Para Perempuan di Belakang Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Para Perempuan di Belakang Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
Ilustrasi Dok. https://tribune.com.pk/story/1530839/772-college-teachers-regularised-k-p

Perempuan di Belakang Syekh Ahmad Khatib

Oleh: Hafifuddin

Di balik kesuksesan seorang laki-laki, ada sosok perempuan yang setia mendampingi. Perempuan yang berkorban dan rela bersama dalam suka maupun duka sebagaimana Sayyidah Khadijah al-Kubra mendampingi Rasulullah.

Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit mengulas para perempuan yang ada di balik Syekh Ahmad al-Khatib bin Abdul Lathif al-Minangkabawi. Beliau seorang pengamal Tarekat Khalwatiyah serta alim-allamah Nusantara yang menjadi guru besar Madzhab Syafi’i di tanah suci Makkah.

Perempuan pertama yang menginspirasi Syekh Ahmad Khatib tentu adalah ibundanya. Nama beliau adalah Aminah dari desa Koto Tuo, Ampek Angket, Minangkabau. Saat itu, yang menjadi kepala desanya adalah paman (saudara ibu) Syekh Ahmad al-Khatib.

Dari ibu beliaulah, Syekh Ahmad al-Khatib bin Abdul Lathif al-Khatib bin Syekh Abdullah bin Kalan dilahirkan pada hari Senin, 06 Dzulhijjah 1276 H. di Koto Tuo. Saudara kandung beliau adalah Mahmud, Aisyah, Hafshah dan Shafiyah. Sedangkan saudara tirinya berjumlah enam belas yang rata-rata meninggal saat kecil.

Baca Juga: Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Ulama Nusantara dan Arab, dan Menjual Ayam Kepada Cina di Nusantara

Pada 1292 H., untuk pertama kali Syekh Ahmad Khatib pulang dari Makkah karena sang ibunda sangat merindukannya. Setelah tinggal bersamanya, beliau mengaji pada Tuanku Mudo kitab Minhajut Thalibin karya Imam Nawawi dan Tafsir Jalalain. Beliau tinggal bersama ibundanya sekitar setahun atau lebih.

Perempuan inspirator kedua adalah nenek beliau, ibu dari ibundanya yang bernama Zainab. Beliau merupakan wanita salihah, istiqamah salat malam serta pengamal Tarekat Naqsyabandiyah. Suatu malam, beliau bermimpi Syekh Ahmad Khatib duduk di bawah pohon besar yang sangat rindang dan di dekatnya ada sumber air yang mengalir sangat deras.

‘cucuku, apa yang kau lakukan disini ?’ tanya sang nenek. Syekh Khatib kecil menjawab; ‘Nenekku, dunia akan punah. Saya akan duduk beristirahat di bawah pohon ini. Mata air ini adalah milikku yang akan digunakan oleh orang-orang Islam.’ Kelak, mimpi tersebut menjadi nyata. Pohon itu ditakwil sebagai Syekh Muhammad Shalih al-Kurdi, mertua Syekh Ahmad Khatib. Sedangkan mata air itu adalah ilmu Syekh Ahmad Khatib yang ditimba oleh murid-muridnya dari segala penjuru dunia, termasuk dari bumi Nusantara.

Diantara murid beliau adalah Syekh Muhammad Nur (Mufti Kerajaan Langkat), Syekh Hasan Ma’shum (Mufti Kerajaan Deli), Syekh Muhammad Shalih (Mufti Kerajaan Selangor), Syekh Muhammad Zain (Mufti Kerajaan Perak), Haji Muhammad Nur Ismail (Qadli Kerajaan Langkat di Binjai), Dr. H. Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul (ayah Buya Hamka), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama), Syekh Sulaiman Arrasuli (Pendiri Perti) dan lainnya.

Perempuan ketiga adalah Khadijah, istri pertama Syekh Ahmad Khatib. Beliau merupakan putri saudagar Makkah yang kaya raya, Syekh Muhammad Shalih al-Kurdi. Syekh Khatib kawin dengannya pada 12 Rabiul Awal 1296 H. Khadijah, di mata Syekh Khatib, adalah perempuan shalihah, berparas cantik, pandai menjaga diri, berakhlak mulia, taat pada suami serta menjadi penolong dalam aktivitas keilmuan Syekh Khatib.

Karenanya, ketika Khadijah wafat saat melahirkan putra ketiganya pada 20 Dzulhijjah 1301 H., Syekh Ahmad Khatib sangat terpukul, bahkan hampir gila. Beliau berencana pulang kampung guna menghilangkan kesedihan yang menimpanya tetapi dilarang oleh mertuanya.

Syekh Shalih al-Kurdi kemudian menikahkan Syekh Khatib dengan putrinya, Fathimah, kakak dari Khadijah, pada 04 Rabiul Awal 1302 H. Sejak bersamanya, hilanglah kesedihan Syekh Khatib karena istrinya adalah wanita pintar, cerdas, baik, cantik, khatnya bagus, pandai berhitung, berwibawa dan hafal al-Quran. Dalam membaca Shahih Bukhari dan kitab-kitab yang lain, dia sangat lancar bak air mengalir.

Syekh Khatib sangat bersyukur atas anugerah tersebut. Keutamaan-keutamaan dari istri keduanya tak dapat dihitung. Beliau hidup bahagia bersamanya dengan dikaruniai lima orang putra dan putri. Beliau wafat pada 09 Jumadal Ula 1334 H. dengan meninggalkan warisan karya sebanyak 47 buah.

Baca Juga: Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dan Wahhabi

Keluarga Syekh Ahmad al-Khatib sebagai keturunan beliau tetaplah menjadi orang-orang terkemuka dalam masyarakat Hijaz. Putra beliau dari istri pertamanya, Abdul Karim al-Khatib, melanjutkan kiprah beliau sebagai ulama. Abdul Malik al-Khatib, putra beliau dari Fatimah, menjadi Duta Besar Kerajaan Hasyimiyah di Mesir pada masa Syarif Husain. Sedangkan adiknya, Abdul Hamid al-Khatib, menjadi Duta Besar Kerajaan Arab Saudi di Pakistan serta menjadi utusan istimewa dengan jabatan duta besar luar biasa menghadiri penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia pada tanggal 28 Desember 1959 M. dan beliau wafat pada bulan Oktober 1961 M. Innalilahi wa inna ilaihi rajiun.

Kambingan Barat

Rabu, 09 Ramadlan 1442 H.

Hafifuddin
Pelayan di Yayasan Ziyadatul Ulum dan Tinggal di Kambingan Barat Lenteng Sumenep