Program Prioritas Pembangunan

Program Prioritas Pembangunan
Ilustrasi Karya S Sudjojono/ Dok. archive.ivaa-online.org

Program Prioritas Pembangunan

            Kota Sukapalai baru saja melantik walikota yang dipilih secara langsung. Mardun namanya, memenangkan 14.513 dari 20.712 suara sah. Mardun sebenarnya baru setahun di kota itu, dan tidak jelas asal usulnya. Dalam setahun itu namanya sudah cukup terkenal berkat kedekatannya dengan orang terkaya di kota yang bergelar Sarjana Ele. Sarjana Ele pula yang membiayai seluruh kebutuhan kampanyenya. Mengapa Mardun yang diusung dan mengapa kemenangan gemilang diraihnya memang cukup mengherankan, bahkan bagi penulis cerpen ini sendiri. Tapi siapa yang bisa menyalahkan takdir dan keberuntungan?

            Mardun yang baru hari itu dilantik langsung membuat sensasi dengan isi pidatonya. Pidato itu bagi telinga awam terasa penuh intimidasi dan keangkuhan. Tapi karena dia bicara di sebelah Sarjana Ele yang juga paling ditakuti seantero kota, tidak ada yang terang-terangan melayangkan keberatan. Bagi yang berminat dengan transkripsi pidato lengkap dapat menghubungi langsung Pak Ali tukang fotokopi di samping Balai Kota (HP 0878-787-87) dan harus bergegas dipesan karena dicetak sangat terbatas sebelum ketahuan pihak keamanan. Tapi intinya ada pada paragraf ketiga:

“Bapak-Ibuk, saya sebagai walikota satu saja pembangunan yang paling penting bagi saya. Yang lain-lainnya itu kurang penting dan akan saya delegasikan semaksimal mungkin pada kepala dinas dan para staf. Program itu adalah membangun sebuah SMA yang bukan saja menghasilkan alumni-alumni berkualitas tapi juga sekaligus yang tidak berkualitas. Mengapa? Karena jika yang berkualitas saja yang dihasilkan tidak akan seru sama sekali, seperti roti hambar yang dicelup dalam air putih dan diminum antara perasaan kantuk dan bosan. Untuk awal ini saya sampaikan, dan saya tekankan lagi, seluruh anak-anak lulusan SMP di kota ini harus ikut seleksi untuk 113 murid perdana! Siapa saja orang tua atau wali yang tidak bersedia anaknya diseleksi akan saya kumpulkan di halaman Balai Kota dan setelah nama orang tua atau wali tersebut dibacakan satu-satu, satu-satu pula akan saya tampar mukanya dengan tangan saya sendiri dalam siaran langsung yang disiarkan televisi dan radio Pemerintah serta disiarkan ulang setiap pukul 7 malam selama dua bulan.”

SMA tersebut fisiknya dan sarana prasarananya sudah ada dan pendidik serta tenaga kependidikan telah dipersiapkan. Tak lain Sarjana Ele yang telah berinvestasi dan mengatur segalanya dalam dua tahun ini. Gedung tersebut sangat megah, lengkap dengan masjid, lapangan bola, kolam renang, lapangan basket, taman luas, kebun binatang mini, gedung praktek serta kandang jawi dan kandang kuda. Namanya bahkan telah dipasang besar-besar: SMA Nuansa Spiritual. Full beasiswa 100 persen.

Setelah konsolidasi sana-sini pembangunan fisik dan non fisik kota selama dua bulan, yang disebutnya program-program bukan prioritas itu dalam pidatonya, antara lain pembangunan 5 jembatan, 100 km pengaspalan jalur sepeda, 1 kebun binatang luas, 2 taman kota di sisi Barat Timur serta 2 kolam renang olimpiade indoor gratis, kenaikan gaji pegawai, penataan administrasi, bantuan rumah ibadah, program 1 kelurahan 1000 sisir, 1 kelurahan 1000 kolor, 1 kelurahan 10 wc umum gratis dan lain-lainnya yang cukup banyak, Mardun pun mulai fokus dengan SMA Nuansa Spiritual. Mengingat tahun pelajaran baru pun dimulai.

Di salah satu warung kecil di sudut kampung kita rekam percakapan beberapa warga masyarakat tentang program Pak Walikota itu:

“Nas, anakmu tamat SMP mau kemana?” tanya satu suara

“Maunya di SMA Negeri 1 yang favorit. Nilainya memungkinkan. Katanya kalau tidak masuk ke sana dia mengancam tidak akan gosok gigi selama setahun,” jawab suara sebelah sana.

