Para Sejarawan di Era Pascakebenaran

Para Sejarawan di Era Pascakebenaran
Vermoedelijk een monument voor Diponegoro te Makassar (Koleksi KITLV, 1890)/ Dok. Penulis

Sejarawan di Era Pascakebenaran Sejarawan di Era Pascakebenaran Sejarawan di Era Pascakebenaran Sejarawan di Era Pascakebenaran Sejarawan di Era Pascakebenaran Sejarawan di Era Pascakebenaran

Oleh: Christopher Reinhart

Pada tanggal 11 April 2020, Majalah Tempo menerbitkan edisi terbarunya yang di dalamnya mengandung sebuah artikel tentang keris Diponegoro.  Pembahasan ini merupakan sebuah kelanjutan dari kabar luar biasa kedatangan keluarga kerajaan Belanda yang turut serta membawa sebuah pusaka untuk dikembalikan. 

Pusaka yang dikembalikan tadi adalah sebuah keris milik Pangeran Diponegoro bernama “Kiai Naga Siluman”. Pengembalian pusaka tersebut pada akhirnya tidak hanya membawa kegembiraan, tetapi juga rasa skeptis dan keraguan di kalangan para sejarawan dan ahli keris. 

Untuk menjawab keraguan akan keaslian keris ini, Tempo tampaknya memilih untuk mewawancarai sejarawan Peter Carey yang merupakan otoritas utama dan ahli Diponegoro. 

Wawancara tersebut kemudian disarikan dan diterbitkan dalam bentuk artikel berjudul “Peter Carey: Saya Percaya Kesaksian Raden Saleh”. Masalah kemudian muncul ketika Tempo hendak menyebarluaskan artikel yang diproduksinya ini. Tempo, pada laman Twitter resminya, merilis sebuah tautan dengan keterangan yang berbunyi “Sejarawan Peter Carey: Pangeran Diponegoro tidak selurus itu. Dia minum wine dan gin juga …”. Hal ini kemudian menimbulkan kehebohan dan berakhir dengan banyak komentar yang menyudutkan Prof. Peter Carey.

Ketika saya membuka tautan yang dicantumkan oleh Tempo, jelas terbaca bahwa judul artikel berbunyi “Peter Carey: Saya Percaya Kesaksian Raden Saleh”

Dengan demikian, saya membaca dengan seksama satu per satu kata yang ditulis oleh Tempo. Saya kemudian memang menemukan keterangan yang dimaksud bahwa Prof. Carey menyinggung wine dan ‘tidak lurus’nya Pangeran Diponegoro. Namun, hal ini bukan merupakan inti pembahasan. 

Artikel tersebut jelas menarasikan bahwa selain merupakan seorang penganut Islam, Pangeran Diponegoro juga merupakan seorang penganut Kejawen yang kuat.

Dengan demikian, kata ‘tidak lurus’ di sini berkaitan dengan negosiasi kebudayaan di dalam diri Diponegoro untuk mendamaikan Islam dan Kejawen. 

Fenomena ini jelas bukan sesuatu yang luar biasa di Jawa pada abad paruh pertama abad ke-19. Permasalahannya, orang-orang yang memberikan komentar miring tentang Prof. Carey pasti sebagian besar tidak membaca tuntas artikel tersebut atau tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Diponegoro dan Jawa. Inilah permasalahan yang dihadapi oleh sejarawan pada masa kini.

Sejarawan pada masa kini hidup di dalam zaman pascakebenaran. Zaman pascakebenaran adalah masa yang menunjukkan bahwa fakta objektif memiliki pengaruh yang lemah terhadap pembentukan opini publik. Opini publik lebih banyak terbentuk akibat tarikan emosional dan keyakinan pribadi. 

Tantangan utama penelitian sejarah bukan pada tahap pengumpulan dan upaya proses sumber, melainkan pada penyampaian dan penerimaan publik. 

