Professor Teungku Abu Bakar Aceh; Ulama dan Ilmuwan Aceh Kontemporer

Professor Teungku Abu Bakar Aceh; Ulama dan Ilmuwan Aceh Kontemporer
Foto Dok. Penulis

Beliau adalah ilmuan Aceh kontemporer yang lahir pada tahun 1909 di Peureumeu Aceh Barat. Ayahnya adalah seorang ulama yang bernama Teungku Syekh Abdurrahman Peureumeu dan ibunya bernama Teungku Hj Naim yang berasal dari Peulanggahan Banda Aceh. Semenjak kecil, Teungku Abu Bakar Aceh telah dididik dan ditempa dengan dasar-dasar keilmuan Islam oleh ayahnya. Sehingga tidak mengherankan Teungku Abu Bakar tumbuh sebagai anak yang cerdas dan memiliki semangat yang tinggi dalam belajar.

Selain kepada ayahnya, Teungku Abu Bakar Aceh juga sempat berguru kepada beberapa ulama Aceh seperti Teungku Haji Abdussalam Meuraxa dan Tuwanku Raja Keumala. Teungku Haji Abdussalam Meuraxa merupakan ulama Banda Aceh murid dari dua orang ulama besar lulusan Makkah yaitu Teungku Chik Abbas Lambirah dan Teungku Chik Jakfar Lamjabat, yang kedua ulama tersebut anak dari Teungku Chik Muhammad Lambirah, pendiri Dayah besar Lambirah Aceh Besar. Selain guru, Teungku Chik Jakfar Lamjabat adalah mertua dari Teungku Haji Abdussalam Meuraxa. Ulama lainnya yang menjadi guru Teungku Abu Bakar Aceh ialah ulama dan bangsawan Aceh kenamaan Tuwanku Raja Keumala. Tuwanku Raja Keumala merupakan murid dari Syekh Dorab, Teungku Chik Pantee Geulima dan pernah pula belajar beberapa tahun memperdalam keilmuannya di Makkah rentang waktu 1904 sampai 1908, segenerasi dengan Mufti Kerajaan Deli Syekh Hasan Maksum.

Baca Juga: Polemik Tentang Mengaji Sifat 20 Tahun 1340 H/ 1921 M di Nusantara (Sumbangan Dua Karya Ulama Nusantara; Syekh Hasan Maksum Deli dan Syekh Janan Thaib Minangkabau)

Setelah menyelesaikan pendidikan di Aceh, beliau kemudian berangkat ke Sumatera Barat dan belajar di sana beberapa tahun. Kemudian beliau melaksanakan ibadah haji pada tahun 1936 dan sempat belajar dari beberapa ulama Makkah. Melihat kepada tahun kedatangannya ke Makkah, kemungkinan beliau berguru pada para ulama yang masyhur ketika itu Syekh Sayyid Alawy al-Maliki, Syekh Sayyid Amin Kutbi, Syekh Sayyid Hasan Muhammad al-Masyath, Syekh Yasin Padang dan para ulama lainnya.

Karier keilmuan beliau semakin cemerlang semenjak hijrah ke Yogyakarta. Karena penguasaan keilmuan yang mendalam dan ketawadhu’an yang melekat pada sosok Teungku Abu Bakar Aceh, beliau didaulat sebagai sesepuh masyarakat Aceh di Yogyakarta. Disebutkan, banyak pelajar dan mahasiswa asal Aceh yang dibantu oleh beliau.

Karena penguasaan keilmuan yang mendalam dan keahlian dalam berbagai bahasa asing, Teungku Abu Bakar Aceh menguasai beberapa bahasa Asing, serta kelihaiannya dalam menulis, beliau kemudian ditunjuk sebagai kepala penerbitan di Kementerian Agama yang ketika itu Menterinya Kiai Haji A. Wahid Hasyim anak. Bahkan beliau selanjutnya mendapat kepercayaan sebagai staf Ahli Menteri Agama Kiai Haji A. Wahid Hasyim dan pernah ditugaskan sebagai pemimpin rombongan jamaah haji di tahun 1953. Dan karena kedekakatan emosionallah beliau yang ditunjuk untuk menyusun autobiografi Kiai A. Wahid Hasil setelah wafatnya beliau di tahun 1953 dalam sebuah kecelakaan.

Sekitar satu tahun beliau mengumpulkan data dengan mewawancarai orang-orang dekat Kiai A. Wahid Hasyim serta mengumpulkan berbagai dokumen, sehingga tahun berikutnya beliau mulai menulis sebuah buku yang kemudian menjadi magnum oppusnya Teungku Abu Bakar Aceh dengan judul KH. A Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar. Di dalam buku itu nampak kepakaran dan keilmuan yang dimiliki oleh Teungku Abu Bakar Aceh. Sehingga atas pengabdian dan kiprahnya yang besar, beliau kemudian dikukuhkan sebagai Professor dalam bidang ilmu-ilmu keislaman. Adapun nama Aceh yang melekat pada nama Teungku Abu Bakar adalah panggilan kehormatan dari Presiden Soekarno atau Bung Karno kepadanya disebabkan penguasaan keilmuan yang dimiliki oleh Teungku Abu Bakar Aceh dan daya ingat beliau.

Baca Juga: Polemik antara KH. Hasyim Asy’ari Jombang dan Syekh Ahmad Khatib Minang

Selain sebagai ulama dan intelektual, Professor Abu Bakar Aceh juga seorang penulis produktif. Banyak karya tulis beliau yang berbobot ilmiah berat, sehingga menempatkannya setara dengan penulis handal lainnya seperti Professor Hamka dan Professor Hasbi Siddiqie. Karena setiap karya yang beliau tulis merupakan bacaan yang mendalam dari berbagai literatur. Pada akhir usianya Professor Abu Bakar Aceh banyak bergelut dan menulis tentang tasawuf. Beliau merupakan penerjemah Kitab Miftahussudur karya Syekh Ahmad Sahibul Wafa Tajul Arifin yang dikenal dengan Abah Anom Suryalaya Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Setelah berbagai kiprah untuk umat, wafatlah Cendekiawan Aceh terkemuka Professor Abu Bakar Aceh pada tahun 1979.[] Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary
About Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary 70 Articles
Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*