Puisi-puisi Maulidan Rahman Siregar II

Puisi-puisi Maulidan Rahman Siregar II
Ilustrasi/dok. https://abstrack-ok.blogspot.com/1987/09/abstract-art-images.html

Puisi-puisi Maulidan Rahman Siregar II

KITAB SUCI

ke dalam sukma di malam sendumu
Tuhan sedang bercanda dengan banyak
suaka
serta ayat-ayat yang lucu, ia mengelus ubun-
ubunmu
tubuh sufimu lantas kerdil begitu
takut, kau takut dengan namanya mati?
begadang, kau terus begadang di malam-
malam panjang
dan apa saja yang menuju sukma
remuk bersama seluruh cahaya
di tengah gelap hebat itu kau
mabuk tanpa ampun
seperti sopir yang kehilangan kepala
ya, akhirnya kau selesai juga
di sepanjang doa

2019

STORY TO TELL

seekor kambing melewati mimpimu
dan kau, seperti dikejar waria
 
ingin lepas dari tidurmu
keping demi keping kenangan menyentuh
jantungmu
kau dikepung bom waktu
tepat di balik jantung itu, di wilayah paling
sepimu
 
si kambing menawarkan kembali pertanyan
yang sama,
“kau ingin hilang atau selamanya, kau ingin
isi jantung atau darah belaka”
kau terjengkang dari ranjang mungilmu
susah payah mengumpulkan nafas
dinding dan atap kamar
mulai mengeluarkan aroma
atmosfernya hingga ke dada
 
kau pacu lagi detak jantungmu
dan lagi, kau ingat lagi, seekor kambing yang
melewati mimpimu

2019

Baca Juga: Puisi-puisi Maulidan Rahman Siregar I

TEMPTATION

tomat remuk digiling batu, aku
jagung rebus di mulut ibu, kamu
kita, sungguhlah jauh-jauh berbeda
 
di utara, di atas laju kota
kau menari, setiap hari menari
di atas doa-doa segala insan
yang ingin lekas kaya
 
membenam di selatan
dipijak, selalu dipijak, aku
aku tanah aku batu, aku debu?
iya, debu
elegi tiada henti setiap hari
mengalir, menjadi nyawa setiap lagu
di semedi inilah, kiranya
kuhidupkan lagi jiwa yang pingsan
dan kehilangan agama?
 
dipijak membenam, aku
disuruh patuh
disuruh takut
 
kecamuk, tidak, tidak akan mati aku
meski nyawa lagi-lagi terhisap
di insang kata-kata
menari, aku menari
 
tiada atau di dalam, kamu
menari, aku menari
meski hilang seluruh aku
tenggelam di dalam kamu

2019

BARA

di ruang jauh, di leburnya waktu
doa seteduh empun pagi
menyuruhmu untuk segera pulang
didih, terbakal simpul ruhmu
tangis, kau menangis lagi
tubuhmu dikepung amuk kota
kau bisa apa?
selain mengirim kata peluk-cium-hangat-
sayang
lewat jantung telepon pintar
ya, cuma tangis yang kau punya!

2019

Baca Juga: Puisi-puisi Farid Merah

Share :
Maulidan Rahman Siregar
Maulidan Rahman Siregar 3 Articles
Lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*