“Wah, kamu bisa bahaya itu! Kan kamu tahu Walikota mewajibkan seluruh anak lulusan SMP ikut seleksi SMA Nuansa Spirit Ular? Anakku dan ponakanku empat orang semua akan daftar. Aku tak mau masuk televisi, Nas, dan ditampari di-zoom mukaku dalam siaran langsung yang akan ditonton seluruh keluargaku, tetanggaku, rekan kerjaku ketika mereka duduk-duduk santai di sofa sambil mengunyah-ngunyah popcorn dan keripik kentang pasca makan malam.”

Baca Juga: Lelaki yang Tak Peduli dengan Negara

“Iya, memang itu yang tiap hari ini aku pikirkan. Tapi mau bagaimana lagi. Kamu dengar kan kata-kata orang mau diapakan anak-dengan anak kita di sana? Sarjana Ele, Nton, Sarjana Ele! Dia yang di belakang semua ini! Mantan penjahat dengan bekas 12 bacokan dalam, 8 sayatan tebal plus 34 sayatan kecil di seluruh tubuh! Mau jadi apa anak kita!”

“Iya aku juga dengar di sana anak-anak kita akan disiksa dengan program-program pendidikan terkejam oleh guru-guru tersadis. Dibangunkan sebelum Subuh dengan dipijak-pijak, dibenam-benamkan ke kolam renang, disuruh membuat kerajinan tangan dari tahi kerbau dan tahi kuda, dikasih makan dengan tempurung dengan makanan yang lebih buruk daripada penjara tahanan politik Korea Utara, dipaksa praktek lapangan memulung dan mengemis ke kota-kota tetangga, diisolasi dalam kamar hukuman penuh ular dan kalajengking, panjat tebing tanpa alat pengaman, belajar berjam-jam non stop diselingi hardikan dan tamparan setiap 15 menit, wajib tawuran sekali seminggu sampai babak belur dan pingsan dan lebih buruk lagi: selama tiga tahun keluarga dilarang bertanya apakah anaknya masih hidup atau sudah mati di sana!” jelas satu suara penuh antusias sambil menyodorkan selebaran yang dibelinya dengan harga khusus dari kedai fotokopi Pak Ali.

Terlepas dari persepsi masyarakat, ternyata Walikota memang menunaikan janjinya. Sebanyak 143 orang tua atau wali dikumpulkan di Balai Kota di hari yang sangat cerah. Terlihat wajah sumringah dan senyum bahagia para tukang kamera dan peliput berita.

Bagaimana nasib 1123 lulusan SMP yang lainnya? Mereka dibagi lima kelompok dalam lima hari seleksi di lokasi SMA. Seleksi dilakukan tiga tahap: administrasi, intelektual dan spiritual, fisik dan mental. Tes dilakukan secara tertulis dan praktek. Seluruh biaya makan dan snack ditanggung, bahkan masing-masing diberi uang transportasi sebelum pulang. Namun tidak semua anak SMP tersebut merasa gembira, khususnya yang telah sempat atau sudah telanjur membaca penuh atau sekilas selebaran dari kedai Pak Ali. Untuk hasil siapa yang lulus bisa diakses publik dalam situs www.mampuskau.com terhitung tujuh hari setelah tes.

Setelah terpilih 113 calon siswa, mereka masih punya satu minggu untu mempersiapkan segala sesuatunya. Entah kebetulan atau memang sudah suratan, dari 113 itu ada 112 yang telah mengetahui isi selebaran Pak Ali. Satu-satunya yang tidak tahu yaitu anak Pak Ali itu sendiri.

Macam-macam lah cara dan persiapan sebelum anak-anak kota ini masuk SMA di tahun itu. Yang paling kentara merasa bahagia adalah keluarga dari 1010 lulusan SMP yang tidak lulus SMA Nuansa Spiritual. Mereka tak henti-hentinya bersyukur, ada yang banyak bersedekah, mengadakan jamuan makan, mengundang anak yatim, bantai ayam, kambing, sapi dan kerbau, bahkan ada seorang warga yang sampai membantai tetangga karena saking senangnya. Dan keluarga yang lulus SMA Nuansa Spiritual sebaliknya: ada yang ayah ibu dan saudaranya menangis terus-terusan beberapa malam, ada yang dikunjungi para rekan dan tetangga sekedar menyampaikan turut gundah gulana, menutup diri dari lingkungan sekitar, bertapa ke gua dan masuk rimba, iktikaf penuh di mesjid dan musala, menggubah nyanyi, syair dan elegi bahkan ada yang rumahnya tahlilan tiga hari tiga malam. Namun masih ada untungnya: untung tidak ada yang bunuh diri. Kalau perasaan anak-anak yang lulus itu sendiri sulit diterka karena masih dalam masa pertumbuhan.