Dalam komentar-komentar yang tercantum di laman Twitter tadi, banyak yang menghakimi bahwa Prof. Carey adalah perwujudan kekuatan asing dan dianggap menjelekkan Diponegoro. Saya terkesima dengan komentar yang dangkal ini karena saya menghabiskan masa bimbingan skripsi saya di hadapan Prof. Carey. 

Baca Juga: Sejarah Ringkas Berdirinya PERTI: Penghimpun Ulama

Saya berada di bawah bimbingannya ketika saya menulis tentang masa akhir pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Setiap kali saya menuliskan suatu narasi yang cenderung membenarkan pemerintah kolonial, Prof. Carey selalu meminta saya memikirkan ulang argumen itu.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa Prof. Carey bukan perwujudan dari kolonialis atau keasingan yang dituduhkan padanya. 

Satu ketika saya memutuskan untuk tidak menggunakan kata “tanam paksa” untuk menyebut Hindia Belanda pada periode 1830 sampai 1870. Saya lebih memilih kata cultuurstelsel yang artinya adalah penanaman sistem budidaya.

Hal ini segera dikoreksi oleh Prof. Carey dan diubah menjadi “tanam paksa”. Dari koreksi kecil ini, saya dapat menilai keberpihakan Prof. Carey pada Indonesia dan masyarakatnya. 

Selain itu, apakah mungkin seorang yang menghabiskan lebih 40 tahun hidupnya untuk meneliti Diponegoro akan bertujuan untuk menjelekkan tokoh yang diteliti sepanjang hayatnya? Prof. Carey jelas menyatakan suatu hal tentang Diponegoro dengan berbekal data yang dimilikinya.

saya mulai menyelami berbagai komentar tadi, saya menemukan sebuah alasan yang mungkin menjadi sebab terlontarnya semua komentar tersebut. 

Orang-orang masa kini memandang masa lalu dengan kacamata masa kini. Salah satu komentar menyatakan bahwa Diponegoro tidak mungkin minum wine atau anggur karena ia adalah seorang yang memeluk Islam dengan taat. Pernyataan ini jelas memiliki kebenaran bila kita mengatakannya pada masa kini. 

Namun demikian, dunia Jawa dan Islam di Jawa pada permulaan abad ke-19 bukanlah Indonesia di tahun 2020. Pemahaman tentang ajaran Islam yang berkembang pada abad tersebut tidak sama dengan pemahaman kita sekarang. 

Saya tidak memiliki pengetahuan untuk menyatakan pemahaman mana yang benar, namun saya dapat menyatakan bahwa kedua pemahaman jelas berbeda.

Orang-orang di masa sekarang sering mengimajinasikan tokoh sejarah sebagai suatu sosok yang tidak bercela dan sesuai dengan gambaran yang ada di dalam otaknya. Konstruksi semacam ini pada akhirnya akan mengacaukan sejarah yang objektif.

Kita jangan melupakan bahwa Belanda juga pernah mengimajinasikan sejarahnya dengan sangat ideal. Ketika mereka berhasil menguasai seluruh Kepulauan Nusantara pada dekade 1930, mereka membangun gambaran bahwa penguasaan mereka atas kepulauan ini berdasar pada kekuatan militer yang hebat.

Mereka membangun narasi bahwa mereka telah mengalahkan raja-raja Nusantara. Padahal, berkuasanya Belanda di kepulauan ini sesungguhnya disebabkan pula oleh taktik turut campur dalam konflik antarkerajaan di Nusantara. 

Keberhasilan mereka tidak bersandar pada kekuatan militer yang hebat, tetapi pada celah-celah kecil konflik internal kerajaan-kerajaan lokal. Pada akhirnya, negara kolonial tersebut terlena dan hancur oleh serangan Jepang pada tahun 1942. Hal yang demikian akan menimpa kita bila kita membutakan diri pada cacat dan noda yang berserakan dalam sejarah. 

