Perempuan Ulama dalam Manuskrip Nusantara

Perempuan Ulama dalam Manuskrip Nusantara
Ilustrasi Dok. Istimewa

Dalam bentangan sejarah peradaban Islam di Nusantara, para perempuan ulama (نساء عالمات) banyak yang memiliki karya tertulis, peran, kontribusi dan pengaruh yang sangat besar.

Kita tentu mengenal Sultanah Shafiyatuddin Tajul Alam Berdaulat (w. 1675), seorang penguasa dari Aceh, yang memerintahkan dan memprakarsai ditulisnya kitab fikih madzhab Syafi’i terlengkap pertama di Nusantara yang ditulis dalam bahasa Jawi, yaitu “Shirat al-Mustaqim” oleh Syaikh Nuruddin al-Raniri (w. 1658).

Sultanah Shafiyatuddin juga yang memandatkan penulisan kitab “Turjuman al-Mustafid” sebagai karya tafsir al-Qur’an terlengkap pertama di Nusantara dalam bahasa Jawi, yang dikerjakan oleh Syaikh Abdul Rauf Singkel (w. 1693).

Baca Juga: Manuskrip Dzikir Syathariah Syekh Abdul Syakur Banten dan Jaringan Ulama Tatar Sunda-Mindanao (Filipina Selatan) Abad 18 M

Syaikh Manshur al-Azhari, seorang ulama al-Azhar dari Kairo, Mesir yang hidup di abad ke-17 M pernah mengunjungi Aceh dan Banten, serta berjumpa dengan Sultanah Shafiyatuddin. Dalam catatan perjalanan (rihlah)nya, Syaikh Manshur menggambarkan Sultanah Shafiyatuddin sebagai sosok penguasa besar di wilayah kepulauan yang sangat mencintai ilmu pengetahuan.

Hampir dua abad setelahnya, terdapat sosok Syaikhah Fathimah bt. Abdul Shamad Palembang, seorang perempuan ulama ahli hadits yang mengajar di Makkah pada paruh pertama abad ke-19 M. Di antara sejumlah muridnya adalah Syaikh Nawawi Banten (w. 1897) dan ulama-ulama besar yang mengajar di Makkah pada kurun masa akhir abad ke-19 M.

Di abad ke-20 M, ada sosok-sosok perempuan ulama Nusantara lainnya yang memberi inspirasi pada dunia Islam. Di antaranya adalah Ibu Rahmah al-Yunusiah dari Minangkabau, yang mendirikan dan mengampu Madrasah Thawalib Banat di Sumatra Barat. Institusi ini menginspirasi Syaikh Abdurrahman Taj, Grand Syaikh Azhar pada tahun 50-an, sehingga beliau menginsruksikan pendirian Kampus Perempuan (كلية البنات) Universitas Al-Azhar Mesir.

Di kurun masa yang bersamaan, ada juga Ibu Nyai Khairiyyah bt. Hasyim Asy’ari, yang menginisiasi Madrasah al-Banat di Makkah sebagai institusi pendidikan perempuan di Kota Suci itu. Beliau dibersamai oleh Ibu Cek Abdullah Palembang, istri dari Syaikh Husain Abdul Ghani Palembang Makkah, yang di kemudian hari mendirikan “Madrasah al-Fatat al-Ahliyyah” (مدرسة الفتاة الأهلية) sebagai sekolah perempuan swasta pertama di Saudi Arabia.

Baca Juga: Para Perempuan di Belakang Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Selain nama-nama di atas, masih terdapat sejumlah nama perempuan ulama Nusantara lainnya lagi.

Nah, rekans, malam ini (09/10) kita ngopi sambil ngobrol seputar “Perempuan Ulama dalam Manuskrip Nusantara” bersama Neswa.id, yang diampu oleh Bu Nyai Maria Fauzi

Ahmad Ginanjar Sya'ban
Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta