Puisi-puisi Siti Qur’ani Merenggut Kembali dan Pembuktian

Puisi-puisi Siti Qur’ani Merenggut Kembali dan Pembuktian
Ilustrasi @Jitet Kustano di ilustrasi cerpen Kamboja di atas Nisan. Dok. https://adoc.pub/pameran-ilustrasi-cerpen.html

Puisi-puisi Siti Qur’ani Merenggut Kembali dan Pembuktian Puisi-puisi Siti Qur’ani Merenggut Kembali dan Pembuktian

Merenggut Kembali

Oleh: Siti Qur’ani
————————

Aku termangu meratapi masa
Dengan riuk yang menggerogoti dada
Melepas jiwa di tengah binasa
Tergeletak….
Lemah tak berdaya….

Aku….
Kutiran si lelaki perkasa
Menantang penguasa yang haus akan nyawa
Namun raga tak lagi bicara
Hingga jiwa menjadi taruhannya

Malam kelabu yang dipenuhi duka
Aku berjalan memacu rasa
Diiringi janji yang menghantui kepala
Membuat sukma semakin meronta
Atas keputusan yang burujung pada sengasara

Ajalku sudah di depan mata
Menunda?
Mungkin itu yang sempat kupinta
Saat diimpit oleh kematian yang didamba

Aku….
Kutiran si lelaki beruntung
Memiliki Rupini sebagai belahan jiwa
Berperangai seorang kesatria
Ketika dunia tak lagi menerima

Malam itu pula, Rupini meradang
Dengan seribu harapan dan keyakinan
Ia rampas peluang di tengah perang
Hingga nyawa penguasa itu meregang

Samudra menggelegar
Bola api perang yang bercerai-berai
Menandakan medan perang telah usai
Dari sengitnya pergolakan perisai

Direnggutnya kembali nyawa untukku
Nyawa yang membuat kami di ambang perpisahan
Dan itu pula yang menguatkan kesetiaan
Lalu…. aku tersadar dalam diam
Aku kembali dengan jiwa dan raga yang utuh
Dan tetap dengan hati yang teguh

*Puisi tersebut terinspirasi dari cerita pendek “Menunda-Nunda Mati” karya Gde Aryantha Soethama (2014). Cerpen tersebut terdapat dalam buku Kumpulan Cerpen Kompas 2014 “Karma Tanah dan Cerita Lainnya“ halaman 224-231. Diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2014.


Baca Juga: Puisi Maulida Irawati; Alam Telah Kronis dan Dinding Putih

Pembuktian

Oleh: Siti Qur’ani
————————-

Berawal dari secercah pengorbanan
Diiringi denyut waktu yang terus berjalan
Meluruhkan pilu, membungkam ejekan
Menggebrakkan penghalang,
dalam rasa ketakutan yang amat mendalam
Merayap dalam kegelapan,
tanpa ada penerangan
Hingga asa pun menjadi kenyataan,
Bahkan…. dalam genggaman,
tanpa ada penghianatan
Karena keyakinan akan berujung pada kepastian….

Baca Juga: Puisi-puisi Ardiansyah

Baca Juga: Puisi Asriani: Rindu dalam Sepi dan Si Bandit Kecil Sebatang Kara

Siti Qur'ani
Siti Qur'ani, atau yang akrab disapa Ani, lahir di Gambut, 1 Mei 2000. Hobi saya adalah menulis. Sejak SD, saya sudah tertarik dengan bahasa dan seni. Saat mengenyam pendidikan di bangku SMK, saya semakin sadar dengan kegemaran saya di bidang menulis. Pada tahun 2018, saya memilih kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat.