Pemburu Tidak Menembaki Seisi Hutan

Pemburu Tidak Menembaki Pemburu Tidak Menembaki Pemburu Tidak Menembaki Pemburu Tidak Menembaki Pemburu Tidak Menembaki

Satu persatu pengunjung beranjak meninggalkan meja makan mereka, membayar ke kasir, dan pergi. Kirab baru saja selesai membereskan meja kedua dari total enam meja yang tersedia di warung sate Padang itu saat temannya sesama pelayan, Riung, datang dari dapur untuk mengangkut gelas-gelas kotor bekas minum para pengunjung. Tangannya menjawil lengan Riung, membisikkan sesuatu, seperti sebuah rahasia atau semacam penemuan penting yang perlu ia bagi kepada temannya.

“Eh, kau tahu tidak, pria yang pergi sekitar sepuluh menit berselang, yang mengenakan jaket abu-abu bergaris kuning di sepanjang lengannya itu, ia sudah berkali-kali makan di sini dan yang agak ganjil: Ia tidak pernah membawa perempuan yang sama dalam setiap kedatangannya.”

“Tampaknya kau punya kesan tertentu mengenai pria itu. Pengunjung-pengunjung lain terlihat sama saja di matamu. Kau tidak pernah membicarakan mereka.”

“Aku manaruh perhatian kepada orang itu sebab ia pengunjung rutin sehingga aku nyaris hapal gelagatnya.”

“Apa bedanya orang itu dengan pelanggan yang lain?”

“Waktu itu ia datang bersama seorang perempuan yang meliuk semampai dan berlekuk aduhai. Lirikan perempuan itu yang membuat darahku tersirap.”

“Sialan, tidak sekali pun kulihat kau melewatkan perempuan menarik!” balas Riung dengan bisik-bisik agak keras.

“Karena perhatianku tersedot oleh perempuan itu, aku lebih sering memperhatikannya, dan aku beberapa kali mondar-mandir dari dapur ke palungan untuk dapat mengamatinya lebih banyak dan leluasa. Semula kukira perempuan itu adalah istrinya. Namun, anggapan itu pasti keliru, sebab dari percakapan lirih mereka serta tindak tanduk pria itu, kuat dugaanku, perempuan itu pastilah pacarnya. Setidaknya perempuan itu adalah selingkuhannya.”

“Berarti perempuan yang bersamanya tadi baru kali ini makan di sini?”

“Perempuan-perempuan yang ia bawa sebelumnya juga begitu. Hanya satu kali kulihat ia datang tidak bersama perempuan, maksudku, perempuan dewasa; ia datang bersama seorang anak perempuan—mungkin tujuh tahunan—yang kutaksir adalah anaknya.”

Percakapan dua orang itu terputus saat bos mereka, pemilik warung sate itu, mendehem dari meja kasir dengan tatapan tertentu dan menolehkan kepalanya seperti mengibaskan sesuatu dari ujung hidungnya kepada serombongan orang yang baru saja masuk. Gerakan kepalanya seakan sebuah ultimatum: Ada pelanggan. Layani mereka!

Mereka berdua tergopoh mendatangi rombongan yang baru saja tiba itu. Kirab, dengan ramah, mempersilahkan tamu-tamu itu duduk, dan Riung mengelap meja yang akan dipakai oleh rombongan itu dan membereskan piring-piring kotor, tusuk sate, dan gelas-gelas bekas pengunjung sebelumnya.

“Untuk ukuran orang seusia dia—kukira usianya empat puluh—ia tentu sudah beristri. Seturut yang kau ceritakan tadi bahwa ia pernah makan di sini dengan membawa anak kecil, tidak dapat tidak, itu pasti anaknya. Atau, jangan-jangan, perempuan semampai itu anaknya juga?” tanya Riung saat mereka di dapur; Riung menyeduh gelas berisi teh dan kopi, Kirab mencuci gelas dan piring-piring kotor.

“Jangan ngawur! Kau tahu tidak, dari yang kudengar sepotong-sepotong melalui percakapan mereka, perempuan aduhai itu senang sekali berjumpa pria itu lagi setelah bertahun-tahun mereka berpisah, dan pria itu tidak kalah gombalnya, katanya ia bertahun-tahun mencari informasi mengenai keberadaan perempuan itu ke mana-mana, dan ia seperti kejatuhan bintang saat perempuan itu benar-benar ada di hadapannya.”

“Yang datang bersamanya tadi perempuan keberapa? Kau sempat menghitungnya?” tanya Riung, masih dengan nada rendah dan mengesankan itu adalah pertanyaan paling penting dalam hidupnya, sementara tangannya dengan cekatan menyeduh gelas terakhir.

“Mungkin yang kedelapan atau kesepuluh. Tapi rayuan pria itu sungguh bajingan; Perempuan-perempuan yang datang bersamanya selalu pergi dengan senyum mengembang dan dengan menggamit erat lengannya, seakan lengan pria itu adalah magnet,” bisik Kirab cepat sambil mengangkat gelas terakhir dari wastafel.

Sesudah rombongan itu pergi dan yang tinggal hanya tiga pengunjung, Kirab sedang mengelap meja rombongan yang baru saja pergi itu, Riung mendekatinya.

“Kau tahu tidak, ada cukup banyak pria yang beruntung di atas dunia ini,” ujarnya dengan suara rendah menirukan sapaan pembuka yang digunakan Kirab: Kau tahu tidak, tanpa tekanan tertentu yang mengasumsikan bahwa ia sedang bertanya dan terkesan agak sedikit menggurui.

“Maksudmu?”

