Persatuan Tarbiyah; Krisis Ulama dan Keyakinan

Persatuan Tarbiyah; Krisis Ulama dan Keyakinan
Foto 4 Mei 201, rombongan jam'ah Tarbiyah Islamiyah dari MTI Malalo yang dipimpin oleh Buya Khairuddin Ziarah ke Maqam Syekh Sulaiman Arrasuli di Halaman MTI Canduang. Foto Dok.http://www.justic.or.id/2011/05/58.html

Krisis Ulama Krisis Ulama

Baca Sebelumnya: Persatuan Tarbiyah Ada atau Tidak?

Indikator kelima yang menjadi standar ukur mundurnya suatu pemahaman itu organisasi keagamaan adalah kurangnya otoritas yang dimiliki oleh organisasi/lembaga dan menurunnya keyakinan terhadap pemahaman keagamaan yang dimiliki.

Bila kita melihat organisasi Persatuan Tarbiyah dari sisi ini, maka semakin jelas bahwa, barangkali Persatuan Tarbiyah kita, bukan hanya telah mundur selama bertahun-tahun, tapi mati sama sekali. kenapa? Organisasi Persatuan Tarbiyah merupakan organisasi yang beriktikad ahlussunnah waljamaah (asy’ari) dan bermazhab syafii.

Pertanyaannya siapa yang -saat ini- punya kualifikasi sebagai ahli dalam hal teologi Asy’ari dalam organisasi? Dan siapa pula yang ahli dalam mazhab Syafi’i yang berada dalam struktur organisasi?

Baik dari pusat maupun daerah, nama-nama yang ada dalam struktur organisasi, kita tidak mengenalnya sama sekali sebagai ahli, kenapa? Karena tidak ada karyanya. Saya kira, seseorang mesti mempunyai karya dalam bentuk pemikiran maupun tulisan, sehingga ia layak disebut sebagai ahli. Tentu saja bukan karya sembarangan tetapi karya yang memang teruji. Ulama Persatuan Tarbiyah terdahulu sudah memberi contoh.

Demikian pula halnya dengan wilayah perjuangan Persatuan Tarbiyah. Siapa yang ahli dalam pendidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap lembaga pendidikan Persatuan Tarbiyah yang ada?

Melihat perguruan tinggi yang berada di bawah Persatuan Tarbiyah, kondisinya tidaklah menjadi perguruan tinggi pilihan (untuk tidak menyebut pelarian). Sebut saja misalnya STIT Ahlussunnah Bukittinggi, pada urutan ke berapa di Indonesia saat ini? YASTIS, apa ada matakuliah Ketarbiyahan di sana? Sekali lagi, lembaga pendidikan tidak terurus berdasarkan tujuan organisasi.

Pada saat krisis keulamaan, Persatuan Tarbiyah sejak lama, bahkan hingga kini, juga krisis keyakinan. Jamaah Persatuan Tarbiyah terlalu lama kepayahan mencari sinar kebenaran, sementara orang-orang keluaran surau dan madrasah, bingung dengan keyakinannya sendiri akibat kritikan dan sikap mempertanyakan kesahihan keyakinannya.

Bahkan para pengurus organisasi Persatuan Tarbiyah, banyak yang tidak mampu menjawab keresahan jamaahnya sendiri. Lalu mereka diam pura-pura tidak tahu. Mereka hanya menikmati SK kepengurusan sebagai konsekuensi punya hubungan dekat dengan pengurus inti organisasi. Jadilah organisasi umat ini, kebanyakan ‘politisi’ dan ‘pedagang’, dan sedikit ulama, ahli dan kader.

Padahal banyak ulama dan kader Persatuan Tarbiyah yang punya otoritas keilmuan di berbagai bidang, tetapi ruang yang mestinya mereka tempati diisi oleh orang-orang yang mementing dirinya sendiri. Mereka sama sekali tidak mengukur bayang-bayang.

Baca Juga: Mayoritas Adalah Jama’ah Persatuan Tarbiyah, Tunggu Dulu!

Anehnya, mereka ini, sudahlah tak punya otoritas keilmuan bidang keilmuan, tak pandai membaca kitab, tidak mengerti teologi Asy’ari dan mazhab, ada yang tak lurus syahadatain, bangga pula menjadi pengurus Persatuan Tarbiyah. Menurut saya, orang seperti ini sungguh sakit.

Semoga tahun baru hijrah ini menjawab semuanya. Kebenaran akan segera datang, dan kebatilan lenyap tak bersisa.

Pencitraan dan kepura-puraan di tengah zaman keterbukaan tak lagi berlaku kawan. Yang berisi akan naik ke rangkiangan dan yang hampa akan terbang dibawa angin.

Wallahu a’lam
Ciputat, 17/10/2017

Muhammad Yusuf El-Badri

Muhammad Yusuf el-Badri
Muhammad Yusuf el-Badri 16 Articles
Alumni MTI Pasia, IV Angkek, Kab Agam dan Alumni Bahasa dan Sastra Arab IAIN Imam Bonjol Padang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*