Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua I

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua II
Ilustasi/Dok. https://www.airjordan11.com/topic/arabic-famous-painting

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua I

Raudal Tanjung Banua
______________________________________________

Ziarah di Asta Buju’ Panaongan,
Sumenep

Kujumpai ia
Bukan dalam mimpi.

Mimpi yang bukan mimpi
telah menjadi milik seorang istri
nelayan Pasongsongan
Karena ia terbiasa menyimak debur laut
dalam tidur yang sebentar
di malam larut. Dua kali cahaya putih
menyambang, jatuh di pipi
dari langit kesayangan. Pada yang ketiga,
ia yakin sudah jadi petunjuk
bayang-bayang dua bersilang:

“Dekat batang siwalan tua
di belakang rumah, di bawahnya
beddi sengudang—gumuk pasir bunting
mengandung cahaya,
serupa sinar bulan diraup daun
jadi bukan harta karun. Bukan candi rahasia.
Galilah seyakin doa.”

Maka menggalilah Imam Syafe’i,
nelayan berwajah teduh itu
Bersama saudara anak menantu, setiap malam
ada tak ada sinar bulan. Itu lebih baik
daripada siang jadi santapan terik 
matahari, cemohoan dan bisik-bisik 
tetangga dusun.

“Berhari-hari menggali, hingga sepekan
dinihari, tanggal 09-09-1999—mengingatkan kami
pada bilangan wali dan para sunan—sudah dekat ufuk,
mata cangkul kami membentur batu-batu
mewujud ke satu bentuk.”

Batu-batu itu ternyata deretan nisan
yang kini dapat kupandang,
Sembilan nisan utama dari giok putih
kekuning-kuningan, berpagar batu karang
berukir nama-nama yang tak lesap
di pasir, tak larut di uap garam:
Nyai Ummu Nati , Nyai Sarmi
hingga Syekh Al’Arif Abu Said
dan Kyai Al-Hajj Abdul Karim
kueja takzim. Sambil kudengar deru laut
pasang surut di belakang. Begitu pun manusia
sekali hilang nama di bumi. Siapa sangka
muncul kembali, menjulang, di abad kini
di depan teduh pelataran
Seteduh ucapan salam kuncen Syafe’i
bersimpuh, menceritakan ihwal mimpi
dan banyak kejadian sedari tadi.

Aku pun bersimpuh sambil terus menyimak laut
Kupinjam deburnya untuk debar
di dada yang masih saja merasa ringan. Entah kenapa
Padahal telah kusalin desirnya
untuk kubisikkan kepada nisan
yang tegak diam. Dalam pejam yang sebentar
kucari jejak seorang aulia
yang dua kali singgah. Tapi yang kutemukan
telapak tangan sendiri, asin bergaram.

Maka kucecap saja dengan perih lidah
retak suratan tangan
Dan kuangkat dalam keyakinan doa
Seakan telah kutadah laut utara
kuusap ke muka tanpa bunga.

2018

Catatan:
Asta = makam tua dan keramat Asta Buju’
Panaongan = kompleks makam aulia di Pasongsongan, Sumenep, Madura.
Beddi sengudang = sebutan untuk gundukan (gumuk pasir) di Madura

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua I
Asta Buju’ Panaongan, Sumenep
Dok. http://mrozikienqadir.blogspot.com/p/blog-page_17.html

Raudal Tanjung Banua
______________________________________________


Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua I

Di Makam Syekh Abdusamad (1237-1317),
Marabahan

Dalam ketenangan bumi dan langit, angin berhembus
bangkit dari kedalaman paru-paru banua. Meriapi gambut
mengurapi rawa-rawa. Mengertap salam
di atap sirap. “Masuklah!” bisik seorang peziarah
dan dijawab lewat desau lembut
di kasau, celah kaca dan bilah-bilah kayu merbau.

Angin dari jauh, lama mengeram di rawa masam
Menunggu bangkit di hari baik. Dan kini ia datang
Ia cium tengkuluk pada nisan. Ia belai tengkuk
para peziarah dan pejalan yang bersimpuh khusuk
di lantai keramik, memantulkan bayang wajah sendiri
seolah doa yang didaras berbalik pulang
kepada diri. Angin dari jauh,

ia mengerti. Sejauh-jauh pergi
ia pun akan kembali ke sudut sunyi
Marabahan. Sebagai angin yang dibangkitkan
Sekali waktu tengkuluk yang membelit nisan
ia hembus serupa layar pada kapal
Para peziarah yang terpejam dibawanya
tetirah ke ujung jazirah. Maka di gelombang sakal,
saat membuka mata, secebis kain itu
mereka amsal  kain bendera sebuah bangsa
di antara samudera dan benua
sebagian mereka membacanya sebagai peta silsilah:
titik-titik cahaya di bumi Nuswantara.

2018

Catatan:
Syekh Abdusamad atau Syekh Datuk Bakumpai, ulama dari suriyat Syekh Arsyad Al-Banjari yang berdakwah di kalangan orang Dayak Bakumpai di kawasan Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Ia meninggal dan dimakamkan di Marabahan.

Raudal Tanjung Banua
_____________________________________________

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua I

Lagu Lama Sebuah Kota

Lalu menggalu lagu itu
di atas jenjang 40.
“Sakit sebesar biji bayam
Sakit serasa ‘kan membunuh!”

Lalu lumut gelincirkan ingatan
Ke pinggir jurang yang akrabi
kematian.

Kulihat berbendi-bendi orang pergi
diberangkatkan ke pinggir jurang yang sama
Berbendi-bendi orang kembali
membawa rasa kehilangan yang sama
dalam diri.

Seperti amsal kota ini
Dibangun dari menara sekaligus terowongan
bawah tanah
Di mana keindahan dan kecemasan
jadi panorama yang sukar dilukiskan.

“Inikah gerangan derita sakitku, wahai Andam?
Sakit selalu menikam-nikam!”

Tak ada jawaban. Bahkan jam gadang itu berdentang
tanpa pesan rindu-dendam. Hanya langit berarak awan
bagai lukisan keberangkatan, bersiap menggejuju
ke batas jurang ketiadaan.

Saat itu kukira langit teleng atau runtuh
Kiranya awan yang menggejuju
mencipta panorama kegaiban

/Bukittinggi-Yogyakarta, 2003-2007

Baca Juga: Puisi-puisi Harikimra Giyarian

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua 14 Articles
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*