“Aku membayangkan ia punya sejumlah pacar yang menarik. Perempuan yang bersamanya tadi juga menawan. Tentu, perempuan-perempuan yang ia ajak ke sini sebelumnya—seperti perempuan semampai berlekuk menggiurkan yang kau ceritakan tadi—juga tak kalah menariknya.”

“Perkiraanmu tidak sedikit pun meleset. Dan saat ia makan bersama anak perempuan yang kuceritakan itu, kulihat ia mengangkat telepon, tidak lama, dan anak itu menanyakan sesuatu semacam: Apakah bunda meminta untuk segera mengantarku pulang, dan ia mengiyakan—seperti enggan dan merasa terganggu dengan pertanyaan itu—sambil meneruskan makannya. Dugaanku ia sudah tidak serumah dengan istrinya. dan sejumlah perempuan yang ia ajak makan ke sini tentu dalam rangka mencari teman serumah.”

“Bagian mana yang menurutmu agak ganjil dari pria yang terlihat sudah berpisah dengan istrinya dan ia mencoba peruntungannya dengan banyak perempuan?”

“Andai aku yang menjadi orang itu, aku akan memantapkan pilihanku pada seorang perempuan saja semisal si semampai itu.”

“Kukira kau yang ganjil.” tukas Riung. “Dan juga tolol.”

Baca Juga: Gantungan Baju Buya


Sore telah jatuh, langit berwarna karamel, bangku-bangku dan meja-meja warung yang dipelitur memantulkan cahaya dan membuat ruangan terlihat lebih terang. Dari bingkai jendela matahari sore terlihat berenang di antara liukan pucuk-pucuk nyiur yang berderet memagar persawahan di ujung sana. Kirab baru saja selesai merebus daging dan membumbui puluhan tusuk sate untuk dibakar saat pria itu datang dengan perempuan yang ia bawa pada kunjungannya yang terakhir beberapa bulan lalu.

“Sudah lama tidak ke sini, Bang. Ke mana saja selama ini?”

“Saya keluar daerah, Bang. Baru beberapa hari ini sampai di kampung,” balas pria itu sumringah. Si perempuan ia persilakan duduk dengan lagak seorang monsieur tua mempersilakan duduk seorang duchess.

Kirab tahu gelagat, ia bergegas menuju palung, menaruh enam belas tusuk sate di pembakaran dan mengipas-ngipas bara tempurung kelapa yang membara dan bunyi “ces” terdengar riuh saat lemak daging menetesi bara, meletupkan api, dan asap mengepul memenuhi warung disertai aroma daging berbumbu. Dan perempuan itu terlihat menikmati aroma asap bercampur harum daging panggang yang menguar ke seluruh penjuru warung.

“Sate di sini memanggil-manggilku terus. Di Jakarta, tidak kutemukan sate Padang seenak di sini,” ucap si perempuan.

“Kau percaya sate di mana pun di muka bumi ini rasanya sama? Maksudku, sama-sama daging yang dibakar dan kau tentu tidak asing dengan cita rasa itu. Namun, yang membuat berbeda hanyalah aroma bumbu dan rempah, dan yang paling penting: cara meraciknya,” tanggap pria itu.

“Rupanya kau paham banyak soal meracik sate, ya?”

“Tidak. Aku cuma membayangkan daging sate itu—di mana pun rasanya sama—dilumuri bumbu, ditaburi parutan kelapa, dan dibakar dengan teknik tertentu dan terjadilah keajaiban.”

“Maksudmu, bila tanganmu tidak terampil meracik bumbu dan membakarnya dengan tepat, maka sate seenak itu hanyalah daging yang ditusuk?”

“Kau cepat paham rupanya,” pria itu mengulum senyum.

“Aku tahu, kau peracik bumbu yang terampil,” perempuan itu pun tersenyum, menggenggam jemari si pria, memainkan cincin yang melingkar di jari manis pria itu, cincin yang kelihatannya masih baru, dan bentuknya persis sama dengan yang yang melingkari jari manisnya.

“Bagaimanapun, aku berhasil membawamu sejauh ini, bukan?”

Keduanya bertatapan, Kirab datang mengantarkan dua porsi sate ke meja mereka, dan keduanya masih bertatapan, seakan kedatangan Kirab hanya angin lalu.

“Silakan dinikmati satenya, Bang, Kak,” ucap Kirab pelahan, sedikit membungkuk kepada keduanya, menuang air ke dalam gelas di depan kedua tamunya, dan buru-buru berlalu.

Riung datang membawa barang-barang belanjaan dan tatapannya membentur kedua pengunjung itu. Kirab bergegas membantu temannya menurunkan barang-barang. Dan kesempatan itu digunakan Riung untuk berbisik, “Kali ini perempuan yang datang bersamanya masih perempuan yang sama, dan itu hanya berarti: kau terlalu membesar-besarkan cerita.”

“Berarti aku tidak tolol,” balas Kirab cepat. “Eh, kau tahu tidak. Pada akhirnya pemburu paling handal sekalipun akan membidikkan senapannya ke satu sasaran saja. Ia tidak akan menembaki seisi hutan, bukan?”

Baca Juga: Tiga Puluh Juta Lima Ratus Dua Puluh Tiga Ribu Empat Ratus Rupiah

Senja menjelang, kedua tamu itu selesai bersantap, tetapi mereka masih terpaku di tempat duduk masing-masing. Para pengunjung yang lain datang dan pergi, keduanya masih bertahan, bercakap-cakap dengan suara rendah. Riung menatap keduanya dari dapur dengan takjub. Ingatannya melayang kepada istrinya di rumah, kedua anak mereka, dan juga kepada perempuan yang mengontrak rumah di seberang jalan depan rumahnya; matanya yang membara dan rabaannya yang sepanas api ketika ia membukakan pintu untuk Riung di malam-malam sepi saat suaminya berangkat melaut.***