Perbedaan Ijazah dan Sanad dalam Ilmu Dirayah

Perbedaan Ijazah dan Sanad dalam Ilmu Dirayah
Foto Dok Penulis

Ijazah dan Sanad

Sanad tanpa mulazamah itu fungsinya cuma untuk keberkahan, bukan fungsi ilmiah. Paling jika ada dhabt mungkin bisa berfungsi di ilmu riwayah, tapi lagi-lagi dalam ilmu dirayah seperti fikih, ushul fikih, ilmu kalam, mustalah hadis, dll maka sanad dan ijazah saja tidak cukup. Ilmu dirayah itu yang penting bukan ijazah yang bisa ditulis dalam 2 menit, tapi mulazamah dalam waktu tertentu sampai guru mengatakan, kamu sudah bisa jalan sendiri dan memberi tahu orang lain bahwa kamu sudah sesuai standar.

Sebagaimana Nabi mengatakan bahwa Sayyidina Ali itu pintu ilmu, Sayyidina Zaid itu yang paling bagus ilmu faraidhnya, Sayyidina Muaz yang paling paham halal dan haram, dst. Mereka itulah ashab dirayah. Mereka yang berhak berfatwa dalam bidang mereka masing-masing. Maka dari itu ulama membedakan standar sahabat dalam ilmu hadis yang merupakan ilmu riwayat dan ilmu ushul fikih yang merupakan ilmu dirayah.

Dalam ilmu riwayat ulama mengatakan sahabat yang jumpa dengan Nabi walau cuma sekali saja, hadisnya diterima selama dia dhabit, ini mirip sanad berkah, cuma memastikan kesinambungan, bisa diterima riwayatnya dengan syarat dhabit.

Baca Juga: Hakikat Ijazah dan Sanad Bukan tentang Secarik Kertas, Tapi Warisan Ilmu Kenabian

Adapun dalam ilmu ushul fikih standar ulama naik. Sahabat itu yang lama mulazamah dengan Nabi, karena disini yang ditekankan dirayah dan pemahaman sahabat. Bukan sekadar nukilan, karena berkaitan dengan fatwa dan penafsiran al-Qur’an dan Sunnah. Butuh mulazamah dan pengakuan agar umat merasa aman dalam mengambil ilmu dari mereka. Makanya jika ada yang petantang-petenteng dengan sanad ilmu dirayah, maka orang itu sering jadi bahan tertawaan oleh thalibul ilm, karena bisa dipastikan orang itu gak paham apa fungsi sanad dalam ilmu dirayah.

Thalib dirayah yang tahu fungsi sanad memang senang jika memiliki sanad dari banyak ulama, tapi mereka juga paham bahwa sanad disini bukan sanad yang mengatakan bahwa “kalian paham ilmu itu”. Di sini sanad keberkahan. Mereka akan malu “gagah-gagahan” dengan sanad itu agar diakui keilmuan. Mereka tahu bahwa sanad dalam ilmu dirayah bukan itu fungsinya. Mereka yang memahami sanad dalam ilmu dirayah fungsinya seperti pengakuan keilmuan akan dianggap akalnya lemah oleh urf qaum, karena hal yang paling standar aja dia tidak paham. Jika begitu keadannya berarti dia membawa sanad dan ijazah tanpa tahu esensinya, itu dinamakan hatibul lail.

Jangan heran jika beberapa ulama seperti Syadid dalam memberi ijazah karena banyaknya orang-orang seperti itu di zaman ini. Dan perlu diketahui orang berilmu itu tidak bisa ditakut-takutin dengan sanad. Karena yang lebih penting dari mereka adalah apakah kamu memahami sebuah ilmu sama dengan pemahaman gurumu? Dan gurumu itu memahami ilmu sebagaimana gurumu? Dan begitu seterusnya sampai ke Rasullullah. Itulah sanad terpenting bagi ahli dirayah, bahkan jika tanpa ijazah tertulis, karena semua orang tahu bahwa fulan bermulazamah lama dengan syeikh fulan. Mereka inilah thalibul ilm bukan thalibus sanad.

Baca Juga: Ijazah dan Surat Ijazah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah

Kadang ini bisa dirasakan ahlul fan bahkan hanya dengan mengajak diskusi tanpa perlu mengeluarkan ijazah atau menceritakan siapa gurunya. Adapun jika ada tulisan dan ijazah itu fungsinya cuma penguat dan untuk keberkahan ilmu. Dan terpenting ikatan batin antara guru dan murid. Jadi fungsinya bukan pengakuan keilmuan. Berhentilah menipu awam dengan menyalahgunakan fungsi ijazah dan sanad dalam ilmu dirayah. Itu akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak.[]

Fauzan Inzaghi
Mahasiswa Indonesia di Suriah