Pentingnya Melihat Siyaq (Konteks) dalam Memahami Ayat

Pentingnya Melihat Siyaq (Konteks) dalam Memahami Ayat
Ilustasi/Dok. https://id.pinterest.com/pin/764274999240063014/?nic_v2=1aqmeefIi

Tak ada yang lebih baik menafsirkan al-Qur’an kecuali al-Qur’an juga. Ini yang disebut dengan Tafsir al-Qur’an bil Quran. Karena ayat-ayat dalam al-Qur’an memang saling menafsirkan satu sama lain (يفسر بعضه بعضا). Maka, sebelum melihat kepada hadis, perkataan sahabat apalagi pendapat para ulama, langkah pertama yang mesti dilakukan dalam memahami sebuah ayat adalah perhatikan siyaq-nya, ayat-ayat sebelum (sawabiq) dan sesudahnya (lawahiq), serta ayat-ayat lain yang senada dan mengandung makna berhampiran. Ini yang oleh para ulama tafsir disebut dengan munasabah (korelasi) dan siyaq (konteks).

Kalau memahami ucapan manusia saja kita mesti melihat dulu konteksnya, apalagi memahami firman Allah سبحانه وتعالى. Melihat siyaq sebuah ayat artinya memahami bagaimana alur pembicaraannya, dalam konteks apa ayat tersebut disampaikan, apa ayat-ayat sebelumnya dan ayat-ayat yang sesudahnya. Dengan demikian, sebuah ayat akan dipahami secara tepat dan utuh, tidak sepotong-sepotong atau sepenggal-sepenggal.

Memotong sebuah ayat lalu menafsirkannya diluar siyaq-nya sama saja dengan mencabut pohon dari akarnya. Wajar kalau pemahaman yang muncul tidak akan utuh seperti kepala yang terputus dari badannya. Ayat kehilangan kekuatan maknanya, keindahan susunannya dan keserasiannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Bahkan ia kehilangan ruhnya.

☆☆☆

Terjadi perdebatan beberapa ulama, khususnya dalam kalangan tarekat, tentang marja’ (kembali) dhamir هو dalam ayat pertama dari surat al-Ikhlas: قل هو الله أحد yang di beberapa daerah sempat menimbulkan polemik. Pemicunya adalah karena ada yang mengatakan bahwa marja’ dhamir هو tersebut adalah Muhammad صلى الله عليه وسلم atau manusia. Rujukannya adalah kitab al-Insan al-Kamil karya Imam al-Jili.

Kita tidak dalam konteks mengajarkan apa yang sebenarnya sudah diketahui luas para ulama. Hanya sebagai manusia kita terkadang lengah dan lupa. Inilah fungsi tadzkirah (mengingatkan) sebagaimana diperintahkan dalam QS. Ad-Dzariyat ayat 55.

Mari kita perhatikan siyaq ayat tersebut. Apakah ada kena-mengena dengan sosok Muhammad atau manusia secara umum? Ayat tersebut jelas berbicara tentang keesaan Allah.

Baca Juga: Tafsir-tafsir Al-Qur’an Karya Ulama Minang

Karena itulah, para ulama menjelaskan bahwa dhamir هو dalam ayat tersebut adalah dhamir sya`n (ضمير الشأن). Dhamir sya`n digunakan untuk menegaskan pentingnya topik yang akan disampaikan setelah itu.

Kemungkinan lainnya, dhamir هو kembali kepada Allah سبحانه وتعالى. Karena memang asbabun nuzul surat al-Ikhlas ini adalah ucapan orang-orang musyrik kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

انسب لنا ربك

“Sampaikan pada kami tentang nasab Tuhanmu”.

Maka turunlah jawaban, “Katakanlah Dia (Allah) itu Ahad.”

Bahkan kalau pun kita akan merujuk kepada pendapat kalangan tasawuf, mereka mengatakan bahwa lafaz هو adalah salah satu nama dari nama-nama Allah. Ini dijelaskan oleh Imam ar-Razi dalam tafsirnya. Jadi, dhamir هو itu tetap saja merujuk kepada Allah, karena memang siyaq atau konteks ayatnya berbicara tentang Allah, bukan tentang Rasulullah, apalagi tentang manusia.

☆☆☆

Pemahaman siyaq ini kita perlukan juga untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat yang tak pernah selesai untuk diperdebatkan. Sebutlah ayat-ayat semisal:

ثم استوى على العرش

“Kemudian Dia istiwa` di atas ‘arsy…”

Atau ayat:

يد الله فوق أيديهم

“Tangan Allah di atas tangan mereka…”

Dan ayat-ayat semisalnya.

Kesampingkan untuk sementara waktu berbagai riwayat dan pendapat yang sangat beragam tentang istiwa`, yad, dan sebagainya, lalu coba pahami ayat-ayat ini dalam siyaq-nya, alur pembicaraannya, sawabiq dan lawahiq-nya. Apakah ayat tersebut secara keseluruhan (utuh) sedang berbicara tentang Allah memiliki sifat bernama istiwa`, yad, ‘ain dan sebagainya, ataukah ia sedang berbicara tentang kemahakuasaan Allah, bantuan dan pertolongan Allah, perhatian dan inayah dari Allah.[]

والله تعالى أعلم وأحكم

Yendri Junaidi
Yendri Junaidi 38 Articles
Alumni Perguruan Thawalib Padangpanjang dan Al Azhar University, Cairo - Egypt

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*