PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah)

Seorang rekan dari Jawa menyampaikan kisahnya pada kami. Ketika ia bertugas pada salah satu daerah di Provinsi Riau, beliau melihat cara ibadah Aswaja yang sangat mirip dengan apa yang dilakukan di tempat beliau berasal. Ia bertanya dengan salah satu tokoh di sana, apakah di sini warganya ikut NU? Sontak sang tokoh berkata, bahwa mereka adalah orang – orang Tarbiyah (Maksudnya Persatuan Tarbiyah Islamiyah).

Di sisi lain ketika saya mengisi salah satu materi tentang perkembangan Islam di Bengkulu pada salah satu diskusi. Seorang mahasiswa bertanya dan menyimpulkan bahwa Gerakan Tarbiyah (yang berafiliasi dengan ikhwanul Muslimin) ternyata telah lama berada di Bengkulu. Sambil tersenyum saya sampaikan bahwa yang dimaksud adalah PERTI, Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebuah gerakan yang lahir di Bukittinggi oleh para ulama.

Baca Juga: pasang-Surut PERTI di Pusaran Situasi Sosial-Politik

Demikian banyak yang salah menduga. Melihat amalan PERTI orang dari Jawa menganggap dia NU, orang dari Lombok menganggap ia Nahdlatul Wathan, orang Medan mungkin menganggap ia Al-Washliyah. Walaupun berbeda namun organisasi itu memiliki kesamaan, dan peneliti memasukkannya sebagai organisasi kaum tradisionalis.

Sepak terjang PERTI, pemikiran dan pergolakannya sebenarnya sangat menarik untuk dikaji. Alaidin Koto meneliti tentang sepak terjang PERTI dari masa ia menjadi partai politik pada tahun 1945 hingga 1970. Demikian pula publikasi yang diterbitkan oleh PERTI sendiri seperti yang ditulis oleh Sjarkawi Machudum maupun Prof Hasan Zaini dan rekan-rekan. PERTI berangkat dari organisasi keagamaan yang didirikan di Bukittinggi oleh para ulama seperti Syekh Sulaiman Arrasuli , Syekh Abbas Padang Laweh, Syekh Muhammad Jamil Jaho dan para syaikh Surau lainnya. Tujuannya untuk membentengi paham Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dari paham- paham yang dianggap menyimpang (Terkenal dengan polemik kaum mudo dan tuo). PERTI kemudian melebarkan sayapnya hingga ke Bengkulu.

Seiring dengan perkembangan zaman, dengan dikeluarkannya maklumat nomor 10 3 November 1945 yang memberikan kesempatan seluas-luasmya pada semua organisasi untuk membentuk partai politik, maka PERTI pun menapaki perjuangan melalui politik berdasarkan pada kongres ke IV PERTI di Bukit Tinggi. PERTI adalah salah satu (jika tidak ingin dibilang satu – satunya) partai yang bermula dari organisasi lokal yang mencoba “go nasional”. Kemunculan Buya Sirajudin Abbas bukan hanya sebagai ulama yang banyak menulis buku tentang Aswaja dan Fikih Syafi’i, namun juga politisi yang piawai. Walaupun bercita rasa lokal, dalam PEMILU 1955 PERTI mendapatkan 4 kursi di DPR dan 7 Kursi di Konstituante dan menempati juru kunci 10 besar perolehan suara. Prestasi ini jauh di atas MURBA yang hanya mendapatakan 2 kursi.

Yang perlu dicatat, PERTI adalah petarung tunggal, ia tidak bergabung dengan masjumi dari awal. Masyumi pun kemudian pecah dengan keluarnya PSII dan NU.

Kutipan koran di atas adalah berita tentang konferensi ketiga cabang partai PERTI Sumatera Selatan yang diselenggarakan di Bengkulu. Dalam sambutannya, Sirajudin Abbas dengan tegas menyatakan mengambil langkah politik berbeda dengan Masyumi. PERTI menerima dan mendukung kabinet Ali 1 (Ali sastrroamijoyo) dimana Masyumi mengambil langkah oposisi.

Baca Juga: Ahlus Sunnah wal Jamaah Benteng Akidah Islam (Penguatan Paham Aswaja Oleh K.H Muhammad Idrus Ramli, Pondok Pesantren Ashabul Yamin, Agam)

sumber foto : Koran Nieuwsgier 1 Maret 1954

Hardiansyah
About Hardiansyah 1 Article
Direktur Sekolah Langit Biru Bengkulu, Senior KAHMI Bengkulu, Aktivis Muda Muhammadiyah yang fokus menulis Sejarah. Ayahnya seorang Alumni sekolah Perti

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*