Hari yang dinanti telah tiba. Hari peresmian SMA sekaligus hari perdana para siswa baru. Di sudut-sudut kota dipasang pengeras-pengeras suara, mobil-mobil siaran keliling, videotron-videotron outdoor, layar-layar tancap, televisi, wartawan, radio, koran, majalah semua fokus untuk satu acara. Lokasi itu sangat meriah, sangat penuh asesoris, panggung raksasa dan sound system yang luar biasa. Seluruh warga tanpa kecuali diundang. Yang buta datang dituntun, yang patah datang bertongkat, yang sakit tiba dipapah, yang tua berhimpun yang muda berbondong, bahkan sejumlah binatang berkaki empat yang tidak diundang khusus pun merasa penting untuk hadir di sana.

Bergema, berkumandang, bersahut-sahutan, diulang-ulang nyanyian yang menjadi Mars SMA Nuansa Spiritual. Mars yang liriknya ditulis langsung oleh Sarjana Ele. Begini penggalannya: Wahai pemuda SMA Nuansa Spiritual/ Marilah Gembira Menyongsong Ajal/ Sekali Melangkah Pantang Balik Arah/ Tiada Kata untuk Menyerah. 89 persen warga yang hadir merasakan aura gembira dan rasa bahagia, apalagi musik-musik gembira memekakkan telinga, suara bermacam drum, terompet, hentakan-hentakan semangat dan banyak yang berjoget-joget ria, buka-buka baju dan goyang-goyang kepala seperti orang gila. Apabila mereka teringat kembali dan telah merasa 100 % pasti anak ponakan mereka tidak ada yang masuk SMA itu, sungguh rasa lega membawa mereka ke tahap ekstase dan lupa dunia.

Mardun Sang Walikota tampil bicara. Semuanya diam. Sepi. Hening. Pidatonya antara syahdu dan gembira. Tidak ada kata-kata ancaman, gertakan dan kesombongan. Kata-katanya teratur diksi dan tersusun rapi, penuh kedalaman makna. Kalau didengar-dengar lagi di pertengahan suara antara bahana surga dan sendu kuburan. Transkripsi lengkapnya sayang sekali tidak bisa didapat lagi dari kedai fotokopi Pak Ali yang sudah seminggu lebih tidak tahu rimbanya, tapi tentu wartawan dan televisi telah merekamnya sempurna. Intinya antara lain dia merasa bahagia telah terpilih 113 remaja terbaik kota dan hari itu hanyalah permulaan. Masih panjang jalan ke depan. Masih akan sangat banyak cucur keringat, darah dan air mata untuk perjuangan.

*

Singkat cerita tiga tahun pun berlalu. Pesta perpisahan pun tiba. Tiga tahun itu telah ada 339 siswa dan 113 yang akan segera lulus. Mardun sang walikota telah membuat banyak pembangunan di kota walau sebagian besar dilakukan melalui pendelegasian dengan pengawasan rutin setiap hari. Jembatan, jalan, perbaikan aturan dan pelayanan, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan semuanya berjalan sesuai harapan. Masyarakat yang mulanya mengira Mardun walikota buas dan bernafsu liar lama-lama merasa walikotanya ini sebenarnya berhati emas. Hari-hari biasanya Mardun lebih banyak di SMA Nuansa Spiritual, baik siang maupun malam. Dia memiliki rumah khusus di sana. Sarjana Ele juga lebih sering di sana. Kita –yakni pembaca dan penulis cerpen ini–juga tak luput dari heran apa yang istimewanya dengan SMA Nuansa Spiritual? Apakah mungkin seorang pemimpin hanya punya satu saja program prioritas? Tidakkah itu hanya imajinasi belaka dan terlalu mengada-ada? Tidak bisakah sekedar menulis cerpen yang lebih realistis dan masuk akal?

