sayidina Abu Bakar dan Umar. Nabi berkata: قتدوا

باللذين من بعدى ابى بكر وعمر .

“Ikutilah dua orang sesudah ku: yaitu Abu Bakar dan Umar” (Hr Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dan dalam sebuah hadis umat Islam diperintah oleh Nabi supaya mengikut Khalifah-khalifah, jadi sangat jelas atas apa yang dilakukan Umar ra dalam rakaat Tarawih adalah sebuah perintah dalam hal “ke-sunnahan” yang jelas pijakkanya perintah dari Rasulullah. Dalam riwayat Bukhari ada hadis dari Irbad bin Saariya:

ععليكم بسنتي وسنّة الخلفاء الرّاشدين المهديين بعدي عضوا عليْها بالنواجذ

“Wajib atasmu berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang terpetunjuk sesudahku. Maka peganglah kuat-kuat dengan gerahammu”.

Siapa Umar bin Khatab? Beliau salah satu dari Khulafaurrasyidin yang disebut dalam hadist tersebut ! Dapat diambil kesimpulan dari dalil-dalil di atas, bahwa hitungan raka’at salat tarawih adalah 20 raka’at, dan salat witir adalah 3 raka’at, jumlahnya 23 raka’at. Barang siapa yang tidak mengerjakan salat tarawih 20 raka’at maka ia belum dinamai melaksanakan salat tarawih, dan belum mengikuti jejak Sayidina Umar bin Khathab. Khalilatur-rasyidin yang kita semuanya disuruh Nabi mengikut beliau.

Jumlah Raka’at Salat Tarawih Menurut Ulama salaf:

1. Imam Hanafi sebagaimana dikatakan Imam Hanafi dalam kitab Fathul Qadir bahwa disunnahkan kaum muslimin berkumpul pada bulan Ramadhan sesudah Isya’, lalu mereka salat bersama imamnya lima Tarawih (istirahat), setiap istirahat dua salam, atau dua istirahat mereka duduk sepanjang istirahat, kemudian mereka witir (ganjil). Walhasil, bahwa bilangan rakaatnya 20 rakaat selain witir jumlahnya 5 istirahat dan setiap istirahat dua salam dan setiap salam dua rakaat = 2 x 2 x 5 = 20 rakaat.

2. Imam Malik yang bertemu dan melihat langsung tata cara “ibadah” anak cucu Sahabat Rasulullah di Madinah sudah dijelaskan di “atas”.

3. Imam Syafi dalam al Umm, “bahwa salat malam bulan Ramadhan itu, secara sendirian itu lebih aku sukai, dan saya melihat umat di madinah melaksanakan 39 rakaat, tetapi saya lebih suka 20 rakaat, karena itu diriwayatkan dari Umar bin Khattab.

Demikian pula umat melakukannya di Makkah dan mereka witir 3 rakaat. 4. Imam Ahmad. Adapun beliau bersepakat dengan riwayat Umar bin Khatab yang sudah dijelaskan di atas. Salat di Masjidil Haram, Makkah. Di sana, 23 rakaat diselesaikan dalam waktu kira-kira 90-120 menit.

Surat yang dibaca imam ialah ayat -ayat suci al-Qur’an dari awal, terus berurutan menuju akhir al-Qur’an. Setiap malam harus diselesaikan kira-kira 1 juz lebih, dengan diperkirakan pada tanggal 29 Ramadhan (dulu setiap tanggal 27 Ramadhan) sudah khatam.

Baca Juga: Tarawih di Rumah atau Masjid?

Pada malam ke 29 Ramadhan itulah ada tradisi khataman al-Qur’an dalam salat Tarawih di Masjidil Haram. Dan terpapar di kitab Shalat al Tarawih fi Masjid al Haram bahwa salat Tarawih di Masjidil Haram sejak masa Rasulullah, Abu Bakar,Umar, Usman, dan seterusnya sampai sekarang selalu dilakukan 20 rakaatdan 3 rakaat Witir.

Pada kesimpulannya, bahwa pendapat yang “unggul” tentang jumlah rakaat salat tarawih adalah 20 + 3 raka’at witir. Akan tetapi jika ada yang melaksanakan salat tarawih 8 + 3 withir jumlahnya 11 raka’at tidak berarti menyalahi Islam. Sebab perbedaan ini hanya masalah furu’iyyah (cabang) bukan masalah aqidah tidak perlu dipertentangkan. Hanya saja terlihat siapa yang sebenarnya ikut Salafus shalih yang sebenarnya.[]

والله اعلم
Semoga bermanfaat

Sayid Machmoed BSA
Tinggal di Jakarta Selatan, DKI Jakarta