Polemik antara KH. Hasyim Asy’ari Jombang dan Syekh Ahmad Khatib Minang

Polemik antara KH. Hasyim Asy’ari Jombang dan Syekh Ahmad Khatib Minang
Ilustrasi/Dok.https://id.pinterest.com/pin/364791638551570851/

“Kaff al-‘Awâm” (KH. Hasyim Asy’ari Jombang) vs “Tanbîh al-Anâm” (Syekh Ahmad Khatib Minang); Merekam Perdebatan Dua Mahaguru Ulama Nusantara Tentang Sarekat Islam (SI)

Di samping kanan adalah gambar halaman pertama dari manuskrip “Kaff al-‘Awâm ‘an al-Haudh fî Syirkah al-Islâm” karangan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari Jombang (w. 1947). Adapun yang di samping kiri adalah gambar halaman pertama dari kitab “Tanbîh al-Anâm fî al-Radd ‘alâ Risâlah Kaff al-‘Awâm” karangan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916).

Dua risalah di atas ditulis dalam bahasa Arab. Keduanya merekam jejak dialektika dan perdebatan pemikiran antar dua mahaguru ulama Nusantara, yaitu KH. Hasyim Asy’ari, yang merupakan pendiri organisasi NU (1926), dengan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, yang merupakan pengilham organisasi Muhammadiyah (1912).

Risalah pertama, yaitu Kaff al-‘Awâm, ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1912. Sementara risalah yang kedua, yaitu Tanbîh al-Anâm, ditulis oleh Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dua tahun kemudian (1332 H/ 1914 M). Kaff al-‘Awâm belum sempat dicetak, masih berupa manuskrip. Sementara “Tanbîh al-Anâm” sempat dicetak di Kairo, oleh penerbit Dâr al-Kutub al-‘Arabiyyah al-Kubrâ di tahun yang sama (1332 H/ 1914 M).

Baca Juga: Khotbah Terakhir Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari Mei 1947 M Rajab1366 H

Saya mendapatkan salinan risalah pertama (Kaff al-‘Awâm) dari sahabat saya, al-Fadhil Duktur Zacky Umam. Beliau mendapatkan salinan tersebut dari Dr. Yahya Amoud, guru besar sejarah dari Riyadh, KSA, pada tahun 2015. Sementara, saya menjumpai risalah kedua (Tanbîh al-Anâm) dari perpustakaan pribadi Ajengan KH. Syihabuddin, pengasuh pesantren as-Salafiyah II, Babakan Tipar, Sukabumi.

Antara KH. Hasyim Asy’ari dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, kedua mahaguru ulama Nusantara itu berdebat dan bertukar pikiran perihal duduk perkara organisasi Sarekat Islam (SI), yang didirikan oleh Hadji Samanhoedi dan HOS Tjokroaminoto pada tahun 1905-1912.

KH. Hasyim Asy’ari mengungkapkan pemikiran, sikap, sekaligus kekurang setujuannya dengan keberadaan Sarekat Islam melalui karyanya yang berjudul “Kaff al-‘Awâm”. Beliau menilai jika Sarekat Islam justru berpotensi merugikan umat Muslim dan memecah belah kekuatan mereka. KH. Hasyim Asy’ari juga mengatakan jika dalam pengelolaan keuangan, SI belum bisa dipercaya sepenuhnya. Bahkan, secara mengejutkan, beliau juga menyebut SI sebagai sesuatu yang “heretik” (al-bid’ah al-muhdatsah).

Sikap dan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tersebut kemudian ditanggapi dan disanggah oleh Syekh Ahmad Khatib, yang lebih cenderung merestui dan menyetujui jejak langkah organisasi Sarekat Islam tersebut. Atas hal ini, Syekh Ahmad Khatib pun menulis risalah “Tanbîh al-Anâm” sebagai sanggahan (fî al-Radd) atas Risâlah Kaff al-‘Awâm.

Berbeda dengan KH. Hasyim Asy’ari, Syekh Ahmad Khatib justru berpandangan kalau SI adalah titik tolak kebangkitan umat Islam di Nusantara. SI didirikan untuk menegakkan prinsip-prinsip Islami, memajukan perdagangan umat Islam, mensupport pertanian, dan membantu meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. SI, dalam pandangan Syekh Ahmad Khatib, juga bisa meningkatkan dunia pendidikan umat Islam di Nusantara dan mencerahkan para putra-putri Tanah Air Boemi Poetra.

Fakta pergulatan pemikiran dan perdebatan ini menarik. Pasalnya, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau termasuk senior KH. Hasyim Asy’ari  ketika belajar di Makkah dulu. Keduanya dipertemukan dalam pertalian jalur beberapa guru, di antaranya adalah Syekh Ahmad Zaini Dahlan (mufti madzhab Syafi’i di Makkah pada zamannya), Syekh Abu Bakar Muhammad Syatho (Sayyid Bakri), Syekh ‘Abd al-Ghanî Bîmâ, dan lain-lain.

Mengetahui sanggahan yang ditulis oleh “kakak guru”nya, KH. Hasyim Asy’ari pun meninjau ulang sikap dan pemikirannya atas Sarekat Islam, yang pada akhirnya berubah menjadi mendukungnya. KH. Hasyim Asy’ari kemudian mengirimkan risalah balasan selanjutnya kepada Syekh Ahmad Khatib, menyatakan peninjauan ulang pemikirannya tersebut.

Satu hal yang menarik, bahwa meski saling berdebat, namun keduanya tetap menjaga adab dan akhlak “munazharah”, serta tetap saling menunjukkan rasa hormat.[]

Bandung, Desember 2016

Ahmad Ginanjar Sya'ban
Ahmad Ginanjar Sya'ban 19 Articles
Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*