Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua II

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua II
Ilustrasi/Dok. Muslim Saleh / https://indonesian.alibaba.com/product-detail/lembah-anai-painting-103510434.html

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua I

Raudal Tanjung Banua
Lembah Anai

Lembah yang selalu gerimis
membasahkan kedua pipi bukit
yang berdiri berseberangan
dibatasi sebatang sungai nasib
Dan jalan kereta—panjang
bagai akar pohonan keras
timbul-tenggelam menyulam kakinya
Tapi tidak membawanya pergi
bahkan untuk sekedar melambai
atau bersentuhan.

Di sini, kesabaran bagai pipi kiri
Keindahan ialah pipi kanan
Dua wajah kekal kekasih alam
Satu rindu abadi panorama Tuhan.

/Padangpanjang, 2006-200

Raudal Tanjung Banua
Pambusuang, Sebuah Kampung

Baharuddin Lopa

Pambusuang, sebuah kampung  
Aku tak tahu apa yang dipercakapkan orang-orang
di rumah-rumah kayu, di warung-warung kopi
dan tepi jalan. Tapi aku tahu akrab sekali
Menatap kawan bicara
melihat nasib sendiri
di wajah semesta.

Pambusuang, sebuah kampung
dari mana perahu-perahu sandeq dilayarkan
mendepa samudera, tepi benua
meski layar mereka terlipat dalam buku sejarah
diganti pinishi, seribu jung.

Pambusuang, sebuah kampung nelayan 
di tepian Teluk Mandar
di mana sebuah nama terukir
bukan sekadar abjad di pantai.

/Polewali, 2009

Raudal Tanjung Banua
Kabar dari Mandar

kepada D. Zawawi Imron

Alangkah jujur ombak berdebur
Alangkah siaga teluk tak tidur
Gemetar aku
berkabar:

Ada mata kail
di mata pena penyair
mengintai takbir
debar jantung!

/Polewali, 2009

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua I

Raudal Tanjung Banua
Nonton Wayang di Alun-Alun

1.
Bayang-bayang tak melulu hitam
Di kelir membias warna dan tatahan
tangan purba. Diciptanya dunia
: dukana.

2.
Malam memuncak
Ke hening pertempuran

Aku merunduk
dalam bening pertanyaan:
Adakah guna kupeluk
lidah api kefanaan?

4.
Fajar membias di kelir terakhir
Burung-burung langsir
di bumi usiran

Berkata Sang Dalang
Bukan penghabisan,
“Burung yang terbang
Bukan yang pergi
Hanya berangkat, akan kembali!”

/Yogyakarta-Sragen, 2011-2012


Raudal Tanjung Banua
Pulau Sebuku

(Sebuah amsal)

Sekepal tanah kupulaukan
Setitik tinta kulautkan.

Sejengkal jarak kurantaukan
Sekeping papan kulayarkan.

Sekepal nasi kuibukan
Setetek susu kugunungkan.

Selantun dendang kuanginkan
Seayun buaian kupasangkan.

Sekepal pengetahuan kubukukan
Setengah jagad kubukakan.

Sebait derita kupuisikan
Sepatah kata Kau semestakan.

Di jagad ruhku
—negeri sahibul kitab
Berdenyut berabad-abad

Maka berucap,
”Hu!” kata tanah
“Allah!” kata pena

Aku pun terbakar,
bergulingan,
tiada kata-kata.

/Kotabaru, 2011

Baca Juga: Kiai Hansen dan Rockstar

Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Share :
Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua 4 Articles
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*