Prof. Teungku Safwan Idris; Ulama dan Intelektual Aceh yang Arif

Prof. Teungku Safwan Idris; Ulama dan Intelektual Aceh yang Arif
Foto Prof. Teungku Safwan Idris/Dok. Penulis

Prof. Teungku Safwan Idris lahir dari keluarga ulama Aceh, kakek dan ayahnya adalah ulama dan tokoh masyarakat setempat. Walaupun kehidupan mereka sederhana, namun tidak pernah menyurutkan langkahnya untuk terus belajar dan memiliki cita-cita yang tinggi.

Ayahnya adalah Teungku Idris atau Abu Idris Lamnyong yang merupakan murid dan ajudan Abu Haji Hasan Kruengkalee. Adapun dari jalur ibunya Hafsah, Teungku Safwan Idris adalah cucu dari ulama Aceh lainnya yaitu Abu Muhammad Ali Lampisang yang merupakan guru utama dari Teungku Syekh Haji Muda Waly, yang mendirikan Madrasah Khairiah di Labuhan Haji Aceh Selatan. Jadi semenjak kecil Teungku Safwan Idris telah dididik dalam naungan para ulama dan orang-orang yang taat.

Baca Juga: Syekh Nuruddin Al Raniry; Ulama Besar dan Mufti Kerajaan Aceh

Semenjak kecil Teungku Safwan Idris dikenal sebagai pribadi yang mulia, membantu ibunya dan menyiapkan berbagai keperluan rumah sehingga ia sangat disayangi oleh ayah dan ibunya. Bila pagi hari Safwan Idris kecil biasanya mengayuh sepeda dengan jarak 6 km membonceng adik perempuannya Tasnim Idris yang juga adik dari Teungku Jailani Idris untuk sampai ke sekolah. Sedangkan sore hari Teungku Safwan Idris mengaji di Dayah Darul Ulum Lhueng Ie yang dipimpin langsung Abu Usman Fauzi Lhueng Ie, murid Syekh Haji Muda Waly yang dikenal ahli tasawuf dan tarekat.

Sekitar 12 tahun Safwan Idris mondok dan menimba ilmu di Dayah tersebut tentunya menjadi bekal yang cukup baginya dalam bidang agama untuk melanjutkan pendidikan di Barat tepatnya di Universitas Wisconsin Amerika. Dengan kegigihan dan kesungguhan, dalam rentang 3 tahun Teungku Safwan Idris telah berhasil meraih dua gelar masternya dalam bidang kebijakan pendidikan tinggi dan ilmu keperpustakaan, diikuti 2 tahun sesudahnya beliau meraih gelar doktor di Universitas yang sama. Sehingga ketika beliau tiba kembali di Aceh, dalam usia muda Teunku Safwan Idris telah terlibat aktif dalam berbagai lembaga kemasyarakatan seperti: MUI Aceh(sekarang MPU), MUI Pusat, MPD, ICMI, Bazis, dan sebagai panelis tetap pada organisasi Ulama Dayah Inshafuddin Aceh yang digagas oleh Abu Daud Zamzami dengan berbagai sumbangan ide-ide cemerlang.

Adapun dalam ranah akademisi, Safwan Idris pernah menjabat sebagai Rektor UIN Arraniry dan sebelumnya sebagai Rektor Universitas Abulyatama. Dibalik kesuksesannya, Safwan Idris adalah pribadi yang penyayang dan suka memberi bantuan kepada siapapun. Beliau banyak memberi bantuan kepada anak-anak yang membutuhkan, dan mahasiswa-mahasiswa yang perlu bantuan.

Professor Safwan Idris juga seorang pendidik yang sukses, dimana kehadirannya membawa aura positif bagi para peserta didiknya untuk berbenah ke arah yang lebih baik. Banyak goresan penanya tercetak dan tersebar, semuanya mengerucut pada gagasan pemberdayaan ekonomi umat dan kebijakan pendidikan yang lebih maju.

Baca Juga: Syekh Muda Waly: Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh Kontemporer

Banyak yang mengira Professor Teungku Safwan Idris adalah lulusan Timur Tengah karena identik dengan Janggut tebal dan peci yang selalu beliau pakai dan melekat menjadi jati dirinya. Namun Professor Safwan Idris bukan alumni Timur Tengah, tetapi beliau adalah Lulusan Barat yang berhati Timur “Ka’bah”. []Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.  Al Faatihah.

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary
Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama