Ringkasan Hukum Salat Witir dalam Mazhab Syafi’i

Ringkasan Hukum Salat Witir dalam Mazhab Syafi'i
Ilustrasi Dok. https://br.pinterest.com/pin/629096641696390696/

Minimal rakaat salat witir adalah satu rakaat, maksimalnya adalah 11 rakaat, minimal sempurnanya adalah 3 rakaat. Sedangakan waktu shalat witir, masuk dengan selesainya mengerjakan salat Isya sampai masuknya waktu subuh.

Shalat witir tidak disunatkan berjamaah, kecuali witir Ramadhan maka disunatkan berjamaah. Shalat witir merupakan salat sunat yang paling mulia di antara salat-salat sunat yang tidak disunatkan berjamaah lainnya.

Dan satu rakaat witir lebih baik dibandingkan salat sunat fajar dan tahajud semalaman (Ibnu Hajar), maka sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk tidak melewatkan shalat witir meskipun hanya satu rakaat, apatah lagi menurut Imam Abu Hanifah shalat witir itu wajib hukumnya, berdosa apabila ditinggalkan.

Disunatkan menjadikan witir akhir salat malam yang ia kerjakan

Jika dilaksanakan 3 rakaat, maka disunatkan pada rakaat pertama membaca surat al-A’la, pada rakaat kedua surat al-Kafirun, pada rakaat ketiga surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas.

Baca Juga: Pangkal Perbedaan dalam Jumlah Rakaat Salat Tarawih

Jika dilaksanakan 3 rakaat, maka ada 3 macam cara pelaksanaannya:

1. Dengan 2 salam (dinamakan fashal)
2 .Dengan 1 salam, yaitu melaksanakannya 3 rakaat sekaligus (dinamakan washal), boleh dengan satu tasyahud saja, yaitu di rakaat terakhir, atau
3. dengan 2 tasyahud, seperti melaksanakan salat maghrib.

Cara fashal lebih baik dari washal, dan washal 1 tasyahud lebih baik dari washal 2 tasyahud, karena adanya larangan dari Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam untuk menyerupakan shalat witir dengan maghrib, maka semakin berbeda pelaksanaan witir dengan maghrib maka semakin baik.

Wallahu ta’ala a’la wa a’lam

Khalil Rahman
About Khalil Rahman 18 Articles
Alumni Parabek dan Mahasiswa Pascasarjana Al-Azhar Mesir

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*