Peserta LKS-TI 2021 MTI Tarsusan Bekali Materi Keminangkabauan

Peserta LKS-TI 2021 MTI Tarsusan Bekali Materi Keminangkabauan
Foto Dokumen Penulis

Tarsusan Bekali Materi Keminangkabauan Tarsusan Bekali Materi Keminangkabauan

Dalam kegiataan Latihan Kepemimpinan Santri Tarbiyah Islamiyah (LKSTI) yang diadakan di MTI Tarusan Kamang ada beberapa materi yang disampaikan, salah satu materinya yaitu keminangkabauan, yang disampaikan oleh pemateri Uda Rahma Nanda, Kamis (28/01).

Sebelum pemateri menjelaskan apa yang dikatakan tentang Minangkabau, beliau menjelaskan tentang bahasa Minangkabau sendiri yaitu tentang, intonasi dari bahasa Minang. Menurut Uda Rahma Nanda, dengan adanya intonasi ini dapat menggambarkan betapa banyaknya langgam bahasa dan suku di Minangkabau.

Beranjak ke pengertian Minangkabau, Uda Nanda menyampaikan, Minangkabau berasal dari dua kata “Minang” dan “Kerbau”,  berasal dari mengalihan kata dari “Menang” dan “Kerbau”, nah kita merujuk kepada tambo, dijelaskan bahwa nenek moyang kita berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Ini terjadi ketika kerajaan Minang Pagaruyuang   yang dipimpin oleh Adi Warman.

Baca Juga: MTI Yati Kamang Adakan Latihan Kepemimpinan

Islam masuk ke Minanngkabau pada abad ke 7 melalui  2 jalur, perdagangan, dan melalui perkawinan. Tokoh tokoh Minangkabau di antaranya, Buya Hamka, Tuanku Imam Bonjol, Muhammad Yamin, selanjutnya pembagian adat. Adat nan sabana adat, adat nan diadatkan, adat nan teradat dan adat istiadat.

Adat nan sabana adat, yaitu adat yang berasal dari tuhan, benar benar tidak dapat diganggu gugat, hakikatnya adat ini lazim kehendak tuhan ada pepatah yang mengatakan, sebagai adat yang tidak lakang jo paneh dan tidak lapuak dek hujan. Adat nan diadadatkan

Sementara itu, peserta sangat antusias dengan materi yang disampaikan.

Banyak peserta yang bertanya, di antara mereka tentang peran anak siak dalam Minangkabau. anak siak (baca: santri) beliau termasuk orang yang pandai atau bahkan anak siak ini cenderung paham tentang agama, karena adat tidak akan terpisah dengan sarak,  bahkan bisa dikatakan perkembangan anak-anak suku Minangkabau mengabiskan hidupnya di surau.

“Beruntunglah mereka yang bersekolah di pesantren karena sudah memahami ilmu ilmu agama”, ujarnya.

Uda Rahma Nanda menambahkan, adat Minangkabau merupakan adat yang masih kental karena dalam semua kegiatan dan ilmu adat Minang itu tidak ada yang tetulis, namun diajarkan langsung secara turun temurun sehingga sanad ilmu dari guru kepada para murid langsung.

Baca Juga: Pembukaan LKS-TI 2021 di MTI Tarusan Kamang

Ilmu-ilmu yang diajarkan guru itu lengkap, seperti ilmu berbicara, pidato adat dan pasambahan, ilmu bela diri silek tuo dan juga ilmu agama. Membaca dan memahami al-Qur’an, semua kegiatan itu dahulunya diajarkan di surau. “Tak heran dahulu orang Minangkabau tidak pernah membolehkan anak bujang untuk tidur di rumah sehingga semua anak laki-laki Minangkabau tidur di surau sambil mempelajari ilmu adat, agama, dan bela diri,” ungkapnya.[]

Quratul Aini dan Muhammad Budiman
About Quratul Aini dan Muhammad Budiman 1 Article
Quratul Aini, Alumni MTI Bayur. Seorang Mahasiswi UIN Imam Bonjol Padang. Sekarang aktif di Ikatan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (IMTI) Padang. Muhammad Budiman, Alumni MTI Tarusan. Seorang Mahasiswa Universitas Negri Padang (UNP)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*