Puisi-puisi Rina Hilmina

Puisi-puisi Rina Hilmina
Ilustrasi @marcusdallcol/ Dok. https://unsplash.com/photos/r2SloPeEnmY

Puisi-puisi Rina Hilmina Puisi-puisi Rina Hilmina

Kursi Berkasta

Karya: Rina Hilmina
——————————

Pulau yang katanya paru-paru dunia
Kini mengalami bencana
Kelaparan di mana-mana
Bertahan bersama tanpa cahaya

Banjir kali ini memang tak biasa
Airnya tak hanya sampai paha
Tapi juga pelupuk mata
Merendam semua harta benda

Rakyat kini menderita
Karena keserakahan para penguasa
Batubara dikeruk semua tak bersisa
Sedangkan kami hanya menanggung akibatnya

Dulu berjanji di depan semesta
Kini terlupakan oleh kursi berkasta
Menutup mata dan telinga
Seolah-olah tak terjadi apa-apa


Kue Terakhir

Karya: Rina Hilmina
——————————

Malam jumat
Malam yang sakral berselimut heran
Entah mengapa
Badan yang ringkih bagai kayu tua
Menjadi kuat seperti besi

Saat rembulan menunjukkan sinarnya
Tangan mulai beradu dengan gula dan tepung
Menampa dan menggulung hingga tak terhitung

Dimasukkannya ke dalam periuk tua di atas api kecil
Duduk terdiam dalam harap
Menunggu kue untuk dicicipi
Yang telah dibuat sepenuh hati

Waktu berkata kue itu sudah matang
Dihidangkannya dengan wajah yang senang
Sekarang kue itu hanya dapat kukenang
Karena kau telah berpulang


Pergi

Karya: Rina Hilmina
——————————

Katanya kau akan kembali seperti mentari
Nyatanya kau mengingkari
Jika kau lari untuk pergi
Aku hanya bisa berdiam diri

Jangan memberi rasa
Jika kau tak kuasa
Pagi saja memberi tanda jika mau pergi
Tak sepertimu yang menghilang sendiri

Jangan harap kau kembali
Jika hanya ingin menyakiti
Bukan tak ingin membuka hati
Tapi kusadar diri jika kita tak ditakdirkan untuk bersatu kembali


Mentari

Karya: Rina Hilmina
——————————

Mentari
Semua orang merindukanmu
Mengapa kini pelukanmu tak sehangat dulu
Biasanya kau menyapaku dengan sinarmu
Sekarang kau datang hanya sekadar bertamu
Sembari membawa cerita kelabu

Dunia kini sedang membicarakanmu
Mengapa sekarang kau jadi pemalu
Apakah ini balasan atas kesalahan di masalalu

Di mana mentariku yang dulu?
Disaat sedih membawa cahaya
Setelah terluka membawa warna

Mentari
Kehadiranmu sangat ditunggu
Karena tanpamu mungkin kami akan membeku

Baca Juga: Puisi-puisi Murni

Baca Juga: Puisi-puisi Sari Muliani Helda

Rina Hilmina
Perkenalkan nama saya Rina Hilmina, biasa dipanggil Rina. Lahir di Sungai Haji 02 Maret 2001 merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara. Sekarang berkuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat. Hobby Memasak, motto hidup “Jangan mencari yang sempurna tapi sempurnakanlah yang ada ”. Ig: @rinnnh_