Sejarah memang berfungsi sebagai inspirasi, namun tidak saja sebagai inspirasi yang baik, tetapi juga insipirasi untuk tidak mengulang kesalahan.

Dengan demikian, kita sebaiknya memeluk data-data sejarah itu dan mempelajari noda-noda yang ada di dalamnya, bukan menciptakan suatu khayalan akan sejarah yang sangat ideal.

Penyakit kita untuk memandang masa lalu sesuai dengan kacamata masa kini saya alami sendiri sedikitnya sebanyak dua kali. Pada tahun 2017, saya membuat sebuah pos pendek pada aplikasi Line tentang foto hoaks Cut Nyak Din. 

Selama beberapa tahun, beredar foto hitam putih seorang perempuan mengenakan jilbab yang disebut-sebut merupakan foto asli Cut Nyak Din. Saya pada mulanya turut mempercayai hal ini karena saya yakin Din adalah seorang pemeluk Islam yang luar biasa taat. 

Namun demikian, ketika saya melakukan penelitian tentang Din dan Kesultanan Aceh, saya menemukan bahwa foto tersebut bukanlah foto Din.

Dengan niat untuk meluruskan kebenaran, saya membuat pos bahwa foto tersebut adalah foto istri dari Teuku Panglima Polim dan sama sekali bukan Din. 

Pos saya mendapat komentar caci maki dan banyak yang menuduh saya mengatakan Cut Nyak Din tidak berjilbab atau berhijab. Orang-orang yang berkomentar saya kira sama sekali tidak membaca keterangan tulisan saya.

Pada pos tersebut, saya tidak mengatakan bahwa Din tidak berhijab, pun saya juga tidak menyatakan bahwa saya percaya Din tidak berhijab.

Saya hanya menyatakan bahwa ada sebuah sumber yang validitasnya tinggi menunjukkan bahwa wanita berhijab yang selama ini viral sebagai Din itu sesungguhnya adalah istri Panglima Polim. 

Sebelum membuat pos tersebut, saya telah menulis dua penelitian tentang Cut Nyak Din yang menyatakan kecakapannya dan bagaimana orang Belanda memandangnya berbeda dari semua pahlawan Indonesia yang lain. 

Di dalam kedua penelitian tersebut, saya setia pada fakta bahwa Cut Nyak Din adalah pemeluk Islam yang luar biasa dan tidak pernah saya meragukannya.

Namun demikian, saya jelas tidak akan berdiri diam ketika orang menyebarkan hoaks tentang Din, meskipun itu ditujukan untuk ‘kebaikan’ atau pembangunan citra yang baik –karena itu merupakan informasi yang salah dan bohong.

Peristiwa lain yang cukup mengecewakan terjadi pada 6 Februari 2019. Universitas Indonesia mengundang penulis buku Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api, Margreet van Till untuk mengadakan peluncuran dan diskusi karyanya tersebut. Topik utamanya yang dibahas di dalam diskusi tersebut adalah tokoh Si Pitung sehingga pihak penyelenggara kemudian juga mengundang keturunan Si Pitung. 

Pada pertengahan diskusi, ketika Dr. Van Till sedang memaparkan penjelasan dalam bahasa Inggris, salah satu tokoh yang merupakan keturunan keluarga Si Pitung melayangkan protes terhadap tulisan poster. Tulisan tersebut berbunyi “Si Pitung, Bandit, dan Ommelanden” yang memang menjadi tajuk acara tersebut. 

Baca Juga: Merindukan Sosok Pahlawan

Ia mendapat kesan bahwa Si Pitung disejajarkan dengan sebutan bandit dan menjadi marah karena itu. Protes ini kemudian tidak berhenti dan semakin parah sehingga diskusi terpaksa dihentikan. 

