Persatuan Tarbiyah, Besar dengan Saling Membuka Diri

Persatuan Tarbiyah, Besar dengan Saling Membuka Diri

Persatuan Tarbiyah Besar dengan Membuka Diri

Sebelumnya baca Juga: Persatuan Tarbiyah yang Jauh dari Umatnya


Tulisan kali ini saya akan memulainya dengan ulasan survei Alvara tentang Potensi Radikalisme Di Kalangan Profesional Indonesia tapi hanya pada bagian ormas yang paling dikenal saja.

Laporan hasil survei Alvara per Oktober 2017 itu, bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Apalagi hasil survei itu menempatkan NU, Muhammadiyah dan FPI sebagai organisasi paling dikenal masyarakat Indonesia, terutama kalangan muda.

Bagi saya, hasil survei Alvara sangatlah mengejutkan, sekaligus menyedihkan. Kenapa? Karena Persatuan Tarbiyah tak dikenal masyarakat sama sekali. Bahkan dari beberapa komentar ada pertanyaan Persatuan Tarbiyah itu apa?

Kenapa masyarakat hanya mengenal Persatuan Tarbiyah dalam sejarah? Karena Persatuan Tarbiyah pernah berbuat untuk umat dan bangsa Indonesia pada masa lalu. 

Kenapa Persatuan Tarbiyah saat ini tidak dikenali? Apakah karena tidak ada yang berbuat untuk umat dan bangsa ini? Bukan. Bukan tidak ada ulama, generasi maupun kader Persatuan Tarbiyah yang berbuat untuk umat dan bangsa Indonesia. Banyak sekali mereka yang berbuat, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Di pemerintahan legislatif, eksekutif maupun yudikatif misalnya, ada banyak, ratusan bahkan ribuan ulama/kader Persatuan Tarbiyah, saya bahkan mengenal mereka dengan sangat baik. Hanya saja mereka berbuat atas nama pribadi dan kelompok. Bukan atas nama organisasi Persatuan Tarbiyah atau atas dasar sebagai bagian dari Persatuan Tarbiyah. Mereka berbuat demi dan untuk pribadi dan kelompok semata. Kalaupun ada agenda atas nama organisasi Persatuan Tarbiyah atau atas dasar semangat Persatuan Tarbiyah, itu hanya terjadi pada masa pemilihan, presiden, gubernur, bupati/walikota, pemilihan wakil rakyat dan rektor.

Itulah sebabnya kenapa anak-anak muda (usia 26-35, berdasar survei Alvara), tidak mengenal Persatuan Tarbiyah sebagai organisasi Islam. Mungkin ada yang akan menjawab karena Alvara tidak menjadikan Sumbar sebagai bagian dari wilayah survei. hehe.. Persatuan Tarbiyah organisasi berbasis nasional bro.

Intinya dari survei itu, secara nasional Persatuan Tarbiyah tidak dikenal masyarakat. Penyebabnya tidak lain adalah karena sumber daya yang berpotensi tidak diatur dengan baik oleh Persatuan Tarbiyah. Organisasi Persatuan Tarbiyah lemah dalam hal pengelolaan ulama, kader, lembaga dan aset.

Selain itu, person yang pernah dekat dengan surau, madrasah, bahkan pernah menjadi bagian dari keluarga besar Persatuan Tarbiyah, juga tidak punya inisiatif untuk membesarkan Persatuan Tarbiyah dan merasa bukan bagian dari Persatuan Tarbiyah ketika tidak ada namanya di struktural kepengurusan. Sehingga alasan yang paling sering mengemuka dari orang-orang ini adalah “saya bukan pengurus” atau “itu pekerjaan pengurus” dll.

Tetapi ketika diangkat jadi pengurus, tetap saja tidak akan ada perubahan. Jawaban akan mengemuka, paling ya, “itu bukan bagian tugas saya” atau itu tugas bagian si anu…. dst. Sementara untuk person yang berpolitik praktis atau akademis, Persatuan Tarbiyah hanya perlu untuk meraih dukungan kekuasaan. setelah itu, kita tidak akan mendengar lagi apa yang dilakukannya untuk Persatuan Tarbiyah.

Yang terjadi selama ini, dari pengurus tak ada program, dari kadernya juga tidak ada inisiatif. Jadilah Persatuan Tarbiyah ada tapi seperti tak ada. Kehadirannya secara organisasi dan gerakan sosial Islam tak dirasakan oleh umat dan bangsa Indonesia. lho kan ada banyak madrasah Tarbiyah? Iya, tapi komunikasi Buya di madrasah lama terputus dengan organisasi. Jadilah madrasah, surau dan masjid berjalan sendiri-sendiri..

Madrasah hanya didatangi oleh pengurus ketika ada calon gubernur, bupati, walikota yang memintanya. Ke depan hal ini tidak diharapkan lagi untuk terjadi. Pengurus Persatuan Tarbiyah perlu menjemput kembali.

Lalu apa yang perlu dilakukan generasi baru Persatuan Tarbiyah untuk membesarkan Persatuan Tarbiyah? Generasi baru Persatuan Tarbiyah harus saling membuka diri pada setiap orang yang mempunyai gagasan yang sama dengan Persatuan Tarbiyah, tanpa embel-embel apa pun. Generasi baru Persatuan Tarbiyah perlu sering bertemu membicarakan masa depan organisasi.

Kini jantung Persatuan Tarbiyah mulai berdetak, setiap kita yang merasa bagian dari Persatuan Tarbiyah, baik kultural maupun sosial, perlu mengambil bagian untuk kehidupan Persatuan Tarbiyah yang baru tanpa menunggu berkuasa..

Eksistensi dan semangat Persatuan Tarbiyah perlu ada di setiap lini kehidupan bangsa Indonesia, terutama dalam kehidupan beragama saat ini. Inilah bagian yang perlu dipikirkan oleh setiap insan Persatuan Tarbiyah sembari menunggu dikukuhkannya pengurus daerah oleh pengurus besar Persatuan Tarbiyah.[] Semoga Allah memudahkannya!

wallahu a’lam

Ciputat, 06/11/2017

Muhammad Yusuf el-Badri
Muhammad Yusuf el-Badri 16 Articles
Alumni MTI Pasia, IV Angkek, Kab Agam dan Alumni Bahasa dan Sastra Arab IAIN Imam Bonjol Padang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*