Saat ini situs judi slot online deposit dana adalah salah satu permainan yang sangat di minati di Indonesia.

Pertama sekali bila anda ingin merasakan mudahkan memperoleh uang dari nwmedicaltraininggroup tentus aja anda sangat di sarankan untuk bermain pada permainan kakek ya gengs.

Prioritas Utama dalam Mendidik Anak; Menghafal Quran atau Penguasaan Bahasa? (Pandangan Pembaharuan Ibnu Khaldun)

Prioritas Utama dalam Mendidik Anak; Menghafal Quran atau Penguasaan Bahasa (Pandangan Pembaharuan Ibnu Khaldun)
Ilustrasi Dok. (@Esma63712066)

Di setiap generasi selalu ada alim dan cendekiawan muslim yang memiliki pandangan-pandangan brilian, cerdas, dan melampaui zamannya, meski pandangan tersebut berbeda dengan pandangan kebanyakan ulama dan cendekiawan muslim lain di masa itu. Pandangan-pandangan brilian itu biasanya muncul dari tokoh-tokoh cendekiawan muslim yang revolusioner dan berani. Karena, ketika pandangan yang dilontarkannya berbeda dengan pandangan mayoritas ulama dan ilmuwan lainnya, ia mesti siap untuk diserang dan dituduh macam-macam oleh orang-orang yang tidak siap menerima perbedaan, atau yang merasa posisinya ‘terusik’ dengan pandangan baru tersebut.

Diantara tokoh dan cendekiawan muslim yang berani mengemukakan pandangan berbeda tapi mendalam itu, dan terbukti melampaui zamannya, adalah Imam Ibnu Khaldun yang lebih dikenal sebagai Bapak Sosiologi Islam. Ia memiliki banyak sekali pikiran-pikiran jenius, cerdas dan brilian yang dituangkannya dalam karya fenomenalnya; Al-Muqaddimah.

Diantara pandangannya yang berbeda dengan pandangan para ulama di masanya adalah pandangannya tentang prioritas pendidikan untuk anak. Apa sebenarnya yang mesti diutamakan dalam mendidik anak. Mayoritas ulama di masa itu, begitu juga dengan masa-masa sebelumnya, menegaskan bahwa hal pertama yang mesti diajarkan pada seorang anak adalah istizhar atau menghafalkan al-Quran. Anak-anak di berbagai kuttab (sebuah lembaga pendidikan non formal setingkat SD saat ini) dihafalkan al-Qur’an oleh sang guru dengan cara talqin (anak mengulang dan mengingat apa yang dibaca guru, meski ia tidak bisa membaca dan menulis). Artinya potensi yang sangat dibutuhkan dalam hal ini adalah daya ingat.

Baca Juga: Menghafal vs Memaham Al-Qur’an: (Bukan) Kontradiksi

Sementara itu, Ibnu Khaldun berpandangan bahwa semestinya hal pertama yang mesti diprioritaskan dalam pendidikan anak bukanlah menghafal al-Qur’an yang lebih mengandalkan daya ingat, melainkan sesuatu yang berfokus pada daya paham dan daya pikir. Menurutnya, akal seorang anak mesti disiapkan sejak dini untuk menyerap berbagai ilmu dan pengetahuan. Maka oleh karena itu, prioritas utama dalam pendidikan anak, menurut Ibnu Khaldun, bukanlah menghafal al-Qur’an melainkan ilmu bahasa (dalam hal ini tentunya Bahasa Arab). Karena bahasa adalah alat untuk berpikir. Bahasa adalah media untuk mengantarkan substansi dan hakikat. Sementara tujuan utama dalam pendidikan adalah mendalami substansi dan hakikat. Bagaimana mungkin sebuah hakikat dapat dipahami kalau bahasa yang menjadi medianya tidak dimengerti dengan baik?

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh seorang ilmuwan Perancis; Jean Francois Marmontel. Ia mengatakan: “Semakin banyak kata dan kalimat yang dimengerti oleh seorang anak semakin banyak pula pemikiran dan ide-ide baru masuk ke dalam otaknya.”

Oleh karena itu, Ibnu Khaldun menyesalkan masyarakat di negaranya (Maroko waktu itu) yang membatasi pengajaran untuk anak-anak mereka pada menghafal al-Qur’an saja dan tidak mengkombinasikannya dengan belajar ilmu-ilmu lain seperti bahasa, syair, fikih, hadis dan sebagainya.

Apa yang membuat Ibnu Khaldun lebih memprioritaskan belajar bahasa daripada menghafal al-Qur’an? Bukankah al-Qur’an berbahasa Arab? Bukankah bahasa Arab dalam al-Qur’an merupakan bahasa Arab level tertinggi? Ibnu Khaldun menjelaskan: “Mempelajari al-Qur’an saja tidak akan memunculkan kemampuan dan potensi untuk berbahasa, karena manusia tidak akan mampu untuk membuat kalimat yang serupa dengan kalimat-kalimat al-Quran. Oleh karena itu maka manusia juga tidak akan mampu meniru gaya bahasanya. Pada akhirnya, seseorang tidak akan memiliki kemampuan yang baik dalam berbicara dan lebih cenderung kaku dalam penggunaan kalimat serta tidak leluasa dan fleksibel dalam mengungkapkan sesuatu.”