Saya yang duduk tepat di belakang tokoh yang protes tersebut dengan jelas mendengar bahwa Dr. Van Till sama sekali tidak menyebutkan bahwa Si Pitung adalah bandit atau hal lain yang dapat mengesankan itu. Kemarahan tokoh tersebut ditujukan kepada Dr. Van Till yang jelas-jelas merupakan orang yang sangat mengagumi Si Pitung. Hal ini menimbulkan kekecewaan yang besar dalam diri saya. 

Dr. Van Till menghabiskan waktu untuk meneliti tentang Si Pitung dengan minat dan hormat yang besar, namun disalahpahami hanya karena kurangnya minat baca. 

Bila tokoh tersebut sempat membaca buku Batavia Kala Malam, jelas ia pasti akan memahami bahwa tidak ada di dalamnya terkandung kesan bahwa Si Pitung adalah bandit.

Sejarawan pada masa pascakebenaran menjadi sangat mudah disalahpahami karena dua hal, yaitu munculnya fantasi yang idealis terhadap masa lalu dan kurangnya pembacaan. 

Oleh sebab itu, pemilihan diksi atau kata untuk judul atau headline dari buku, berita, artikel, atau produk sejarah yang lain harus dilakukan dengan sangat hati-hati. 

Terkadang, pemilihan ini bukan berada di tangan sejarawan, melainkan di tangan media, penerbit, dan pihak berkepentingan lainnya.

Kesalahan kecil dalam pemilihan diksi tersebut pada akhirnya dapat membuat penelitian menahun yang dilakukan oleh sejarawan menjadi sia-sia. 

Selain itu, tampak bahwa banyak orang yang sama sekali tidak peduli untuk membaca secara keseluruhan. Kurangnya minat baca yang bertaut dengan fantasi idealis terhadap masa lalu akan berakhir pada hancurnya sejarah yang objektif. Sejarah tidak dapat dipandang dengan kacamata masa kini, struktur sosial masa kini, atau kebenaran masa kini. 

Namun, sejarah yang diproduksi oleh sejarawan berusaha untuk menguak kacamata, struktur, dan kebenaran masa lalu agar berguna bagi masa kini.

Dengan demikian, apa guna sejarah bila kita menerapkan standar masa kini untuk memandang masa lalu? Apa guna arus sejarah bila kita memaksakan bahwa suatu yang benar di masa kini benar pula di masa lalu? 

Hal itu hanya membuktikan bahwa tidak ada yang berubah. Padahal, sejarah adalah perubahan dan keberlanjutan.

Saya memandang bahwa tampaknya karantina akibat virus korona belakangan ini belum berhasil meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Dengan kasus ini, kita harus berusaha untuk memperbaiki minat baca tersebut.[]

Beberapa Karya Prof. Peter Carey yang Berkaitan dengan Diponegoro

Carey, Peter. 1981.  Babad Dipanagara: An Account of the Outbreak of the Java War (1825—30). Kuala Lumpur: Art Printers for the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society

Carey, Peter. 2016. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (1785—1855) Jilid 1. Jakarta: KPG dan KITLV.

Carey, Peter. 2016. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (1785—1855) Jilid 2. Jakarta: KPG dan KITLV.

Carey, Peter. 2016. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (1785—1855) Jilid 3. Jakarta: KPG dan KITLV.

Carey, Peter. 2017. Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785—1855. Jakarta: Kompas.

Penulis

Christopher Reinhart adalah peneliti bidang sejarah kuno dan sejarah kolonial wilayah Asia Tenggara dan Indonesia. Sejak tahun 2019 menjadi asisten peneliti Prof. Gregor Benton pada School of History, Archaeology, and Religion, Cardiff University.

Christopher Reinhart
Christopher Reinhart 2 Articles
Christopher Reinhart adalah peneliti bidang sejarah kuno dan sejarah kolonial wilayah Asia Tenggara dan Indonesia. Sejak tahun 2019 menjadi asisten peneliti Prof. Gregor Benton pada School of History, Archaeology, and Religion, Cardiff University.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*