Puisi-puisi Ardiansyah

Puisi-puisi Ardiansyah
ilustrasi @@bayusyaits Dok. https://unsplash.com/photos/jdYbJrq3Iuk

Puisi-puisi Ardiansyah Puisi-puisi Ardiansyah

Terlambat

Kala itu aku masih sangat lugu
Begitu tabu perihal rindu
Bahkan, aku terlalu sibuk melucu
Tanpa ingat punya urat malu

Kupikir ini kesalahan fatal
Kita belum saling mengenal
Tapi sudah kau buat aku terpintal
Sampai rasaku tak bisa diganjal

Rasanya seperti musim semi
Saat kau pertama kali kupandangi
Semoga saja ini bukan ilusi
Karena, aku benar-benar jatuh hati

Namun pada kenyataannya
Kita tak dapat bersama
Kau telah beranjak
Sebelum aku bertindak

Ardiansyah
Banjarmasin, 24 Juli 2020


Garis Simetris

Sepi menepi menanggapi
Perihal aku yang masih ragu
Menjumpai malam tentram
Padang sayup sayup kuyup

Semua ada di bayangku
Senja yang sedang tertawa
Dersik menyanyi dengan asik
Dan kau, perlahan menyeringai

Ini tentang garis di parasmu
Lengkungan penuh keindahan
Terukir bak pasir pesisir
Selalu menerima ombak berderu

Aku hanya merindu…
Garis simetris yang buatku candu

Ardiansyah
Banjarmasin, 23 Agustus 2020


Betah di Sini

Tempat ini sudah membuatku nyaman
juga sudah mengukir banyak kenangan
tentang suka duka sebuah hubungan
yang sampai saat ini masih bertahan

Tempat ini selalu ingin ku kunjungi
meski hanya untuk menenangkan diri
dari hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari
yang cukup banyak menguras energi

Tempat ini sudah banyak memberi pelajaran
tentang sebuah kepercayaan
tentang sebuah perjuangan
juga tentang sebuah ketulusan

Di mana tempat itu? katamu
kubiarkan kau bertanya-tanya
Tapi, yakinlah!
kamu tahu di mana tempatnya

Ardiansyah
Banjarmasin, 1 Februari 2020


Gurauan Bulan April

Maaf, jika malam ini aku salah
telah membuat atmamu gundah
canda itu tak dapat kucegah
meskipun tak berfaedah

Raut wajahmu mendadak renyut
diiringi laju jantung yang berdenyut
dengan deru napas agak akut
lalu air hujan membawamu hanyut

Aku masih menunggumu di sini
dan berharap kamu mau mengerti
dengan kondisi afiliasi saat ini
yang penuh dengan alibi

Ayolah sayang……
tadi itu hanya kelakar awang
tak mungkin kan rasa mu berkurang?
lalu sedikit demi sedikit menghilang?

Ardiansyah
Banjarmasin, 4 April 2020


Strata

Kita dalam perbatasan
bukan antar wilayah
bukan juga pada jalur
yakni dalam stratum

Dengan gaya primitif
Aku menyanjungmu untuk berkunjung
menikmati rasa yang mungkin sama
mengurai semua menjadi sebuah cerita

Hanya berbekal roda dua
mengundi peruntungan pada semesta
Apa aku layak memboncengmu?
Atau, apa kau mau aku bonceng?

Gesturmu menjawab jelas
mengisyaratkan rona wajah memerah
pertanda ada segumpalan pongah
mencemari hari yang begitu indah

Dengan gaya bertarif
Kau mengusung perasaan linglung
mencabik renjana menjadi lara
mengundang duka bertahta lebih lama

Posisiku di situ rupanya
padang tumpukan amnesia
tak dianggap walau ada
hanya karena beda strata

Lantas, apa aku bodoh?
Jika mengharapkan kita berjodoh?

Ardiansyah
Banjarmasin, 24 Agustus 2020

Baca Juga: Puisi Asriani: Rindu dalam Sepi dan Si Bandit Kecil Sebatang Kara

Baca Juga: Puisi Duka yang Pecah dan Menunggu Seorang Pulang

Ardiansyah
Ardiansyah dilahirkan pada tanggal 19 April tahun 2000. Ia berdomisili di Banjarmasin. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Sekarang menjadi mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sejak SMA, ia menyukai hobi olahraga lari. Mari berteman lewat ig: @ard_btx