Tentunya ini pandangan yang berani dan sangat berbeda sama sekali dengan pandangan ulama-ulama di masa itu, bahkan juga ulama-ulama sebelumnya. Ketika mayoritas ulama di masa itu sepakat memprioritaskan materi menghafalkan al-Qur’an daripada yang lain, Ibnu Khaldun justeru berpandangan bahwa yang mesti diprioritaskan adalah materi pengajaran dasar-dasar berbahasa.

Pandangan yang berani dan berbeda ini tentu tidak mungkin berlalu begitu saja tanpa sebuah harga yang mesti dibayar. Beberapa ulama di masa itu dibawah komando Imam Ibnu ‘Arafah al-Maliki menghasut Sultan al-Hafshi, penguasa negeri itu untuk mengusir Ibnu Khaldun dari Maroko.

Sesungguhnya yang menjadi titik perbedaan mendasar antara Ibnu Khaldun dengan ulama-ulama lainnya dalam melihat masalah ini terletak pada prioritas antara potensi hafalan dan potensi pemahaman. Bagi Ibnu Khaldun, yang mesti diprioritaskan adalah pembentukan akal dan pikiran anak sebelum ia menerima berbagai ilmu dan pengetahuan, bukan mengisi otaknya dengan hafalan-hafalan. Oleh karena itu, Ibnu Khaldun mengomentari kecenderungan masyarakat dan para ulama di masanya: “Mereka lebih memberikan perhatian pada hafalan, lebih dari yang semestinya. Akhirnya kemampuan anak-anak untuk belajar dan menggali ilmu tidak teroptimalkan. Memang hafalan mereka lebih banyak dari hafalan anak-anak di daerah lain. Mereka mengira itulah tujuan dari belajar dan cara mendapatkan kemampuan ilmiah, padahal tidak demikian.”

Belajar bahasa yang dimaksud Ibnu Khaldun di sini mencakup bahasa tulisan dan bahasa lisan. Ia berpandangan bahwa kemampuan menulis sangat bermanfaat untuk menambah potensi akal dan menguatkan kemampuan untuk mencerna dan menganalisa. Karena yang menjadi prioritas utama baginya adalah menyiapkan akal yang bersih, terlatih, cepat memahami dan fleksibel dalam belajar. Menulis, menurut Ibnu Khaldun, adalah proses perpindahan dari huruf yang tertulis di buku kepada kata yang terucap dalam khayal. Selanjutnya dari kata yang terucap dalam khayal menjadi makna dan hakikat di dalam jiwa. Begitulah seterusnya. Dengan proses ini akan tumbuhlah potensi untuk menangkap perpindahan dari dalil (argumen) kepada madlul (substansi), dan inilah yang akan membuat seorang anak terbiasa berpikir, menganalisis dan menyingkap sesuatu yang masih tersembunyi, karena ia sudah dibiasakan dengan proses seperti ini dalam menulis.

Di samping menulis, Ibnu Khaldun juga menyarankan untuk memprioritaskan mengajarkan anak berhitung. Hal ini karena berhitung dapat mengasah otak dan menyiapkannya secara baik untuk menerima berbagai ilmu yang lain. Berhitung –atau dalam termonilogi masa itu ilmu hisab- esensinya adalah mempelajari sesuatu yang sudah jelas dan dasar berpikir yang terpola. Dalam istilah Imam al-Ghazali ilmu hisab ini sesuatu yang bersifat jaliy dan badihi (jelas, aksiomatik), seperti 1+1 = 2.

Baca Juga: Begini Tabi’in Menghafal al-Qur’an

Di samping sebagai alat untuk melatih anak berpikir secara benar dan logis, ilmu hisab juga punya sisi moral yang tak dapat dipandang remeh. Ilmu hisab membuat anak terbiasa jujur dan apa adanya.

Kesimpulannya, prioritas pendidikan untuk anak menurut Ibnu Khaldun adalah belajar bahasa (tulisan dan lisan), belajar berhitung (ilmu hisab), baru kemudian dilanjutkan dengan menghafal al-Qur’an. Karena baginya, tujuan dari pendidikan adalah pembentukan potensi ilmiah, dan itu adalah pemahaman, bukan hafalan.

Karena itu, Ibnu Khaldun menulis dengan sedih: “Alangkah lengahnya masyarakat di negeri kami. Mereka bawa anak-anak mereka untuk belajar al-Qur’an sejak dini, tapi anak-anak itu hanya membaca apa yang tidak mereka mengerti.”

(Disarikan dari pengantar Ahmad Khalid terhadap kitab ar-Risalah al-Mufashshalah karya Imam Abul Hasan al-Qabisi)

[YJ]

Yendri Junaidi
Alumni Perguruan Thawalib Padangpanjang dan Al Azhar University, Cairo - Egypt