Dalam pesta perpisahan yang tidak seperti pesta peresmian tiga tahun sebelumnya dilakukan dalam ruangan tertutup. Hanya ada para guru, pegawai, walikota, pejabat penting, siswa seluruhnya dan orang tua atau wali dari yang lulus. Setelah sambutan singkat dari Kepala Sekolah yang tidak lain Sarjana Ele, Walikota, perwakilan orang tua, sampailah ke kata-kata perpisahan dari lulusan terbaik, Parman,

“Bapak Walikota, Kepala, para guru, pegawai, orang tua dan teman-teman yang sangat saya cintai. Ini adalah hari terharu dalam hidup saya. Tiga tahun lalu kami hanyalah anak ingusan dan sekarang kami pelajar kehidupan. Sungguh luar biasa SMA Nuansa Spiritual ini. Kami diberi makan minum penuh gizi sepenuhnya dan setiap bulan diberi uang saku yang dimasukkan dalam tabungan untuk masa depan. Ustad-ustad pembina asrama kami tak lelah membangunkan  kami untuk tahajud, menemani belajar, mengantar dan menyuapi makan bila kami sakit di kamar, dengan sabar mendengarkan keluhan dan permasalahan serta mencari solusi dengan penuh kebapakan dan keibuan. Pak Anto, Pak Firman, Buk Ina, Buk Tata, kalian ibu bapak kami di sini.

               Terima kasih kepada Pak Frengki dan Buk Iwa yang tiga kali seminggu melatih kami renang selama dua jam. Kami semua telah bisa gaya dada, gaya bebas, gaya kupu-kupu dan gaya punggung walaupun kami kadang-kadang banyak gaya dan banyak ulah dalam latihan. Kami telah bisa renang jarak panjang dan menahan nafas lebih lama. Pak Fauzul, terima kasih ilmu sastranya. Kami telah bisa mencicipi kualitas syair dan puisi serta menganalisis novel dan cerpen dengan seksama. Pak Abdul, guru bahasa Inggris dan Jerman kami yang  jenius. Pak Andi, guru bahasa Mandarin yang sangat sabar menuntun kami membedakan empat nada dan menulis kanji Cina sampai kami bisa hafal ratusan kosakata berikut urutan penulisan dan pemilahan unsur radikal dan komponennya. Dari mulanya kami tahu sekedar wǒ ài nǐ sekarang sudah biasa ucapkan kalimat-kalimat yang lebih kompleks. Pak Sutan dan Buk Sutan,  guru-guru silat kami yang luar biasa. Dengan latihan rutin tiga kali seminggu membentuk reflek kami dalam pukulan dan tendangan. Kami semua sudah bisa dasar-dasar jadi pendekar, bahkan ada di antara kami ada yang begitu mahir sampai lidahnya pun bisa bersilat-silat. Kami takkan lupa berlatih dengan kerambit, pisau, golok, tongkat dan tombak. Semua akan kami matangkan di masa depan. Ilmu-ilmu matematika, sains, ekonomi, hukum, tata negara dengan guru-guru tamu dan para pakar sungguh begitu berharga. Juga Pak Toni guru otomotif kami yang setia di bengkel, Buk Vina mengajar kami masak-memasak, Pak Gori guru melukis serta Pak Asmi guru seni keramik. Tak lupa Pak Ahmad, Pak Zakir, dan yang lain-lain yang memasakkan makanan kami, mencuci pakaian, menghidangkan makanan. Semua kalian sungguh sangat berarti.

Baca Juga: Pemburu Tidak Menembaki Seisi Hutan

               Terima kasih dan penghargaan sedalam-dalamnya kepada Kepala Sekolah dan donatur kami, Pak Sarjana Ele. Bapak tidak seperti yang kami kira. Kebaikan Bapak luar biasa. Senantiasa bergilir mengunjungi kamar kami untuk menanyakan persoalan, menambah uang saku dan kiriman untuk orang tua. Sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dan terakhir penghargaan setinggi-tingginya kepada pembersih toilet mesjid kami, pencuci karpet dan pengepel lantai yang tak kenal lelah menjalankan tugas sebagai garin dan ahli ibadah yang penuh kata-kata hikmah dan kebijaksanaan: Pak Mardun, walikota Sukapalai berhati mulia.”

***
Novelia Musda
Novelia Musda, SS, MA. Sekarang sebagai staf Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat. Lahir dan besar di Rengat, Riau, 8 November 1982 serta telah tinggal berpindah di Sicincin, Bukittinggi dan Padang. Asal suku Koto Piliang, Nagari Sumanik, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar. Penerjemah mengambil S1 Sastra Arab di IAIN (sekarang UIN) Imam Bonjol Padang (2000-2005) dengan skripsi syair zuhud Al-Ma’arry. S2 dilanjutkan di Universiteit Leiden, Belanda, jurusan Islamic Studies (2008-2010) dengan tesis tentang Tarekat Naqsyabandiyah di abad 19 Minangkabau.