Puisi Asriani: Rindu dalam Sepi dan Si Bandit Kecil Sebatang Kara

Puisi Asriani Rindu dalam Sepi dan Si Bandit Kecil Sebatang Kara
Ilustrasi Dok. https://pedomanbengkulu.com/2018/04/kisah-sang-piatu-dalam-cerita-rakyat-bengkulu/

Puisi Asriani Puisi Asriani

Rindu dalam Sepi

Oleh: Asriani
——————

Kesendirian dalam keheningan
Ditemani gelapnya malam yang pekat
Menghembuskan angin yang memikat
Seakan memeluk dengan erat

Perlahan kurasakan kesejukannya
Yang kian merasuk dalam jiwa
Terasa semakin kuat,
seperti hatiku selalu menggebu rindu

Datang tak tahu waktu
Yang selalu datang tiba-tiba di luar dugaanku
Yang datang tanpa ku minta dan tak kan mudah pergi,
walau sekuat apa aku memaksanya untuk pergi.

Jangan biarkan memori itu kembali
Mengisi hati yang sedang sepi
Kadangkala perlu menyepi menyejukkan hati
Yang kian menggebu untuk memiliki

Menyepi bukan pilihan untuk membenci
Bukan pula untuk berjauh hati
Sekedar mencari keheningan  untuk kedamaian hati


Si Bandit Kecil Sebatang Kara

Oleh: Asriani
——————

Sosok anak kecil yang terlihat di sudut kota
Tubuhnya yang kurus,  beraut wajah kusam,
pakaian compang camping
Entah kemana tujuannya
Seolah pikirannya kosong

Berjalan kesana kemari
Melalui jalan yang penuh debu
Dengan bisingnya berbagai transfortasi di jalan raya
Dan orang-orang berbagai kalangan

Kulihat dari seberang jalan
Ia nampak kelelahan
Berhenti di depan toko
Toko di pinggir jalan

Duduk dan tampak termenung
Dengan cucuran keringat, karena teriknya matahari
Lapar dan haus terlihat dari raut wajahnya
Namun,  tak punya sepeser pun rupiah di kantongnya

Keadaan memaksa dirinya mencuri sebungkus roti
Agar tetap bisa bertahan hidup
Karena perbuatannya, ia dijuluki si bandit kecil pencuri roti
Yang akhirnya membuat dia masuk dalam jeruji besi

Apa dosa anak kecil itu?
Apa harus dihukum karena sebungkus roti?
Yang tak sebanding dengan pengahasilan tuan?
Seharusnya kita memperhatikan orang-orang sepertinya
Tidak untuk menghakiminya

Hidup ini memang tak adil untuknya
Di umur 10 tahun,  ia merasakan pahitnya bertahan hidup sendiri
Tak ada seorang keluarga menemani
Seolah hidupnya seperti ruangan kosong

Baca Juga: Puisi Duka yang Pecah dan Menunggu Seorang Pulang

Baca Juga: Puisi-puisi Nur Anggia Febrina

Asriani
Asriani, kini berusia 21 tahun. Anak ke-3 dari 4 bersaudara. Asal dari kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Sekarang tinggal bersama orang tua di Kotabaru. Kini melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin sejak 2018. Hobinya memasak dan menulis. Dapat disapa melalui Instagram @asriani2_