Puisi-puisi Mahlil Bunaiya Bagian II

Puisi-puisi Mahlil Bunaiya Bagian II
Ilustrasi/Dok. https://www.gallerytoday.com/

Puisi-puisi Mahlil Bunaiya Bagian II

Mahlil Bunaiya
————————
setelah matahari terbenam
 
hari ini adalah kenangan
yang asing di waktu lusa
mata yang seharian menahan
debar ombak
telah pulang bersama angin
yang berbalik ke hulu
 
hari ini
adalah cinta yang tergadai ke pelipis senja
setangkai bunga mekar di tangan
lengkap dengan duri sekujur badan
 
hari ini adalah rindu yang bersarang dalam ingatan
ketika resah hati menimbang rasa
sungai akan terus mengalir
pada bibir yang tersenyum sayu
 
pada hari ini
kita sepakat menjemput perpisahan
hingga pada waktu lusa
semerdu apapun mengiba
hari ini akan tetap jadi cerita
 
yang di sambung tak kunjung sampai
diurai tak mungkin terulang

2020

Mahlil Bunaiya
————————
sajak sunyi
dari hati yang berisik
 
aku masih di sini kekasih
bercermin pada serpihan kaca itu
merawat bagian kecil kenangan
sembari merayu mata beling
agar jemariku tak kembali luka
oleh duka yang sama
 
masihkah ada?
rindu yang bisa kita ulang
atau luka yang perlu kita obati
 
aku hanya ingin membuatmu
bergelimang tawa
membawamu jauh
ke tempat sajak biasa berteriak
 
atau jika itu terlalu sulit bagimu
izinkan aku menyalin senyummu
dengan ingatan yang terjaga
 
hingga ketika tidak ada lagi
yang hidup pada tubuhku
puisiku akan selalu kekal
bersama sajak penikmat sunyi
dan hati yang selalu berisik

2020

Mahlil Bunaiya

————————
senja yang menyuruk
di pelapah daun tebu
 
kicau burung tiba-tiba berhenti
oleh dialog kakak beradik
 
“bukankah ini sudah petang kak
kenapa senja belum juga datang?”
sabar
sebentar lagi juga datang
biasanya juga jam segini tiap hari
kalau cuaca tidak mendung
lihat saja di pelapah daun tebu
 
kenapa kau tiba-tiba bertanya
tentang senja dik?
“ kakak kan tau bahwa
aku tidak akan tidur nyenyak
jika tidak menghapus penat di wajah beliau”
 
selang beberapa gerutu
dengan nada tergesa-gesa
sebatang tangan menyibak
pelapah daun tebu
 
ye ye ye
sambil memanjat tubuh ayah
adik langsung bertanya
kenapa ayah pulang terlambat?”
 
kata ayah
tebu untuk makan besok
tiada yang tersisik
 
2020  

Mahlil Bunaiya
————————
Cara laki-laki itu
membelah betung

jelas perkerjaan itu sering ia lakoni
tiada bagian yang memberatkan hatinya
 
cukup tiga langkah saja
pertama,
tekuk pada tiap ruas
ginjaikan yang membuat sembilu
tiap tekukan berbanding lurus
dengan bagian yang akan dipisahkan
 
kedua,
setelah semua diketuk
ambil pangkal yang bersiteru
pijak dengan kaki sebelah saja
sebelahnya lagi
angkat dengan kedua tangan
hingga tampak yang ter-injak
dan yang ter-angkat
 
ketiga,
semua langkah lakukan timbal balik
lalu koyak sampai ujung
 
demikian cara membelah betung yang tepat
agar berhasil memecah dan membelah
ruas dan buku yang serumpun
 
lalu laki-laki itu menutup lakunya
dengan berkata:
“tiada baik melukai sesama”
 
2020

Puisi-puisi Mahlil Bunaiya Bagian II Puisi-puisi Mahlil Bunaiya Bagian II

Baca Juga: Puisi-puisi Mahlil Bunaiya Bagian I

Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Mahlil Bunaiya
Mahlil Bunaiya 4 Articles
MAHLIL BUNAIYA, lahir di Batang Silasiah, kabupaten Agam, Sumatra Barat,09 Juni 1995. Sedang Menyelesaikan Studi Magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. mahlilbunaiya@gmail.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*